
Di tengah hiruk pikuk para prajurit yang sedang berjuang menghindari serangan dari Kalong-kalong Hitam, di tepi Kotaraja, Anjing-anjing hutan berlari bergerombol, suara mereka bersahut-sahutan.
Gerombolan Anjing hutan masuk ke wilayah penduduk, Anjing-anjing liar itu menyerang siapa saja yang mencoba menghadang.
Di gubuk tempat Wiratama dan Nyai Gendis bersembunyi, Wiratama bersiap berangkat "Nyai, kau tunggulah disini, aku akan menghadapi Pramudita!" Nyai Gendis ikut berdiri "tidak Kangmas, aku harus ikut denganmu!"
Wiratama bergegas keluar, tubuhnya berkelebat dengan Menjangan kabutnya, Nyai Gendis mengikuti di belakang dengan posisi sudah meloloskan pedang kembarnya.
Terlihat pemandangan yang sangat menyolok, dua tua renta yang terlihat rapuh, bergerak dengan cekatan, lompatan kaki mereka tinggi dan jauh, tidak lama kemudian salah seorang menghentakan kakinya ke bawah, melejit menotol atap-atap rumah mendekati arena pertarungan antara Dewi Pramudita dan Wirayudha.
Melihat ada seseorang yang berada di area pertarungan mereka, Dewi Pramudita dan Wirayudha menghentikan serangan.
"Hik...hikh...hik..akhirnya kau datang juga Kakang!" Dewi Pramudita langsung mengenali Wiratama walaupun ia datang dalam rupa penyamaran. Sedangkan Wirayudha waspada dengan sosok kehadiran Wiratama yang di perkirakan musuh yang akan ikut menyerangnya.
"Wira, mundurlah! biarkan romo yang menghadapinya, kemudian Wiratama melepas rupa samarannya, membuat Wirayudha yakin orang yang berada di depannya adalah ayahnya.
__ADS_1
"Pramudita, apa yang telah kau lakukan sudah melebihi batas kemanusiaan!"...
"Kau yang telah membuatku seperti ini Kakang!"
Wiratama tidak memperdulikan kata-kata Dewi Pramudita lagi, ia merapal Aji Macan Lodaya dengan segera. "Graaaaummmh...suara auman dari Wiratama menggaung...dari tujuh penjuru terdengar suara balasan Auman Harimau.
Lengannya di tumbuhi bulu-bulu tebal belang, gigi taringpun kini mencuat, tatapan Wiratama menyeramkan karena kedua matanya kini berubah seperti mata Harimau yang berkilat- kilat.
Pertarungan keduanya bukanlah pertarungan yang pertama kali, kali ini adalah pertarungan yang ketiga kalinya, sehingga mereka langsung mengeluarkan Ilmu Andalan masing-masing.
"Suuuuithhh...Dewi Pramudita memanggil Kalong-kalong hitam yang sedang bertarung dengan ular maupun prajurit, Kalong hitam itu kemudian terbang berputar di atas, bersiaga untuk ikut menyerang Wiratama yang kini sudah berubah wujud menjadi setengah Harimau.
Semua yang berada di sana kini mengalihkan perhatian mereka kepada Wiratama dan Dewi Pramudita yang bersiap untuk melakukan pertarungan.
Dengan waktu yang bersamaan mereka berdua meloncat saling menyerang, "Graaaaummmh....Kraaaaakh...Blarrrh...Blarrh...!!! suara detuman terdengar keras.
__ADS_1
Pertarungan mereka berdua bukan hanya mengadu olah yudha saja, tetapi olah kebatinan mereka pun di pertaruhkan.
Nampak dari serangan keduanya mempunyai tekanan-tekanan tenaga dalam tinggi, menimbulkan hawa udara di sana berubah-rubah menjadi sangat panas dan kadang menjadi sangat dingin.
Anjing-anjing liarpun berusaha berloncatan ke atas, hendak membantu majikan mereka, tetapi sebelum mendekat, mereka di hadang oleh Tujuh ekor Harimau yang siap menerkam.
Kalong-kalong hitam ikut ke dalam kancah pertempuran, memaksa Wiratama meloloskan tombak pendeknya, desingan dari kelebatan tenaga tombak membabat Kalong hitam yang sesekali ikut menyambarnya dari atas..Wuuush....craakh...craakh....beberapa Kalong hitam terpental oleh sabitan Tombak, tubuh mereka tercingcang jatuh ke bawah.
Nini Sangga geni mendesis, luapan amarah muncul melihat sambaran Kalong Hitam di atas, tubuhnya mencelat ke atas memapas sambaran sayap-sayap, ia pun terlihat beberapa kali melempar Ular-ular berbisa ke atas yang selanjutnya melilit dan bergelung ke tiap Kalong-kalong itu.
Suatu ketika Tombak Wiratama meluncur menderu ke arah Dewi Pramudita,...Wwwugh...Wuuugh...Brusssh...tepat mengenai posisi jantung Dewi Pramudita, tusukan itu tidak membuat Dewi Pramudita tumbang...tombak itu tembus ke belakang tubuhnya.
"Hiikh...hikh..hiiikh...hikh! suara ejekan terdengar, tangan kanannya mengayun dan menghantam tubuh Wiratama, "Wuuushh...Duarrh....tubuh Wiratama terlempar jatuh ke bawah berguling-guling di atap rumah-rumah penduduk.
Wirayudha melompat berusaha meraih tubuh ayahnya, dan kemudian berjumpalitan di atas permukaan tanah, di ikuti kelebatan tubuh Dewi Pramudita yang berusaha mengejar.
__ADS_1
Tubuh Wiratama yang sekarang berdiri limbung, di kelilingi oleh beberapa ekor Harimau yang terlihat melindunginya, Harimau yang paling besar ukurannya mendekati Wiratama dan menjilati lengan dan kaki Wiratama. Jilatan dari Lodaya memberikan hawa murni kepada tubuhnya. terlihat ada lelehan darah keluar dari mulut Wiratama. "Romo, izinkan aku menghadapinya!" Wiratama menggelengkan kepalanya "Tidak Wira, masalah ini harus aku yang menyelesaikan, agar ia tidak berniatan untuk meloloskan diri!"
"Tidak Kakang! kali ini aku tidak akan lari!... kepandaianku telah sempurna kembali,."