
Nyai Gendis terus berlari tanpa henti mengabaikan luka yang di deritanya, ia memaksakan diri mempergunakan ilmu meringankan tubuh, karena menyadari bahaya yang sedang mengancam dirinya, baik itu dari pihak Arya Permana maupun dari Panglima Mandala Putra, tetapi seberapapun kuat Nyai Gendis, tetap ada batas maksimal kekuatan fisik yang di punyainya. Ia pun roboh jatuh terlentang di tepian sungai yang mengalir deras.
Entah sudah berapa lama nyai Gendis tidak sadarkan diri, saat membuka mata, hal pertama yang di rasakan olehnya adalah sinar matahari yang menerpa wajahnya, kemudian ia mendengar suara aliran air yang cukup deras dengan jarak yang cukup dekat. "Ughk...ughk...ternyata aku belum tewas, tapi aku tak tahu berada dimana".
__ADS_1
Kemudian ia mencoba mengingat kejadian - kejadian yang menimpa dirinya sampai terjatuh dan tidak sadarkan diri. "Gunung Sumbing, aku harus kesana! Nyai Gendis mencoba untuk bangun dan berusaha melanjutkan pelarian nya kembali, "akh....aku tak bisa menggerakan tubuhku, tulang-tulang sendiku terasa sangat sakit" lalu ia mencoba untuk berguling, hal itupun tak bisa di lakukannya, yang dapat di lakukannya saat ini hanya terlentang dan menggerakan matanya saja. "Huukh....Tuhan, berikanlah pertolongan Mu", Kedua mata nyai Gendis terpejam dan mulutnya memanjatkan do'a. Ketakutan dan kesedihan sedang menghantui dirinya, air mata mulai menetes di sisi kiri dan kanan matanya. Baru kali ini ia memanjatkan do' a kembali, entah sudah berapa lama dia tak mengingat Sang Pencipta.
Nyai Gendis mencoba menyalurkan hawa murni ke seluruh anggota tubuhnya, dengan harapan sedikitnya bisa menyembuhkan luka dalam yang ia derita, beberapa kali mencobanya dan tidak menghasilkan apapun. setelah lama berselang, telinganya mendengar langkah kaki yang sedang mendekat...srek...srek...perlahan namun pasti langkah itu berhenti di sampingnya, kedua matanya ia buka perlahan dan mencoba melihat, dengan perasaan yang tidak menentu Nyai Gendis memanggil setengah berteriak "Bayu....Bayu Wira, kau kah itu ?" Wiratama terhenyak saat memandangi sosok yang terlentang di bawahnya, tubuh penuh luka, di sekitar tubuh itupun banyak ceceran darah yang mengering di atas rerumputan yang hijau, tetapi Wiratama belum mengenali sosok yang terbaring, karena wajah Nyai Gendis sebagian tertutup rambutnya. kemudian Wiratama berjongkok menyibakan rambut yang menutupi wajah Nyai Gendis "akh...ternyata kau Nyai! apa yang telah terjadi padamu?" Wiratama memandangi tubuh nyai Gendis, "Bayu, tolonglah aku, cepat kau bawa aku dari sini! , mereka pasti sedang memburuku" kata-kata nyai Gendis di ucapkan dengan penuh permohonan, "kemana aku harus membawamu nyai?"... aku akan berusaha mengobatimu disini". Wiratama mencoba berpikir, dan menurut pendapat nya, hal yang pertama harus di lakukan adalah lebih baik untuk mengobati terlebih dahulu.
__ADS_1
Sampai tengah hari akhirnya Wiratama menemukan hulu sungai, di sana banyak terdapat goa-goa kecil maupun besar, Wiratama pun masuk ke salah satu goa yang cukup besar dan membaringkan tubuh Nyai Gendis ke bawah. setelah ia beristirahat dengan cukup, Nyai gendis di dudukannya, dan mencoba memberikan hawa murni yang di salurkan lewat jalan darah di sekitar punggung. sampai kemudian Nyai Gendis pun terbatuk, dan sakit di sekitar dadanya agak berkurang. "Nyai kau cobalah beristirahat dahulu, aku akan keluar mencari tanaman obat untuk kesembuhanmu", Nyai Gendispun di baringkannya kembali ke bawah, kepalanya di sangga dengan beberapa rumput kering yang di tumpuk agak tebal. Wiratama memandang sekelilingnya dari mulut goa, dan meyakinkan dirinya bahwa tempat itu aman untuk Nyai Gendis. kemudian ia berjalan mencari tanaman-tanaman yang di butuhkannya, dan sungguh beruntung, tanaman-tanaman yang di butuhkannya banyak terdapat di sepanjang sungai tersebut. "Nyai minumlah ramuan yang aku buat, mudah-mudahan bisa menyembuhkanmu!" dengan telaten Wiratama merawat Nyai gendis, menyuapi makanan, dan setiap hari menotok jalan-jalan darahnya yang membeku, membersihkan luka-luka Nyai gendis,
Nyai Gendis yang sebelumnya merasa tersiksa dengan luka-luka yang di derita, sekarang ia malah bersyukur, karena berpikir, kapan lagi bisa mempunyai waktu berdekatan dengan pria ini. "Bayu, ternyata kau seorang yang berilmu tinggi, dan mempunyai hati yang baik sekali, beruntung aku bisa mengenalmu!" Wiratama tersenyum, "Nyai darimana kau tahu aku baik sekali? kau baru mengenalku beberapa hari, jangan terlalu cepat menilai seseorang, karena saat penilaianmu keliru, kau akan sangat kecewa". Nyai Gendis tersenyum mendengar kata-kata dari Wiratama, Nyai Gendis membatin dalam hatinya "Hmm...pria ini sangat menawan, ...akhirnya aku merasakan jatuh cinta".
__ADS_1