Badai Di Gunung Ciremai

Badai Di Gunung Ciremai
Penyamaran


__ADS_3

Putri Retno Ningsih yang lari dari Keputren kini berjalan tidak tentu arah. Karena menyadari akan bahaya berada di luar, akhirnya memakai penyamaran untuk menghindari bahaya yang akan datang.


Penyamaran yang di lakukan oleh Putri Retno Ningsih sangatlah unik, dalam perjalanannya ia menyamar menjadi seorang nenek tua ahli Nujum, karena kepandaiannya dalam berbicara, dapat membaca karakter dari wajah seseorang dan sedikit tipu daya, di setiap daerah yang ia lewati selalu saja menjadi terkenal. Nini Sampur itulah nama yang di pakai oleh Putri Retno dalam penyamarannya.


Nini Sampur mencari beberapa informasi yang belum dapat di perolehnya, seperti di mana tempat tinggal Nini Sangga geni dan Wirayudha, ataupun di mana kini Wiratama berada. Akhirnya ia pun masuk dalam pengembaraan yang masih tersamar.


Di dukuh Srandakan, gubug yang sederhana tempat sementara dari Nini Sampur, kedatangan seorang tamu pria separuh baya dan beberapa pengawalnya, sepertinya seorang bangsawan atau kalau tidak seorang Juragan.


"Nini Sampur langsung duduk menjeplok di lantai menyambutnya "Selamat datang tuan! apa yang telah membuatmu datang kembali?"


"Nini, aku hanya mengantarkan hadiah untukmu, ternyata benar...sakit yang di derita putraku karena jatuh cinta kepada seorang wanita, hanya dia takut kepadaku khawatir aku tidak menyetujuinya!" beruntung engkau memberitahuku sehingga aku dapat menyatukan mereka berdua, dan membuat putraku sembuh dari penyakitnya.


Sepekan yang lalu Pria itu membawa putranya yang telah sakit dan tidak bisa di sembuhkan oleh tabib manapun, tetapi karena kepiawaian Nini Sampur membaca ekspresi wajah, Nini Sampur mengetahui itu adalah penyakit cinta dan dengan sedikit petuah, orang tuanya sadar dan menyetujui keinginan putranya.


"Hik...hik..hik..Tuan! aku ikut bergembira mendengar putramu sembuh dari penyakit yang di deritanya, terimakasih atas semua hadiah yang kau berikan.

__ADS_1


Keahlian Nujum Nini Sampur membuat banyak orang yang datang berkunjung, baru separuh nafas jalan saat rombongan yang pertama pulang, sepasang muda mudi menemuinya. Tetapi tidak dengan sopan salah satunya langsung masuk.


"Brakkkh...pintu terbuka dengan dorongan yang kuat, "Kaukah yang bernama Nini Sampur?" seorang wanita dengan bertolak pinggang langsung menemuinya.


Pria yang berada di belakangnya berusaha mencegah "Nimas, bersabarlah...apakah tidak ada cara lain untuk menemui seseorang? kenapa harus seperti ini?"


"Dengan suara yang ketus ia pun menjawab " sudahlah Kangmas, kita hanya sekedar menghadapi tua renta kenapa harus memakai unggah ungguh segala!"


Nini Sampur dengan suara yang lembut menengahi keributan mereka "Nisanak ada perlu apakah kau mencari aku?"


Nini Sampur tidak langsung menjawab, ia mengamati ekspresi wajah kedua sejoli itu, terlihat wajah si wanita bersemangat dan berapi-api, tetapi binar di matanya terlihat cinta yang tinggi terhadap pria yang mendampinginya, saat Nini Sampur melihat ekspresi pasangan pria nya, kebalikan dari wanita tersebut, cahaya matanya redup, senyumnya di paksakan dan dalam suasana penuh tekanan.


Nini Sampur balik bertanya "jawaban apa yang kau inginkan Nisanak? apakah jawaban yang menyenangkan hatimu? ataukah jawaban yang jujur dariku?"


"Hei orang tua, apa maksud pertanyaanmu?" wajah wanita itu langsung merah padam dan terlihat tidak senang. "Sabar Nimas, kita dengarkan dulu penjelasan Nini Sampur, bukankah kita kesini untuk minta keterangan darinya?" ucapan pria tersebut membuat wanita itu menjadi terdiam.

__ADS_1


"Nini, aku minta keterangan yang jujur darimu?" binar mata dari pria tersebut terlihat penuh harap kepada Nini Sampur.


"Anak muda, apakah engkau benar-benar berharap akan kejujuranku?"


"Benar Nini, katakanlah! aku menunggu hasil ramalanmu!"


"Anak muda, jodohmu dengannya tidak akan lama, kau terlalu baik untuknya, aku tahu hatimu tidak sepenuhnya untuk dia!" Telunjuk Nini Sampur menunjuk kekasihnya.


"*******! apa yang barusan kau katakan orang tua? Hiaaath....desh...desh..wanita itu langsung menyerang Nini Sampur, tetapi serangannya dapat di patahkan oleh pasangannya.


Nini Sampur melihat pemandangan di depannya masih dengan tertawa "Hik...hik.hik..Nisanak, jika engkau masih menginginkan menjadi kekasihnya rubahlah sikapmu, jika tidak! kau akan kehilangan dia selama-lamanya!"


Wanita itu tertegun dengan kata-kata Nini Sampur, kemudian pandangannya beralih kepada kekasihnya.


Pemuda itu balas menatapnya dan mengangguk "apa yang di katakan Nini Sampur sangat benar Nimas, hanya aku tidak berani mengatakan terus terang kepadamu!"

__ADS_1


__ADS_2