Badai Di Gunung Ciremai

Badai Di Gunung Ciremai
Kekacauan di Kotaraja


__ADS_3

"Baiklah romo, mulai besok aku akan coba memulai mencari keterangan terlebih dahulu", aku pamit pulang ke rumah", kemudian Anggoro Pati keluar kembali ke kediamannya.

__ADS_1


Pangeran Adiraja masih duduk termenung di pembaringannya, beberapa saat kemudian Somantara menghadap masuk menemuinya, "ada apa lagi Somantara? apakah kau membawa kabar yang baik untukku?", Somantara duduk di bawah, setelah menjura hormat ia kemudian melaporkan situasi keadaan sekitar yang bersangkutan dengan keluarga Pangeran Adiraja, "ampun Gusti, kami melaporkan permasalahan perdagangan yang selama ini kita lakukan, kita mendapatkan permasalahan, hampir separuh dari para petani pelanggan kita yang terbiasa menjual hasil perkebunannya, sekarang menolak untuk menjual ke kita, mereka beralasan harga beli yang kita tawarkan terlalu rendah, dan sekarang mereka beralih menjual ke beberapa juragan yang menawarkan harga yang lebih tinggi" kemarahan Pangeran Adiraja tak tertahankan, "kurang ajar, mereka tak tahu diri! Somantara kau hubungi Ki Sobali, hancurkan kapal-kapal yang mengangkut hasil perkebunan mereka, juragan-juragan itu tak tahu berurusan dengan siapa! cepat laksanakan perintahku Somantara!", "baik Gusti" Somantara beranjak akan pergi.

__ADS_1


"Brakh.....jdher....Pintu kamar Pangeran Adiraja hancur, di tendang seseorang dari balik pintu, "he...he....he,.... Adiraja, kau tak berubah sama sekali,culas dan licik, sosok perempuan tua berdiri menghadang di depan pintu, ia berperawakan kurus dan tinggi, wajahnya menyeramkan, Pangeran Adiraja terkejut dan berteriak, "siapa kauuu? berani sekali kau masuk kamarku!" tapi perempuan itu tak menjawab, tangannya di hentakan ke depan, keluar angin kencang dan keras menerjang tempat tidur Adiraja, Pangeran Adiraja mengelak dari serangan tersebut, dia berguling terjatuh dari tempat tidurnya, sedangkan tempat tidurnya sendiri hancur berkeping-keping, Somantara membantu tuannya, ia mencabut pedang dan segera di tusukan ke arah punggung perempuan itu, tapi dengan gesit tusukan pedang itu di hindari dengan elakan ke samping, di lanjutkan dengan totokan kedua jarinya menotok bagian leher Somantara, desh....Somantara berdiri tegak dengan mulut yang menganga tak bisa bergerak sama sekali, "He...he...he, lalu perempuan itu mulai mendekat ke arah Pangeran Adiraja, di tangannya menggenggem seekor ular yang berwarna hitam berbelang merah, mulut ular itu mendesis, "rasakan bisa ular bumi ini Adiraja! ular itu meluncur ke arah tubuhnya dan mematuk kaki..claph..aaakh....teriakan kesakitan Adiraja sampai terdengar keluar, beberapa prajurit mengepung istana kecil kediamannya, perempuan itu menerobos atap kamar, braakh...atap itu jebol hancur....sambil berdiri di atap genting, tatapannya menyapu segala penjuru, terlihat beratus prajurit sudah mengepung, "Hiaaaattt....tongkatnya di putar - putar, suara seperti guruh keluar dari tongkat tersebut, beberapa jarum-jarum beracun keluar secara membabi buta mengarah ke kerumunan para prajurit yang sedang bersiaga di bawah,....Aaakh....aaakh...teriakan-teriakan prajurit itu bersahutan, mereka yang terkena serangan jarum-jarum beracun itu jatuh dengan mulut mengeluarkan busa, tubuh mereka bergelimpangan tewas keracunan, suara-suara perintah dari para pemimpin prajurit menggema.."Pasukan panah siagaaa, seraaaang!" ratusan anak panah meluncur mengarah perempuan tua itu....berdesing ...sraph...saraph....dengan tongkatnya ia mulai berputar kembali, kali ini membentuk putaran angin puyuh, anak panah itu rontok berjatuhan ke tanah, kemudian ia meloncat ke bawah barisan pasukan berpedang, kakinya menendang, tangan kanannya melabrak barisan-barisan pedang yang mengepungnya, trak...trak....beberapa pedang tertangkis dan patah, ujung tongkatnya menusuk dan membabat, "Hiaaath....mampuslah kalian!" tetapi serangan pasukan berpedang tiada putus, pasukan panah beralih ke atas dan muluncurkan anak-anak panah ke bawah menyerang dirinya.

__ADS_1


__ADS_2