
Wiratama berdiri di samping buritan Kapal, pandangannya jauh melihat permukaan air laut yang tenang. Dalam situasi sekarang ini Wiratama teringat dengan pengalaman-pengalamannya dahulu kala saat masih menjadi seorang Senopati.
Ada keharuan di batinnya saat berdiri di tengah-tengah pasukan yang akan memulai pertempuran, Strategi, keberanian dan keahlian pertempuran perseorangan sangat dekat dengan dirinya, sehingga semua peperangan yang telah di lewati meninggalkan kemenangan-kemenangan yang gemilang.
Wiratama menyadari setiap peperangan ataupun pertempuran walaupun meraih kemenangan, tetap akan meninggalkan kesedihan dan air mata.
Perasaan kehilangan adalah salah satu yang membekas di dalam setiap pertempuran di manapun.
Lamunan Wiratama pupus, di saat ada perahu kecil yang menghampiri Kapal yang dia tumpangi, dua sosok bayangan meloncat dan langsung menghampirinya.
"Gusti Senopati! mohon berkenan, kami akan menghadap!"
Tatapan Wiratama berpaling kepada sosok yang baru datang, ternyata mereka adalah Ki Respati dan Candrasih. "Tidak perlu tatakrama seperti itu jika ingin berbicara kepadaku Ki! sudah aku katakan , aku bukanlah seorang Senopati lagi, tidak ada ketentuan jika akan berbicara kepadaku harus mendapatkan izin terlebih dahulu!"
Ki Respati merasa rikuh dengan yang di ucapkan oleh Wiratama, "Maaf Raden, sungguh kami tidak tahu tentang siapa dirimu! kami baru mengetahui sekarang ini dari semua para Prajurit Mataram yang masih membanggakanmu saat ini, kami berdua hanya ingin mengucapkan permohonan maaf atas kekurang ajaran kami pada saat itu!"
"Ha..Ha..Ha, Ki Respati! Candrasih! tidak ada silang sengketa di antara kita, lupakan semua yang telah terjadi, aku pun senang bisa mengenal kalian berdua!"
Candrasih memandang wajah Wiratama dengan mata berbinar, ada kebahagiaan saat dapat berdekatan seperti ini, pertemuan yang sekilas dulu, telah terpatri dalam sanubarinya.
"Duduklah Ki, kita bisa berbincang bersama layaknya sebagai seorang teman, dan akupun telah mengetahui dari yang lain, bahwa kau adalah ayah dari seorang Panglima Muda, tidak layak kau merendahkan diri kepadaku seperti ini! panggil saja namaku Wiratama, dengan tidak memakai gelar atau apapun untuk menyanjung atau memujiku!"
__ADS_1
"Wiratama!...Wiratama!...kau benar-benar seorang Perwira utama. Tutur bahasamu, keahlianmu dan kesaktianmu tidak sebanding dengan kami!" Ki Respati memandang putrinya Candrasih dengan perasaan sedih, sebagai seorang ayah, ia sangat memahami perasaan putrinya kepada Wiratama, sepertinya tidak ada harapan bagi putrinya untuk bisa mengambil hati pria gagah yang berada di depannya.
"Candrasih, bagaimana keadaanmu? Wiratama memandang Candrasih dan menyapanya.
"Aku baik-baik saja Kakang!..Wira!...eh maaf Raden!" Candrasih menjawab dengan gagap, karena rasa bahagianya mendapat perhatian dari Wiratama.
"Panggil saja aku dengan sebutan yang pertama, aku lebih menyukai panggilan itu!" ujar Wiratama sambil tersenyum.
Hati Candrasih berbunga-bunga melihat senyuman Wiratama, "Terimakasih...Kakang!"
Kemudian ke tiganya duduk di buritan Kapal dan saling berbagi cerita, "Kakang, apakah yang telah terjadi kepadamu sampai penampilanmu sekarang berubah?" Candrasih memberanikan diri untuk bertanya.
"Entah apa yang terjadi pada diriku, perubahan ini kurasakan di saat aku bersemedi di atas Batu Mustika Kencana." kemudian Wiratama pun menuturkan semua kejadian yang menimpanya, dari mulai terjatuh ke Lembah Nirbaya sampai kemudian ia berjumpa dengan Ki Gede Baruna dan Resi Bambang Ekalaya.
Dan Resi Bambang Ekalaya pun menjelaskan, semakin dia sering mempergunakan tenaga dalamnya, warna putih di rambutnya akan semakin penuh.
Seperti saat ini, rambut Wiratama semakin memutih keperakan akibat mempergunakan tenaga dalam tinggi saat bertarung dengan Ki Badra dan Nyai Seruni, serta sempat bertukar serangan dengan Moksa Jumena, dan yang terakhir dengan Wirayudha.
Wiratama sendiri tidak perduli dengan perubahan warna rambutnya, malah dia bersyukur karena bisa mempergunakan rambutnya juga sebagai senjata.
Candrasih melihat Wiratama merenung dan sering menarik nafas dalam-dalam, pertanda banyak sekali beban di dalam hatinya.
__ADS_1
Candrasih mencoba untuk menghibur, "Kakang, dengan warna rambutmu yang sekarang kau terlihat semakin tampan!" Wiratamapun tersenyum mendengarnya.
Ki Respati sebenarnya ingin memberikan peluang kepada putrinya untuk dekat dengan Wiratama, tetapi situasi saat ini sangatlah mendesak, karena waktu pemyerangan telah hampir tiba, terpaksa Ki Respati memotong pembicaraan antara putrinya dengan Wiratama.
"Wira, aku minta izin kepadamu untuk ikut ke dalam Regu Pandu Tempur untuk penyerangan pendaratan, apakah engkau mengizinkan?"
Wiratama kemudian berbalik menanyakan tentang permintaan Ki Respati tersebut, "Apa yang menjadi alasanmu Ki?", "Wira, seperti yang kau ketahui, aku pernah tinggal di sana berpuluh tahun yang lalu, seluruh tempat yang berada di sana aku hapal benar, kau memerlukan petunjuk jalan untuk penyerangan tersebut!" Ki Respati mencoba menjelaskan alasannya.
Kemudian Ki Respati menjelaskan dengan detail seluruh situasi yang ada di Pulau Nusakambangan, baik itu tempat-tempat strategis dan jumlah para perompak yang berada di sana beserta perkiraan seberapa kemampuan olah kanuragan dan olah yudha mereka.
"Hmm...Ki! seluruh keteranganmu sangat bermanfaat untuk kita, aku pun setuju jika engkau ikut ke dalam Regu Pandu Tempur untuk melakukan serangan pertama, tetapi perlu kau ketahui, Raden Sangaji tidak mengizinkan kau ikut di garda terdepan!"
Ki Respati kemudian berdiri dan berjalan mondar mandir di sekitar buritan, "Wira, bagaimana saranmu tentang ini?"...
"Seperti tadi yang aku sampaikan aku setuju jika kau iku dengant kami, tetapi dengan kondisimu saat ini keputusan Raden Sangajilah yang paling tepat Ki! bukan karena meragukan pengetahuanmu tentang yang ada di Pulau Nusakambangan, aku meragukan kesiapan fisikmu! kau harus jujur kepada dirimu sendiri, aku dapat merasakan banyak aliran darahmu yang tidak normal dan bertentangan, tubuhmu dalam keadaan luka Ki, kau tidak bisa memaksakan diri!"
Candrasih kemudian menimpali, "Benar romo! kau harus menjaga kesehatanmu, romo harus ingat apa yang telah di katakan Wirayudha saat mencoba mengobatimu!"
Akhirnya Ki Respati terdiam, tidak dapat mengemukakan alasan yang lain yang dapat membuatnya ikut turut serta ke dalam Regu Pandu Tempur bergabung dengan Pasukan Badai.
"Baiklah Wira, aku akan menerima saranmu dan aku pamit kembali ke dalam Kapal kami, berhati-hatilah dalan melaksanakan tugas besok, semoga Tuhan selalu melindungimu Wira!"
__ADS_1
Candrasihpun ikut berdiri dan akan pergi, tatapannya tidak bisa lepas dari wajah Wiratama, Candrasih memaksakan dan memberanikan diri untuk mendekat kemudian memegang tangan Wiratama, Candrasih berbisik pelan, "Kakang, aku akan selalu mendo'a kanmu, berhati-hatilah!..aku berharap kau kembali dengan selamat dan mendapatkan kemenangan!"
"Terimakasih Candrasih, jaga dirimu baik-baik!"....