Badai Di Gunung Ciremai

Badai Di Gunung Ciremai
Prahara Darah


__ADS_3

"Kangmas, kita telah sampai di Kotaraja, mengapa suasananya begitu sepi?" Nyai Gendis menuntun lengan Wiratama yang sengaja jalan tertatih, "Aku pun tidak tahu Nyai! cobalah kita mencari informasi terlebih dahulu ke salah satu penduduk."


Kemudian mereka berdua menyusuri jalanan, sesekali mereka menanyakan penyebab situasi Kotaraja yang begitu sepi kepada penduduk yang satu dua orang masih di temui.


Setelah mengetahui penyebab keadaan itu, Wiratama dan Nyai Gendis beristirahat di bangku-bangku kayu kedai yang tertutup. "Ternyata benar firasatku Nyai! Dewi Pramudita telah kembali mencari tumbal untuk kelangsungan hidup dan mengasah ilmu-ilmu hitamnya!" Nyai Gendis hanya terdiam mendengarkan. "Kita harus waspada dan sesegera mungkin menghentikan sumber malapetaka ini Nyai!."


"Kangmas! kita harus mencari tempat menginap di salah satu rumah penduduk, agar bisa mengamati dan bisa segera bertindak jika Dewi Pramudita menjalankan aksinya kembali." keduanya pun berjalan kembali, untuk mencari tempat mereka menginap.


Sayang, ternyata para penduduk tidak ada yang mau menerima mereka menginap, karena dalam situasi seperti ini, mereka mempunyai kecurigaan yang tinggi terhadap orang-orang yang tidak di kenal. Terpaksa keduanya menginap di gubug kosong yang tidak terpakai sambil menunggu malam tiba.


"Wuuush..Krrrttth..suara angin keras menerpa atap-atap rumah penduduk, membuat penghuni tiap-tiap rumah enggan untuk keluar. Kali ini jalanan di penuhi oleh para prajurit yang melakukan patroli.


Pasukan bayangan telah menyebar di tiap-tiap sudut Kotaraja, Ki Sampang dan Ki Wisesa berada di sudut barat, Nini Sangga geni dan Wirayudha bersiaga di sudut timur, selain itu Raden Gilang Seta dan Raden Sangaji berada di sudut yang lainnya.

__ADS_1


Malam semakin larut, cuaca pun semakin dingin menggigit tulang. Malam ini Dewi Pramudita bersiap untuk melakukan teror kepada warga, hatinya sudah tidak sabar dan merasa kesal karena tujuan untuk memancing Wiratama muncul tidak segera membuahkan hasil.


Kini Ia berdiri di puncak rumah yang paling tinggi, matanya menatap ke bawah dengan tajam. Memperhatikan para prajurit yang sedang berjalan dengan langkah teratur melaksanakan pengamanan wilayah.


Terdengar suara perlahan dari Dewi Pramudita "Malam ini ada banyak darah yang harus mengalir!"...Suuuuuiiith!!!..terdengar siulan keras dari mulutnya, suara itu di aliri dengan tenaga dalam tinggi, sehingga terdengar melengking menusuk gendang-gendang telinga yang mendengarkannya.


Sebentar kemudian, langit yang gelap semakin bertambah pekat, terhalang oleh gerombolan Kalong- kalong yang terbang mendekat di atas Kotaraja, ternyata suara siulan keras tersebut adalah tanda untuk memanggil mereka.


Raden Sangaji melihat kejanggalan tersebut, membuat dirinya tidak tinggal diam, "Prajurit!...Siaga!..bentuk formasi setengah lingkaran...siapkan perisai kalian!" setelah berteriak memberikan perintah, Raden Sangaji berdiri di depan prajurit yang sudah membentuk formasi setengah lingkaran.


Dewi Pramudita memutar kedua tangannya ke atas, kemudian menghempaskan ke bawah menuju arah sekumpulan prajurit, "Wuuughh...Wuugh.....angin panas bersiuran merangsek menuju ke bawah,


"Bukaaa barisaaan!"...teriakan Raden Sangaji membuat para prajurit yang membentuk formasi setengah lingkaran bergerak membuka formasi pasukan menjadi berbanjar ke samping, "Bhuuuuummmm!!...gelombang angin menerpa bekas pijakan mereka.

__ADS_1


""Suuuuuiiitthhh!....siulan kedua terdengar, Kalong-kalong hitam yang sebelumnya berputar kini secara bersamaan meluncur terbang menusuk ke bawah...


"Siaaapkan perisai langit!... prajurit-prajurit mengangkat perisai mereka menutup celah atas tubuh mereka...."Braaaakh....braaakh....serangan-serangan dari Kalong tertahan perisai, sebagian yang terlambat mengangkat perisai, terkena gigitan taring Kalong "Aaarkkh...Arrrkhhh...mereka menggelepar ke tanah sambil memegangi leher yang mengucurkan darah.


"Serang!....sambaran pedang berkelebat membabat tubuh-tubuh Kalong hitam yang terus melakukan serangan.


Keramaian yang terjadi di tengah pemukiman penduduk membuat seluruh prajurit yang berada di sudut-sudut Benteng Kotaraja akhirnya bergerak ke arah sumber suara keributan.


Nini Sangga geni langsung melibatkan diri dalam kancah pertempuran. Untuk menandingi serangan Kalong-kalong, Nini Sangga geni mempergunakan kekuatan Ularnya.


Terlihat Kalong itu tersambar oleh patukan Ular, mereka bertempur dengan gigitan, lilitan dan semburan bisa.


Di atas atap rumah, Dewi Pramudita mendapat serangan dari Wirayudha, Pekikan Naga langit terdengar menggelegar memekakan telinga.

__ADS_1


__ADS_2