
Wiratama berdiri di dampingi oleh Ki Pandawa, tak jauh dari para prajurit yang sedang berlatih, "Ki Pandawa besok kau mulailah membawa prajurit kita ke Kotaraja, seperti biasa lakukan secara bertahap!", "Baik raden", ujar Ki Pandawa.
"Sebagian siagakan di Parangtritis, untuk Pasukan Badai, tempatkan di tempat-tempat usaha ekspedisi kita, "Ki, jika tidak terpaksa sekali aku tidak akan membawa pasukan saat menyerang Anggoro Pati". "Tapi raden, terlalu berbahaya jika engkau tidak membawa pasukan untuk menyerang Anggoro Pati, ia terkenal culas dan selalu membawa pasukan kemanapun dia pergi" , Ki Pandawa mencoba mengajukan sarannya. "Benar Ki, tapi jika terjadi pertempuran besar, apakah itu tidak memancing pihak kerajaan, aku ingin mencapai tujuanku, dengan tidak menanggung resiko yang terlalu besar".
__ADS_1
Saat itu terlihat Ki Bondan menghampiri mereka berdua, "bagaimana menurutmu pasukan kita Wiratama?", "Mereka sudah siap romo", "Romo, besok aku mendahului akan berangkat bersama Ki Seno Keling, mohon nanti romo beserta yang lain menyusulku dan aku minta untuk romo menunggu di Parang tritis, "He..he...he, baik Ngger, dalam hal ini kau lah pimpinannya, romo akan menuruti perintahmu", Ki Bondan tertawa sedemikian senangnya.
Pagi-pagi sekali dua ekor kuda keluar dari wilayah Alas Roban, mereka berlari berdampingan menuju Kotaraja.
__ADS_1
"Anggoro, apakah kau sudah mendapatkan tabib yang ahli dalam racun ular?" Pangeran Adiraja menatap putranya, "Aku sudah berusaha romo, tapi dengan sampai saat ini, belum kudapatkan kabar dari orang suruhanku". "Anggoro, apakah kau tega melihat romomu ini tanpa perubahan?", jangankan menangkap pelaku, tabib saja kau tak bisa menemukan". "Tolonglah romo!" jangan kau banyak mengeluh, aku sendiri banyak tugas yang harus kulakukan, tidak hanya semata-mata harus memikirkanmu saja".
Seumur hidup Pangeran Adiraja baru kali ini merasakan kesedihan yang mendalam, mendengar jawaban putranya dia hanya diam, hatinya seperti tertusuk duri, kesedihan, kesendirian dan rasa ketidak berdayaan meliputi hatinya. bayangan-bayangan masa lalu mulai muncul di pikirannya, selama ini merasa semua keinginannya sudah tercapai, dan berharap di hari tua ini tinggal menikmatinya saja, harapan tinggal harapan, Pangeran Adiraja merasa semuanya sedikit demi sedikit menghilang.
__ADS_1
"Jangan kau merasa sedih romo, kenikmatan dan kesenangan sudah kau rasakan selama berpuluh tahun!", baru kau merasakan penderitaan berapa purnama saja kau selalu mengeluh". Anggoro Pati berkata seperti tanpa beban, tatapan matanya biasa, tanpa menunjukan rasa sedih atas penderitaan ayahnya. "Anggoro, kau anak laknat!", bukannya menghiburku, malah membuatku semakin menderita, "kau anak yang tak bebudi!" suara keras Pangeran Adiraja terdengar nyaring dengan penuh kemarahan. "Ha...ha...ha....romo sadarlah! kau mengatakan tentang "budi" aku kira kau lupa tentang arti "budi" selama ini kau hanya memikirkan kepentinganmu saja, semua kau pergunakan untuk memenuhi keinginanmu, termasuk aku putra-putramu". "Sudahlah romo, jangan katakan tentang kebaikan-kebaikan, apakah kau selama ini sudah menjadi seseorang baik dan merasa semua orang di sekelilingmu harus baik padamu?", "Kurang ajar kau Anggoro!, pergi...pergi kau!", kau tak perlu menemuiku lagi!.