
Sejak tadi Ki Wanara melihat pertarungan antara Dewi Pramudita dan Aswangga. Melihat kemampuan kanuragan Dewi Pramudita, Ki Wanara merasa percuma saja jika ia pun ikut turun tangan membantu kakak seperguruannya, maka dari itu saat mendekati Dewi Pramudita Ki Wanara langsung menjura ke arah Dewi Pramudita.
"Nyai, mohon berkenan untuk mengampuni Kakak seperguruanku, kami telah salah mengganggu perjalananmu", Ki Wanara memandang Dewi Pramudita dengan wajah berharap, karena saat itu matahari mulai muncul, terlihat oleh Ki Wanara sosok perempuan yang ayu tetapi mempunyai kebengisan.
"Hmm...kau sepertinya lebih pandai di bandingkan dengan kakakmu!" selesai mengatakan itu, Dewi Pramudita meloncat dan menendang batang bambu di mana Aswangga masih sedang meronta tergantung, "Hiaaath....braakh...!, tubuh Aswangga terjatuh ke bawah.
"Terimakasih Nyai! kami berhutang nyawa kepadamu", kemudian Ki Wanara membantu Aswangga untuk berdiri dan mendekat kembali ke arah Dewi Pramudita.
"Orang tua, siapakah kalian berdua?"
"Kami hanya pengawal biasa Nyai! yang sedang mencari Junjungan kami saja!"
__ADS_1
"Namaku Dewi Pramudita, siapa nama kalian?", "Aku Wanara dan ini Kakang Aswangga Nyai!"
"Hei...Aswangga, apakah kau masih penasaran dengan kemampuanku?" Dewi Pramudita menatap tajam Aswangga, Aswangga yang sebelumnya di berikan tanda oleh Ki Wanara, menggelengkan kepalanya, "tidak Nyai Dewi, aku mengaku kalah!"
"Hik...hik...hik, aku suka dengan panggilan kalian kepadaku, bagaimana kalau aku menjadi Junjunganmu yang baru? aku akan membayar kalian sesuai dengan pengabdian kalian kepadaku!"
Ki Wanara dan Aswangga saling memandang, kemudian Ki Wanara yang menjawab tawaran itu, "baik Nyai Dewi, kami bersedia!", Dewi Pramudita pun berbalik dan meloncat lari seraya memanggil mereka "kalau begitu ikuti aku!", akhirnya kedua bekas pengawal Arya Permana itu mengikuti lari Dewi Pramudita yang menuju ke arah selatan Kotaraja.
Dusun Perlak tidak terlalu jauh dengan Kotaraja, disanalah akhirnya Dewi Pramudita menetap, "Wanara, dan kau Aswangga, aku tidak mentolerir siapapun yang mengkhianatiku, tetapi jika kau betul-betul mengabdi kepadaku , aku akan memberikan kebutuhan kalian. Apakah kalian mengerti?", "Kami mengerti Nyai Dewi!".
Wanara dan Aswangga merasa senang menerimanya, akhirnya mereka kembali ke Kotaraja dan menjual satu lempengan emas itu untuk membangun rumah kediaman bersama Dewi Pramudita, sebagian harta itu mereka pergunakan untuk di kelola.
__ADS_1
Kita tinggalkan sementara Dewi Pramudita dengan Wanara dan Aswangga yang sedang berusaha membangun kekuasaan kecilnya di Dusun Perlak.
Perjalanan Nini Sangga geni dan Wirayudha telah sampai ke Kotaraja, mereka berjalan-jalan seperti dulu lagi saat Wirayudha belum bertemu keluarganya, ada yang berbeda saat ini, ketinggian tubuh Wirayudha yang sudah bertambah dan keadaan lengan Nini Sangga yang kini tidak utuh, tetapi semuanya itu tidak sampai mengurangi kebahagiaan Nini Sangga geni dan Wirayudha yang sudah terlalu lama merasa terkungkung di Kawasan gantung Parangtritis.
"Wira, sepertinya banyak gadis yang berusaha tersenyum kepadamu!" Nini Sangga geni terlihat sedang menggoda Wirayudha yang berjalan di sampingnya, "benarkah Nini?, aku tidak melihatnya". Nini Sangga geni kemudian memutar kepala Wirayudha ke arah pasar hewan yang tadi di lewatinya, di sana terlihat beberapa ekor Monyet berjajar menghadap jalan. "Hik...hik...hik..apakah kau sekarang melihatnya Wira?", Wirayudha memasang wajah cemberut ketika melihat sekumpulan Monyet-monyet yang duduk berjajar, ia baru menyadari jika Nini Sangga geni telah menggodanya.
Nini Sangga geni yang terlalu asik menggoda Wirayudha, tidak melihat kepada sekumpulan prajurit yang sedang berjalan berkelompok, ia berjalan terlalu ke sisi kanan jalan yang akhirnya menabrak rombongan itu,..brukh...."Akh...membuat Nini Sangga geni terjatuh. "Hei Nisanak..hati-hatilah kau berjalan!", "Maafkan aku tuan! aku tidak melihatnya", Nini Sangga geni cepat-cepat bangun dan membersihkan pakaiannya yang kotor.
Salah satu prajurit yang berada di belakang, menerobos maju dan menghampiri Nini Sangga geni, "Nisanak, kalau tidak salah kau adalah seseorang yang berada di lereng Merapi saat kami menumpas pemberontak yang bernama Padasukma?"
Saat mendengar kata-kata prajurit itu amarah Nini Sangga geni serta merta langsung naik, "hmm...mungkin kau salah lihat tuan!" aku hanya seorang tua yang tidak berdaya,... "Ha...ha...ha betul juga Nisanak, mungkin aku salah lihat!"
__ADS_1
"Apakah tuan salah satu prajurit yang ikut menyerang ke lereng Merapi?" Nini Sangga geni memandang dengan sorot mata yang aneh, dengan bangganya prajurit itu mengiyakan "he...he...he benar Nisanak!" akulah yang memenggal kepala pemberontak itu!"
Setelah mendengar pengakuan dari prajurit itu, dengan kecepatan yang tinggi, Nini Sangga geni melompat, tubuhnya berkelebat..."Hiaath....crash....tangan Nini Sangga geni menebas leher prajurit tersebut, membuat kepalanya jatuh terputus..."Siapa di antara kalian yang yang ikut serta dalam penyerangan di lereng Merapi?" dengan nekad Nini Sangga geni menghadang kelompok prajurit yang berjumlah sekitar Dua puluh orang tersebut.