
Nini Sangga geni yang sedang terdesak kemudian meloncat ke belakang, "Zzzzh....zzzh....dari mulutnya keluar desisisan yang keras, ratusan ular mulai merayap berdatangan dengan cepat mengelilingi penyerang-penyerang gelap.
Sekarang keadaan mulai berbalik, yang sebelumnya Nini Sangga geni dan Nyai Gendis yang di desak lawan, ratusan ular itu mulai menyerang dengan patukan dan gigitan membuat penyerang itu kalang kabut menghindari patukan- patukan ular berbisa.
Nyai Gendis tidak membiarkan si muka bopeng untuk mengambil nafas, serangannya semakin gencar dan penuh tekanan tenaga dalam, dua pedangnya saling menyerang dan melindungi, hingga suatu ketika, pedang yang berada di tangan kanannya melakukan gerakan tusukan dan mengenai dada si muka bopeng...Slaassh.....clap...."Aaaarkh....Pria bermuka bopeng itu ambruk di tanah dengan berlumuran darah.
Salah satu lawan kemudian melejit ke atas menyerang Nini Sangga geni sambil berteriak..,"Serang tua bangka ini bersama!!!"
Kedua kakinya melakukan serangan-serangan mengarah ke kepala Nini Sangga geni, sementara yang lain mulai melancarkan serangan ke arah kaki Nini Sangga geni.
Karena posisinya yang terdesak, Nini Sangga geni terpaksa melempar tubuh Wirayudha ke belakang, dan langsung berdiri kokoh seraya melancarkan pukulan Tapak geni..."Hiaaath....Blarh...Blarh...beberapa orang yang mengeroyoknya terpelanting dengan tubuh gosong menghitam "Bruuugh.....aaaakh...!" tubuh itu bergabung dengan beberapa yang lainnya yang telah tewas terkena patukan ular berbisa.
__ADS_1
Salah satu dari mereka, ketika mendapatkan kesempatan dan melihat celah, berkelebat menyambar tubuh Wirayudha dan melarikan diri dengan cepat... Hiaaath...wush...
Beberapa prajurit yang berlari mendekat mencoba menghadangnya, tetapi mereka akhirnya tumbang terkena anak panah yang meluncur dari atas...Sraaafhh...sraaakh...Uuugkh...
Ki Sampang dan Ki Wisesa mulai turun dalam kancah pertempuran, penyerang-penyerang gelap tersebut satu persatu tewas mengenaskan.
Nini Sangga geni masih berusaha mengejar seseorang yang melarikan tubuh Wirayudha, tubuhnya berlari dan meloncat, melewati atap-atap genting rumah penduduk. Saling berkejaran sampai tubuh mereka pun terlihat hanya bayangan.
Di pelataran kediaman Panglima Mandala Putra kini mulai ramai, berpuluh prajurit sedang bersiaga, di depan mereka Panglima Mandala Putra sedang di liputi amarah "Wisesa bagaimana dengan kesiagaan prajurit kita? mengapa bisa sampai terjadi penyerangan ke rumah kita sendiri tanpa di ketahui?" jika memang seperti ini, libatkan seluruh pasukan bayangan untuk penjagaan rumahku!"
Panglima Mandala Putra di iringi oleh Ki Sampang memeriksa mayat-mayat penyerang gelap tadi, hampir Dua puluh mayat yang tewas berikut dengan beberapa pemanah yang berada di atas yang baru saja di tewaskan oleh Ki Sampang.
__ADS_1
"Ki Sampang segera kau bawa bala bantuan untuk membantu Nini Sangga geni mencari penculik Wirayudha, kita tidak boleh membiarkan hal ini terjadi, hubungi Gilang Seta dan Sangaji untuk membantumu! aku mempunyai firasat semua yang terjadi berhubungan dengan keamanan di Kotaraja." "Hamba laksanakan Gusti Panglima! Ki Sampang segera beranjak pergi.
Panglima Mandala Putra berpaling kepada Nyai Gendis, "Nyai Gendis, percayakan kepada kami untuk mencari dan membantu Nini Sangga geni, aku mohon bantuan kepadamu menjaga Putriku sambil menunggu Wiratama yang masih memulihkan diri!" dengan wajah lesu Nyai Gendis mengikuti Panglima Mandala Putra yang berjalan menuju Pendopo tempat tinggalnya.
Nini Sangga geni yang masih berusaha mengejar pembawa tubuh Wirayudha menghentikan larinya saat melihat jalan yang bercabang di depannya.
Di tempat lain, Sukma Wirayudha yang mengejar asap hitam yang berasal dari kamar Wiratama, semakin mempercepat larinya, membuat jaraknya semakin pendek sekitar tiga tombak di belakang asap hitam tersebut, dengan tidak sabar karena khawatir hilang terhadap buruannya Wirayudha melepaskan pukulan yang berinti panas, Tapak geni dan Bayu saketi di hantamkan secara bergantian membuat asap hitam itu terpental dan buyar.."Wusssh....blarh...blarh...!!!
Bersamaan dengan terpentalnya asap hitam yang menjadi buyar, tubuh Dewi Pramudita yang sedang berbaring di dalam kamar terpental membentur dinding.."Uuugh....Dhugggh...tubuhnya terlempar ke atas dan terhempas kembali ke bawah, "Uuugkkh.....Uuugkh...!"
Dengan kondisi yang masih lemah, Dewi Pramudita berusaha duduk, "Uggkhh...aku sepertinya tidak mampu jika menghadapi sendirian, "Aswanggaaa!!...Wanaraaa!!...teriaknya dengan kuat.
__ADS_1
Para penjaga yang berada di depan rumah Dewi Pramudita berhamburan mendekati kamar, mereka berdiri di depan kamar tidak berani memasuki ruangan tersebut, akhirnya Ki Wanara berlaku nekad membuka pintu kamar, "Nyai Dewi, apa yang terjadi?" dengan sigap ia meraih Dewi Pramudita yang sedang terbujur si bawah, kemudian membawanya keluar ruangan, "Wanara, cepatlah cari daun ilalang dan Bunga Melati! aku harus secepatnya memulihkan diri."
Sebagian dari para penjaga kemudian mencarikan apa yang di minta Dewi Pramudita.