
Aswangga menarik kembali beberapa serangan yang akan di lancarkan, pandangan matanya memperlihatkan kegusaran, dia melihat Ki Sadewo yang terkapar karena pukulannya.
"Bocah, kau telah memancing amarahku lebih dalam!" Hiaaath....Dheaarh...Dheaarh! lesutan cahaya hitam melesat menuju Wirayudha. Untuk serangan yang kasat mata Wirayudha hanya memandang remeh, tubuhnya di sorongkan menahan serangan tersebut.
"Blash...blash...cahaya hitam itu lenyap ketika mengenai tubuh Wirayudha. "Rasakan ini orang tua....Hiaaath...Blaarh...Blaarh...Bayu Saketi!!!...pukulannya tepat mengenai Aswangga yang sedang berdiri terpana.
Seketika Tubuh Aswangga hancur tercerai berai terkena Bayu Saketi tanpa sempat meneriakan apapun. Pengawal-pengawal Dewi Pramudita yang lain merasa gentar mereka beringsut mundur.
"Anak muda! kemampuanmu patut di perhitungkan! Rogo sukma, Naga Langit dan Tembus Bumi adalah Kanuragan di zamanku, siapa kau sebenarnya?" Dewi Pramudita mulai melangkah mendekati Wirayudha yang masih bersiaga. "Tidak ada yang perlu aku jelaskan kepadamu Nyai Dewi!"
"Hikh...hikh....hikh...Panggilanmu kepadaku membuat diriku tersanjung anak muda! apakah kau berminat untuk menjadi pengawalku?"
Wirayudha tersenyum sinis "tidak Nyai Dewi, setelah apa yang kau lakukan terhadap ayahku, aku ingin berusaha melenyapkanmu!"
"Ah.. ternyata kau putra Kakang Purbaya!" pandangan Dewi Pramudita berubah menjadi amarah dan kesal setelah mengetahui yang ada di hadapannya adalah putra dari Wiratama. Hatinya di liputi kecemburuan setelah mengetahui Wiratama mempunyai seorang putra. "Bersiaplah anak muda!" Brusssh....Dewi Pramudita lenyap masuk ke dalam tanah.
Wirayudha yang melihat Dewi Pramudita lenyap, secepatnya mengikuti masuk ke dalam tanah kembali dengan Aji Tembus Buminya....Brush...!"
__ADS_1
Tidak lama kemudian di atas permukaan tanah semua orang merasakan getaran yang hebat...terdengar dentuman-dentuman yang terjadi, semua merasakan seperti adanya pertarungan di dalam tanah.
Konsentrasi mereka yang berada di halaman kemudian terpecah oleh teriakan dari Aswangga yang telah menyatu kembali "Rawa rontek...!!!...Dengan tubuh yang masih berlumuran bekas darah, Aswangga telah hidup kembali. Kecuali Ki Wanara, semua pengawal Dewi Pramudita merasakan kengerian melihat yang terjadi pada Aswangga.
Tiba-tiba dari jauh, terlihat lesatan anak panah api menuju rumah Dewi Pramudita, menancap atap dan mulai membakarnya. "Seraaaang!... terdengar suara teriakan perintah dari luar, terlihat kelebatan beberapa bayangan yang melompati tembok gerbang depan dan mendarat di depan halaman.
Aswangga yang sebelumnya akan memerintahkan pemadaman api di sekitar atap, terpaksa berhenti dan bersiaga kembali.
"Ternyata kalian yang selama ini menjadi biang keladi semua keributan di Mataram!" Ki Sampang dan beberapa pasukan bayangan mulai menyerang mereka.
Sejak dari tadi Ki Sampang dan Pasukan Bayangan melihat jalannya pertarungan di halaman rumah Dewi Pramudita, mereka menunggu saat yang tepat untuk menyerang, setelah melihat Wirayudha dan Dewi Pramudita terlibat pertarungan di dalam tanah, Ki Sampang memutuskan untuk mulai menyerang mereka.
"Ha...ha..ha..Aku ingin menjajal Rawa rontek milikmu Kisanak! Ki Sampang mulai melesat menyerang Aswangga. Kemudian keduanya terlibat pertarungan sengit.
Jalasena menghampiri Ki Sadewo yang belum pulih benar, "Kisanak aku masih terluka, apakah kau seorang pengecut yang akan memanfaatkan kesempatan kelemahan lawanmu?" Ki Sadewo mencoba mengalihkan konsentrasi Jalasena yang bersiap menyerangnya. Jalasena tidak menyurutkan langkahnya untuk mendekat ke arah Ki Sadewo, "Hmm...apa yang kau lakukan jika kau berada di posisiku? tetap bersikap ksatria?... Jangan mimpi!" Hiaaath....Desh.....Braaakh! tendangan keras bersarang di tubuh Ki Sadewo membuatnya kembali terpental menabrak bongkahan tembok.
Dalam posisi muntah darah dan telungkup, Ki Sadewo merapal kembali ilmu tenungnya, boneka-boneka jerami di keluarkan dari balik baju dan di lanjutkan dengan menancapkan beberapa jarum.
__ADS_1
Apa yang di lakukan Ki Sadewo mempengaruhi kondisi Jalasena dan beberapa Pasukan Bayangan yang sedang melakukan pertempuran, mereka terjatuh dan berguling-guling memegangi dadanya.
Situasi tersebut sangat merugikan beberapa pasukan bayangan yang membuat mereka akhirnya di bantai dengan mudah oleh pengawal-pengawal Dewi Pramudita.
Jalasena berlutut dan bertahan, mencoba mempertahankan diri dari serangan tidak kasat mata dari Ki Sadewo.
Pertarungan Ki Sampang dengan Aswangga semakin seru, Ki Sampang tidak terpengaruh oleh serangan gelap Ki Sadewo karena langsung menggunakan Macan lodaya, beberapa kali Aswangga tumbang, tetapi beberapa kali pula ia bangun kembali karena Aji Rawa ronteknya.
Dari dalam tanah seketika ada suara detuman yang memekakan telinga.."Dhuaaarh...Dhuaaarh....Dua sosok tubuh terlihat meloncat dari dalamnya. Wirayudha yang berdiri kokoh dan Dewi Pramudita yang terkapar di tanah.
"Ki Sampang cepatlah bunuh tukang tenung itu! aku yang akan menghadapi pemilik ilmu iblis ini!" tangan Wirayudha menunjuk ke arah Ki Sadewo sambil dia meloncat ke depan Aswangga.
Melihat peluang itu, Ki Sampang berlari mendekati Ki Sadewo yang sedang duduk bersila dan sibuk dengan boneka-boneka jeraminya. Dengan sekali hentak, tubuh Ki Sadewo di angkat ke atas kemudian di banting ke bawah "Grkkkkh....Bugggh.....!
"Aaaakh...jeritan keras dari Ki Sadewo di abaikan, tubuhnya kemudian di cabik-cabik menjadi potongan daging yang berlumuran darah. Tewasnya Ki Sadewo membuat Jalasena dan beberapa pasukan bayangan yang belum tewas menjadi pulih.
Sementara itu gerakan Wirayudha yang akan menyerang Aswangga di dahului oleh kelebatan Nini Sangga geni yang langsung membelit leher Aswangga dengan tali dan menggantungnya di pohon. "Akan ku buat roh mu menggantung antara langit dan bumi!!!....
__ADS_1
"Hkkkh...kkkh...tubuh Aswangga bergelantungan di atas pohon dengan tidak berdaya. Ki Wanara yang melihat tubuh Aswangga tergantung meloncat untuk meraih dan menurunkannya, tetapi tubuhnya sendiri terhempas oleh pukulan Wirayudha dari samping "Hiaath...Desh..Desh...Brukh....
Ki Wanara terlentang di tanah tidak berdaya, sekejap kemudian "Crash....kelebat pedang dari Jalasena memenggal kepala Ki Wanara membuatnya tewas seketika dengan leher masih menyemburkan darah segar.