Badai Di Gunung Ciremai

Badai Di Gunung Ciremai
Tangisan di Malam Hari


__ADS_3

Sampai larut malam Nini Sangga Geni duduk di samping Saraswati yang sedang terluka, ia menyeka peluh yang menetes di dahinya. Banyak tenaga dalam yang sudah di salurkan ke tubuh Saraswati, menjelang malam tadi kesadarannya hilang kembali, karena selain keracunan, tubuh Saraswati banyak kehilangan darah. Nini Sangga geni merenung, menyesali tindakan Saraswati yang mengikutinya, ada beban perasaan bersalah di hatinya, "Apa lagi yang harus kulakukan? racun ini begitu keras, aku hanya mempunyai waktu tiga hari untuk mencari pemunahnya". Nini Sangga geni bergumam dalam hatinya.

__ADS_1


Sementara itu, di kediaman Pangeran Adiraja, Anggoro Pati sedang menunggu ayahnya yang sedang berusaha di obati oleh para Tabib, pangeran Adiraja masih belum tersadarkan diri, tubuhnya menghitam akibat bisa ular bumi. "bagaimana keadaan ayahku KI Gondo, apakah beliau ada harapan untuk sembuh?" Ki Gondo seorang Tabib berpengalaman, tetapi kali ini dia hanya bisa mengelengkan kepalanya, "Raden, terus terang aku belum pernah menemukan kasus seperti ini, bisa ular ini sangat aneh, tidak sama dengan bisa-bisa ular yang lainnya, tidak menyerang jantung, tetapi fokus hanya menyerang ke pembuluh darah yang menuju otak", Anggoro Pati kemudian duduk di samping tempat tidur ayahnya, kesimpulannya bagaimana Ki?", "Raden, aku kira ayahmu tidak akan sampai meninggal, tetapi kemungkinan besar beliau akan mengalami kelumpuhan total selama hidupnya", Anggoro Pati hanya terdiam menatap ayahnya yang sedang terbaring.

__ADS_1


Di tepi Hutan tempuran Nini Sangga yang sedang menyandar di pepohonan terbangun, karena mendengar suara batuk dari Saraswati, "ugkh....ugkh....Nini....nini!" panggilan itu terdengar sangat lemah, Nini Sangga mendekat, kemudian meletakan kepala Saraswati di pangkuannya, "ya...anakku...aku berada disini menunggumu!". Dalam kondisi yang lemah, Saraswati memandangi Nini Sangga, "Nini, janganlah kau bersedih, semua manusia menjalani jalan hidupnya sesuai takdir yang di tentukan Ilahi, jangan pula kau merasa bersalah, semua yang terjadi adalah kehendak Nya" nafas Saraswati mulai tersengal - sengal, "Nini aku hanya berharap padamu, pertemukanlah putraku dengan ayahnya! sampaikan pula pada Kakang Wiratama kebahagiaanku selama ini adalah saat - saat mendampinginya" air mata menetes dari pelupuk mata Saraswati, Nini Sangga tak bisa menahan kesedihan hatinya, "anakku bertahanlah! semuanya akan baik seperti sedia kala". berlinang air mata Nini Sangga saat mengatakan itu. tangannya membelai kepala Saraswati, Kedua mata Saraswati terpejam, ada sedikit darah yang meleleh di bibirnya, "Hukh....hu...Saraswati.... maafkan aku!" tangis Nini Sangga tak terbendung lagi, dengan erat di peluknya tubuh Saraswati, dan di dekapnya, Saraswati telah tiada.

__ADS_1


Dengan tatapan yang sendu Eyang Padasukma akhirnya berkata "Pandanwangi, aku tak pernah melupakan wajahmu!" hanya kata - kata itu yang keluar dari mulut Eyang Padasukma. "Dari dulu kau selalu menjaga sikapmu padaku Kakang, karena itulah aku selalu merasa jauh darimu". Nini Sangga geni menutup wajahnya kembali dengan topeng kulit halusnya.

__ADS_1


__ADS_2