Badai Di Gunung Ciremai

Badai Di Gunung Ciremai
Pertemuan


__ADS_3

Wirayudha mengerti isyarat yang di berikan gurunya, ia melompat dan berlari mengikuti Nini Sangga geni, mereka berdua melesat dengan kecepatan laksana anak panah semakin menjauh dari Kotaraja.

__ADS_1


Nini Sangga dan Wirayudha berlari tanpa mengenal lelah tapi tidak tentu arah, saat menjelang sore hari, baru mereka berhenti. "Nini kenapa kita harus melarikan diri?", padahal kita tadi menguasai jalannya pertarungan, aku saja hampir mengalahkan semua musuh" Wirayudha besungut-sungut di belakang Nini Sangga geni, "Akupun tadi berpikir seperti itu!" tetapi tadi ada yang mengirimkan suara jarak jauh, entah siapa yang mengirimnya, dan menyuruh kita melarikan diri, karena ada pasukan dari Arya Permana yang menuju tempat pertarungan kita tadi" Nini Sangga geni mencoba menjelaskan pada Wirayudha. mereka berdua terus melangkah, tanpa di sadari langkah mereka menuju tepian pantai Parang tritis.

__ADS_1


Sebelum sampai ke tepian pantai mereka berbelok ke arah timur dan memasuki jalan setapak menuju hutan Bakau, Nini Sangga geni dan Wirayudha tidak mengira akan melihat pemandangan yang tidak biasa, mereka berjalan di atas bambu-bambu yang di lilit dengan rotan, sedangkan bawahnya rawa-rawa penuh lumpur, bambu-bambu itu memanjang, semakin mereka melangkah ke depan bambu tempat pijakan itu semakin kecil dan tanpa pegangan, entah di sengaja atau tidak, sudah suatu keharusan jika ada yang mencoba melewatinya, mereka minimal harus mempunyai ilmu meringankan tubuh yang tidak rendah, selain bambu itu kecil, bambu tersebut pun tidak menyambung dengan yang ada di depannya, semakin masuk ke dalam jarak antara bambu satu dengan bambu yang lain semakin jauh. tetapi dengan mudah Nini Sangga geni dan Wirayudha bisa melakukannya, membuat kagum kedua orang yang mengajaknya. hingga sampailah mereka ke tempat yang di tuju, di sana ada beberapa rumah sederhana yang terbuat dari kayu-kayu, rumah-rumah tersebut tergantung di atas pohon-pohon bakau, dan terlihat ada sebuah rumah yang lebih besar dari yang lainnya, di sanalah Nini Sangga dan Wirayudha di ajak untuk bertemu dengan pimpinan mereka terlebih dahulu, "Ki Seno Keling, perkenankan kami menghadapmu!"... "Masuklah Broto! ajak kedua tamu kita ke dalam" terdengar jawaban suara dari dalam rumah, terlihat pria sepuh yang masih gagah dengan kulit tubuh yang agak hitam sedang duduk bersila di atas tikar pandan. "silahkan duduk Nisanak, dan kau bocah tampan jangan terlalu sungkan, ada senyuman di bibir Ki Seno Keling saat menyambut kedatangan Nini Sangga dan Wirayudha.

__ADS_1


__ADS_2