Badai Di Gunung Ciremai

Badai Di Gunung Ciremai
Halimun


__ADS_3

Karena emosi yang meluap, para prajurit pengawal itu lupa bahwa yang mereka hadapi hanya seorang anak-anak, pedang dan tombak bergantian menusuk dan membabat, tetapi yang mereka hadapipun bukan sembarang anak, Wirayudha sudah sangat terlatih, baik fisik maupun batin. Gerakannya lincah saat menghindar, langkah-langkah kaki maupun loncatannya selalu tepat, seolah - olah mengetahui gerakan dan serangan lawan-lawannya. Ranting yang di pergunakan sebagai senjatanya sangat efisien ketika melakukan serangan berupa tusukan ataupun pukulan, Nini Sangga yang melihat jalannya pertempuran di buat kagum oleh Wirayudha. "hmm anak itu pintar sekali, benturan dengan senjata lawan ia hindari, gerakan-gerakannyapun tak terlihat kaku", tapi aku tak mengira akan sifatnya, yang terlihat baik dan dewasa ternyata tega berlaku kejam".


Perkelahian yang tak seimbang itu terus berjalan, malah sekarang lebih ramai. Karena selain memakai senjata ranting, Wirayudha sudah menggunakan tapak geninya. beberapa dari prajurit pengawal itu terjatuh terkena pukulan dari Wirayudha, walaupun tidak membuat mereka tewas tetapi membuat mereka tidak bisa melanjutkan pertarungan karena muntah darah.

__ADS_1


"Mundur semuanya! kalian sangat tidak berguna, menghadapi bocah kemarin sore saja tak mampu". saat suara itu berhenti, sekelebat bayangan hitam muncul melompat dan berdiri di hadapan.Wirayudha. "bocah setan, siapa kau? dan apa maksudmu membuat kekacauan dengan kami?"


Wirayudha berdiri tak bergeming, matanya menatap tajam kepada calon lawannya, tidak ada satu jawabanpun keluar dari mulutnya.

__ADS_1


Nini Sangga geni membelalakan matanya saat melihat Sosok Wirayudha mampu menghilang, "Anak ini penuh kejutan, ternyata ia mampu menguasai ajian Halimunan, padahal aku sendiri telah berpuluh tahun mempelajari, tetap saja tak mampu menguasai. Nini Sangga melompat dari tempat persembunyiannya, ia langsung berdiri mendampingi Wirayudha, "He...he..he Kisanak kau baru melawan muridku saja tak bisa berbuat apapun, menyingkirlah!, jangan mencampuri urusan kami yang ingin membuat perhitungan dengan penghuni yang berada di dalam kereta itu!". Tanpa berpikir panjang, lawan dari Wirayudha itupun bangkit dan berlari kabur karena ia berpikir menghadapi Wirayudha saja kerepotannapalagi bertanding dengan gurunya, sama saja dia menyetorkan nyawa.


Sosok yang berada didalam kereta memang benar Pangeran Adiraja, dari tadi dia telah mendengar semua keributan di luar, tetapi apa daya, ia tak bisa berbuat apapun, ia hanya bisa bertanya di dalam hati, siapa yang berani menyerang para pengawal-pengawal nya. sudah satu pekan ini Pangeran Adiraja telah berkeliling ke daerah-daerah yang menurut kabar ada tabib-tabib yang bisa menyembuhkan kelumpuhannya.

__ADS_1


"Brakh.....dinding kereta kuda jebol oleh tendangan Nini Sangga, "Hik...hik...hik, Adiraja sudah tiba saatnya kau membayar hutang-hutangmu!" , betapa kagetnya Pangeran Adiraja saat melihat Nini Sangga geni, karena saat ini Nini Sangga geni sudah tidak memakai topeng kayu lagi. Entah kaget karena masih mengenali sosok Nini Sangga atau kaget karena hanya ada serangan belaka.


__ADS_2