
Kondisi Wiratama telah pulih kembali. Terlihat mereka sedang duduk bersila berhadapan. Wiratama telah selesai mengisahkan liku-liku hidupnya. "Kisah hidupmu mengharukan Wira! tetapi tidak bisa di jadikan alasan kau berputus asa, abdikan dirimu untuk kedamaian, susah dan senang akan selalu datang silih berganti, tegarkan dirimu!"
"Mulai hari ini, berlatihlah dengan giat kembali untuk memperdalam olah kanuraganmu! apa yang aku miliki, akan aku berikan kepadamu semua, dan ingat! selama ada di sini, tidurmu di gantikan oleh semedhi di dalam Tirta Wening yang ada di kolam."
Ki Gede Baruna baru saja selesai memberikan wejangannya kepada Wiratama.
Keesokan harinya Wiratama di bawa ke dalam rongga goa, tidak di perkirakan sebelumnya, ternyata goa itu sangat luas, ada sebuah tempat yang berbatu dan cukup cahaya di dalamnya, sangat cocok untuk tempat berlatih.
"Wira, aku ingin melihat semua Kanuragan yang engkau miliki! mulai tangan kosong, kekuatan tenaga dalammu, dan permainan senjatamu!"...."Baik Kyai!" Wiratama kemudian berdiri di tengah- tengah dan mulai memperlihatkan olah kanuragannya.
Gerakan kaki dan tangan Wiratama menimbulkan suara angin yang menderu-deru karena di lapisi Selaksa Gunung dengan tenaga dalam tinggi. Beberapa Aji Kanuragan lain pun di tunjukannya.
Setelah berapa lama memperhatikan gerakan yang di lakukan Wiratama, Ki Gede Baruna meloncat dan langsung menyerang Wiratama.
"Lebih cepat lagi gerakanmu "Ngger!, terlalu lambat kau bergerak!"
__ADS_1
"Jangan kau ragu! serang dengan seluruh kemampuanmu!"
Wiratama menyadari, saat ini yang di hadapinya bukan Kakek tua sembarangan, seluruh Jurus dan Aji yang sebelumnya belum pernah di pergunakan, oleh Wiratama hari ini di pergunakan.
Ki Gede Baruna sambil menangkis seluruh serangan Wiratama, ia masih bisa mengkoreksi gerakan-gerakan Wiratama.
"Seranganmu tidak berlaku untuk lawan yang berkemampuan tinggi Wira! kau hanya mengandalkan penglihatan tubuh, gerakan musuhmu selanjutnya kau belum bisa menerka!..minimal Tiga langkah lawanmu kau harus tahu!"
Wiratama menghentikan serangan, tubuhnya berkeringat deras tanpa dapat menyentuh sedikitpun tubuh Ki Gede Baruna. "Mohon petunjukmu Kyai!"
"He..He..He...kau harus melatih pendengaranmu, desiran angin yang bergerak kau harus bisa merasakannya, apalagi daun jatuh ataupun butiran debu...kau harus bisa mendengarnya. Dengan itu gerakan secepat apapun musuhmu kau bisa menerkanya. Untuk sementara waktu...tutuplah penglihatanmu!" di lemparkannya kain hitam oleh Ki Gede Baruna ke arah Wiratama, mulailah Wiratama berlatih dengan menutup matanya.
Wiratama benar-benar mendapatkan gemblengan yang keras oleh Ki Gede Baruna, tulang-tulang tubuh Wiratama semakin kuat, dan siap untuk mengolah tenaga dalam tingkat tinggi, remdaman Air Tirta Wening mempercepat proses itu. Entah berapa lama waktu yang akan di habiskan oleh Wiratama untuk menyelesaikan latihannya.
Sementara itu di Pulau Nusakambangan terjadi perubahan besar, Sodong, Muara Bakreg, Tanjung Buaya di jadikan daerah pertahanan bagi para perompak-perompak, Perompakan yang di lakukan oleh anggota dari Sepasang Iblis Laut semakin mengganas. Laut selatan semakin mencekam dan tidak mudah di lewati dengan aman.
__ADS_1
Berbanding terbalik dengan situasi laut yang mencekam, daratan terapung Nusakambangan semakin ramai, banyak perekrutan anggota baru yang di jadikan sebagai Perompak oleh Ki Badra dan Nyai Seruni. Pulau Nusakambangan saat ini mirip seperti kerajaan kecil.
Hiruk pikuk Keramaian perayaan setiap malam berkumandang dengan di hiasi suara-suara wanita yang berteriak manja di antara gelak tawa para lelaki, sekarang sudah tidak asing lagi terjadi.
Di dalam lebatnya Hutan Perdu dan Nipah, Ki Respati bersama putrinya Candrasih bersembunyi, karena mereka berdua tahu, resiko apa yang akan di peroleh jika sampai berhadapan dengan kelompok Iblis Laut. "Romo, apa yang harus kita lakukan? apakah kita harus terus menunggu lama di sini, kita harus segera keluar dari pulau ini romo!"
"Sabarlah Candrasih! kita bertindak harus pada waktu yang tepat, romo mengkhawatirkan keselamatanmu!" nanti malam romo akan menyelidiki situasi pulau kita saat ini!"
"Aku ikut romo! siapa tahu aku bisa membantu kesulitanmu romo!"
"Tidak Candrasih! kau belum tahu dengan siapa kita berhadapan, romo hapal betul dengan kekejaman-kekejaman yang di lakukan Ki Badra dan Nyai Seruni saat dulu sebelum di buang ke pulau ini, kali ini kau harus ikuti ucapan romo! kau dengar Candrasih!"
Dengan wajah menyimpan kesal, akhirnya Candrasih mengangguk "Baiklah romo, aku menunggu di sini!"
Ketika malam telah tiba, Ki Respati mulai melakukan penyelidikan, ia mulai mengendap, melompat dari pohon satu ke pohon yang lain, tidak peduli dengan kegelapan malam dan lebatnya daun-daun.
__ADS_1
Candrasih yang sebelumnya telah berjanji menunggu, kemudian ikut meloncat ke arah pohon yang sebelumnya di lalui oleh ayahnya.
Candrasih berharap arah yang di laluinya tepat dengan arah yang di lalui oleh ayahnya, ia tidak menyadari kerimbunan pohon-pohon telah menyesatkan jalannya.