Badai Di Gunung Ciremai

Badai Di Gunung Ciremai
Kabut Hitam Nusakambangan VI


__ADS_3

Wirayudha kembali ke Kapal yang membawa rombongannya, rasa lelah menghiasi wajahnya, para prajurit menyambut dengan penuh kekaguman, mereka melihat sendiri pertarungan Wirayudha dengan Songgo Langit seperti pertarungan di negeri dongeng.


Ki Bondan Wiratama memeluk cucunya dengan rasa bangga dan terharu "Kau benar-benar Ksatria pilih tanding Wira! " Terimakasih Eyang, pertarungan tadi sangat melelahkanku!"


Ki Pandawa dan yang lainnya pun memeluk Wirayudha. Setelah semua memberikan ucapan selamat, kemudian Wirayudha mendekati Nini Sangga Geni yang duduk di buritan, "Nini, kenapa kau tidak seperti yang lain memberi ucapan selamat kepadaku?"


Nini Sangga Geni menatap Wirayudha dalam-dalam, "Kau sangat tahu, betapa aku sangat menyayangimu Wira! melihat pertarungan tadi serasa tubuhku lemah tak bertulang, andai kau tadi terluka mungkin akulah yang pertama kali menjerit merasakan sakitmu!"


"Akh..Nini, terimakasih kau begitu sangat memperdulikanku!".. Nini Sangga Geni meluapkan rasa sedih dan bahagianya dengan memeluk Wirayudha erat-erat, kemudian mereka duduk berdampingan di palang kayu buritan kapal.


Sementara itu Ki Sampang dan Nyai Ambarukmo masih duduk menyandar di tiang layar, "Kakang, apakah kau masih merasakan sakit?", "Tidak Nyai, rasa sakitku hilang saat berdekatan denganmu! aku rela menanggung rasa sakit yang tak terperi asalkan dekat denganmu Nyai!"


Nyai Ambarukmo tersenyum mesra, "Andaikan harimau-harimau seisi hutan mendengarkan kata-kata mesramu kepadaku, langit akan robek oleh teriakan tertawa mereka Kakang!"


"Eh..Kenapa Nyai? apakah aku tidak pantas mengucapkan itu?"


"Hik..Hik..Hik...Tidak Kakang! kau terlihat lucu saat mengatakan rayuan tadi, Tubagus Wiraguna Tokoh sakti dari tanah Banten yang terkenal kejam seantero tatar sunda! ternyata bisa mengatakan kata-kata mesra yang bisa menjungkir balikan Gunung Sumbing!"...


Senyuman lebar terlihat dari Ki Sampang, mendekatlah kepadaku Nyai! kapan lagi kita bisa berdekatan seperti saat ini!"


"Nyai Ambarukmo menyandarkan kepalanya di bahu Tubagus Wiraguna sambil hatinya khawatir, takut suara tanpa wujud memisahkan mereka kembali.

__ADS_1


Angin laut berhembus ke arah prajurit-prajurit yang duduk di geladak Kapal, membuat suasana kantuk menyerang mereka, Kapalpun melaju dengan perlahan menuju perairan Cilacap.


** Segara Anakan **


Moksa Jumena berdiri di atas sumur tua yang terlihat gelap, di sampingnya Rakyan dan Ki Badra membawa tali yang besar dan kuat.


"Hulubalang Keling! detak jantungmu masih aku dengar! apakah kau bersedia kami bebaskan?" kata-kata Moksa Jumena terdengar memenuhi lorong-lorong sumur tua yang berada di bawahnya.


Setelah lama menunggu jawaban, Moksa Jumena mengulangi beberapa kali pertanyaannya.


Separuh waktu telah terlewati membuat ke tiganya hampir putus asa dan berniat kembali ke Goa Ratu. Di saat ketiganya hendak melangkah pergi, sayup-sayup terdengar suara lemah dari dalam sumur tua Segara Anakan, "Siapa kalian yang mengganggu waktuku, apakah kalian ingin memastikan jika aku masih hidup?"


Terdengar kembali suara dari dalam sumur tua itu, "Hmm...Moksa Jumena?...Moksa Jumena?...aku hampir lupa dengan semua nama yang ada di kepalaku! apa maksudmu membangunkanku?"


"Hulubalang Keling, aku akan berusaha membebaskanmu, apa yang harus aku lakukan?"


"Moksa Jumena, aku berada di dasar sumur, terikat Rantai Pengikat Raga, pembuka rantai ini harus dengan memakai daun sirih hitam yang mempunyai tulang daun dengan arah terbalik, apakah kalian mempunyai pusaka itu?"


"Aku mempunyainya, Hulubalang Keling!..wajag Moksa Jumena semakin berseri-seri.


"Baiklah Moksa Jumena, turunlah ke dalam dasar sumur, aku akan memberi tahu semua jebakan yang terpasang! hindari memakai tali-tali, karena semua gerakan sekecil apapun akan mengaktifkan semua jebakan yang ada!"

__ADS_1


Moksa Jumena kemudian turun tanpa dengan bantuan tali, tubuhnya melayang dengan mempergunakan ilmu meringankan tubuh.


"Perhatikan Moksa Jumena, air yang menggenang di dasar, harus kau hilangkan terlebih dahulu! gunakan ilmu menyerap air dengan perlahan tanpa menimbulkan riak di dalamnya, jika ada riak air sedikit saja, air akan bercampur dengan bisa ular cobra yang akan pecah di dalam gelembung udara di dalamnya!", jika kau gagal, bukan hanya kau yang akan mati, akupun yang berada di bawah akan mati terkena racun bisa ular!"


Dalam posisi melayang di lorong sumur, Moksa Jumena memejamkan mata dan menyedekapkan kedua tangannya di depan dada, "Srrrrh....sedikit-sedikit air yang berada di genangan, berubah menjadi gelembung-gelembung yang naik ke atas, semakin lama genangan itu menjadi kering, terlihat dasar sumur yang terbuat dari besi baja yang tebal dan berkarat.


Terdengar kembali suara Hulubalang Keling yang memberikan arahan kepada Moksa Jumena. "Moksa Jumena, sekarang luncurkan daun sirih itu menembus lapisan dinding baja penyekat, keluarlah! aku akan menghancurkan Rantai Pengikat Raga dan penyekat besi ini dari bawah!"


Dengan cepat Moksa Jumena melemparkan daun sirih hitam menembus lapisan dinding penyekat dan kembali melayang keluar dari dalam sumur tua, dan bersama Rakyan dan Ki Badra segera mengambil jarak yang jauh.


"Blaaaarh....Blaaarh...Blaaarh!"


Terdengar suara ledakan yang keras dari dalam sumur tua, pecahan-pecahan besi baja yang berkarat membuncah keluar berserakan.


"Hiaaaath...Blarh...Blaaarh..!...Sosok tubuh yang berparas hitam legam yang dulu terkenal dengan sebutan nama Hulubalang Keling, keluar bersama dengan suara bunyi ledakan.


Perawakannya gempal, kedua matanya menjorok ke dalam dan terpejam, dari celah bibirnya yang hitam terlihat potongan bambu hitam kecil yang selama ini membantunya untuk benafas dari dasar sumur.


Setelah kedua kakinya mendarat di permukaan tanah "Phuuuh!.... bambu kecil di ludahkannya, "Heaaaah......mulutnya mengambil udara dalam-dalam.


Perlahan-lahan kedua matanya membuka, "Hemm...sinar matahari ini ternyata masih hangat seperti dulu!"

__ADS_1


__ADS_2