
Wiratama sejauh ini tidak menemukan keberadaan Arya Permana, akhirnya terkonsentrasi kepada pertarungan antara Ki Sampang dan Aswangga. Terlihat keduanya masih sama-sama tangguh.
Ki Sampang telah mendaratkan beberapa pukulan yang sangat keras, tetapi ia merasa heran karena Aswangga seperti tidak merasakan apa-apa. Kembali ia mempercepat serangannya, kedua tangannya mencengkeram ke arah leher, tetapi dengan gesit Aswangga mengelak dengan memundurkan tubuhnya ke belakang dan balik melakukan tendangan ke arah dada Ki sampang, "Hiaaath....desh...desh, tendangan itu di tangkis oleh pergelangan tangan Ki Sampang di lanjutkan dengan meloncat ke belakang, untuk mempersingkat waktu Ki Sampang akhirnya berteriak mengeluarkan Aji Macan Lodaya, "graaaaumh....hiaath, tangan-tangannya yang kini mulai di tumbuhi dengan bulu-bulu belang melakukan tebasan-tebasan dengan kuku-kukunya yang kini setajam pedang, "crash...carsh, "arrgkhh...kedua lengan Aswangga yang terkena tebasan, putus dan mengucurkan darah, tetapi saat darahnya menetes ke tanah, dengan cepat lengan-lengan yang terjatuh ke tanah meloncat dan menempel kembali.
"Ha...ha...ha, keluarkan seluruh kepandaianmu Kisanak!", terlihat Aswangga bertolak pinggang. Ki Sampang menggerung keras "grrrh.....petanda dia dalam keadaan gusar "grrrh...kembali ia menerkam dan membabat tubuh Aswangga, tubuh Aswangga terpotong-potong menjadi beberapa bagian, tetapi tak lama kemudian tubuh itu menyatu kembali, kini Aswangga yang mulai menyerang.
Wiratama dan Ki Seno Keling memandangi pertarungan itu dengan perasaan was-was, "Ki, ini ilmu sesat yang sudah lama punah!", aku kira sudah tidak ada lagi yang memiliki Rawa rontek ini Ki!" Ki Seno Keling menjawab dengan penuh keheranan, "akupun mengira begitu raden!"...
"Ki Seno, perintahkan seluruhnya untuk kembali!", aku tidak ingin banyak jatuh korban, yang kita inginkan hanya Arya Permana, tidak yang lainnya, akhirnya Ki Seno Keling memanggil Alap-alapnya untuk memberikan tanda kepada seluruh pasukan untuk pergi secepatnya. " Kraagk....kragkkk...burung Alap-alap itu terbang berputar-putar memberikan tanda kepada seluruh pasukan untuk mengundurkan diri.
__ADS_1
Ki Sampang yang sedang bertarungpun melihat tanda tersebut, ia dengan cepat memberikan serangan, ke tujuh bayangan Harimau yang tadi membantu pertarungan, mencabik-cabik tubuh Aswangga, saat tubuh Aswangga tercerai berai, dengan perasaan tidak puas Ki Sampang berkelebat melarikan diri.
"Ki Seno, perintahkan Alap-alapmu untuk mencari jejak Arya Permana!", "baik raden!, "Kraaagkh....kruugkhhh....suara Ki Seno menggema memerintahkan Alap-alapnya.
Di punggung Gunung Kemukus, Arya Permana dan Rangkayu terus berlari menuju puncak, mereka masuk dalam rimbunnya pepohonan yang banyak tumbuh di sekitarnya, mereka sengaja berlari melewati jalan yang tidak pernah di lalui satu manusiapun, dengan maksud menghilangkan jejak.
Dalam kegelapan mereka menerobos semak belukar, Rangkayu berusaha terus mendaki, sedangkan Arya Permana karena memang fisiknya tidak terjaga dan lemah, sesekali berhenti, Suatu ketika ia merasa lelah yang teramat sangat dan tidak bisa mengikuti lari Rangkayu, ia menyandarkan tubuhnya di dinding batu besar, dan tanpa dia sadari tangannya memutar arca kecil yang terletak di tengah-tengah batu tempat untuk bersandar. Rrrrth....batu besar itu bergeser ke samping kanan membuat dirinya terjerambab masuk ke dalam ruangan yang gelap gulita.
Setelah tubuhnya terjatuh di dalam, batu besar itu bergeser menutup kembali, membuat dirinya ketakutan yang teramat sangat "Rangkayu....Rangkayu!, teriakannya menggema akibat gema yang di timbulkan dari ruang tersebut. "dhearh...dheaarh...kedua tangannya lantas berusaha memukul batu besar. beberapa kali Arya Permana berusaha untuk mendorong batu, beberapa kali pula ia mengalami kegagalan.
__ADS_1
Setelah merasa tidak bertenaga lagi Arya Permana duduk dan bersandar, "aakh...akhirnya aku harus tewas di tempat ini",
Tiba-tiba terdengar suara dalam kegelapan "Hik...hik. .hik...ratusan tahun aku tidak mencium bau tubuh manusia!"... "hmm...tubuh lelaki yang telah lama aku dambakan!"
"Blam...blam...blam....terdengar suara letupan di iringi dengan nyala api yang berasal dari obor-obor yang menepel di dinding, menjadikan ruang gelap tersebut menjadi agak terang,
Suara tawa wanita dan pijaran api dari obor-obor yang menyala membuat Arya Permana terkejut, keterkejutannya semakin bertambah ketika melihat di depannya tiba-tiba muncul para wanita cantik yang tidak memakai busana sedikitpun, memperlihatkan lekuk-lekuk tubuh yang indah dan menawan.
"Sssiaaapa kalian?"...dengan suara gemetar Arya Permana beringsut mundur, tetapi tubuhnya tertahan oleh dinding-dinding ruangan. "Hik...hik...hik, kami adalah putri kayangan!, yang akan menjadi pendampingmu selamanya!". harum tubuh mereka semakin tercium, manakala tubuh mereka semakin mendekat dan menempel ke tubuh Arya Permana yang masih dalam ketakutan.
__ADS_1