Badai Di Gunung Ciremai

Badai Di Gunung Ciremai
Menggantung Hati di Parangtritis


__ADS_3

"Wira, kita harus kembali, kemungkinan eyang dan ayahmu sudah selesai membahas rencana yang akan di lakukan mereka, tolong kau tetap sembunyikan dahulu kemampuanmu, kau harus pintar-pintar melihat situasi dan kondisi dimana kau harus mengeluarkan kemampuanmu, saat ada waktu lagi aku nanti ingin melihat ilmu yang kau dapat dari lembaran yang ke - 9. "Baik Nini, sekarang juga kita kembali". Kemudian keduanya berlari menuruni Bukit Gupit menuju Kawasan gantung kediamannya.


Terlihat Nyai Gendis berjalan mondar-mandir sedari tadi, mencari Wirayudha yang biasanya berada di depan dan berlatih, sebelumnya ia mengira jika Wirayudha sedang bersama ayahnya untuk melepas rindu, tetapi saat dia lihat, Wiratama masih bersama pimpinan-pimpinan prajurit pilihannya, akhirnya Nyai Gendis duduk di kursi kayu yang biasa keseharian dia bersama Wirayudha.


Setelah waktu yang lama dan matahari sebentar lagi akan terbenam, Wiratama keluar dari tempat rembukan itu dan berjalan menghampiri Nyai Gendis, "Nyai, aku kira kau sedang beristirahat, maaf aku baru bisa menemuimu!" Wajah Nyai Gendis cemberut, dengan kata-kata merajuk ia pun menjawab sapaan Wiratama, "Aku kira kau sudah melupakanku Kangmas!, sampai-sampai kau tidak memberi aku kabar sedikitpun!"

__ADS_1


Dengan tersenyum Wiratama kemudian duduk di samping Nyai Gendis, terlihat wajah lelahnya. Nyai Gendis pintar membaca situasi, melihat wajah lelah Wiratama, ia akhirnya memperlihatkan senyuman, "kau terlihat sangat lelah sekali Kangmas!" kemudian Nyai Gendis menyeka kening Wiratama dan membuka ikat kepalanyanya, "Nah...seperti ini lebih membuat kau terlihat santai dan tampan Kangmas!" sambil tangannya merapihkan anak-anak rambut Wiratama yang menutupi wajahnya. "Terimakasih Nyai", Wiratama berusaha tersenyum kepada Nyai Gendis.


"Kangmas tunggulah kau sebentar disini, aku akan mengambilkan sesuatu untukmu!", kemudian Nyai Gendis berlari kecil ke arah rumah yang selama ini dia tinggal, tak lama kemudian ia pun kembali dengan membawa kain yang masih terlipat rapih, "Kangmas, aku mempunyai sesuatu hadiah untukmu!", kemudian ia membuka kain lipatan itu dan menunjukan kepada Wiratama, "Ah..Nyai, ini adalah baju "Surjan" kesukaanku, darimana kau mendapatkannya?", "Tak perlu kau tahu Kangmas, kalau kau suka pakailah!".


Wiratama mengitari pandangan matanya ke sekeliling, setelah nampak tidak ada yang memperhatikan mereka, Wiratama melepas bajunya dan menggantinya dengan Baju Surjan pemberian Nyai Gendis, Baju Surjan adalah baju yang terbiasa di pakai oleh para pria Mataram saat itu, baju lurik dengan motif bergaris berwarna cokelat, biasa nya berpasangan dengan tutup kepala yang bernama blangkon.

__ADS_1


"Kangmas, aku disini merasa kesepian tanpa dirimu, beruntung ada Wirayudha yang menemaniku!", apakah dalam waktu dekat kau akan pergi lagi?", "Tidak Nyai aku akan mempersiapkan orang-orang kita yang berada disini, aku lama tidak melihat hasil olah yudha mereka, baik Pasukan Badai, Topan, ataupun Guntur", karena nanti ada tugas berat yang akan menanti mereka", "Hmm..kau harus tahu Kangmas, aku ikut melatih mereka dalam ilmu pedang, aku pun telah membuat senjata rahasia untuk Pasukan Badai, nanti kau akan lihat kemajuan olah yudha mereka 'Kangmas!".


Saat mereka berdua duduk dan berbincang, dari depan terlihat Nini Sangga geni dan Wirayudha sedang berlari mendekat.


"Romooo...!!!, terlihat Wirayudha berlari mendahului Nini Sangga geni dan memeluk ayahnya, "Hmm....Putra romo sekarang sangat gagah sekali!", "Kau baik-baik saja kah 'Wira?" Wiratama bangun mendekap putranya dan mengelus kepalanya. "Hei Wira! bajumu sama dengan romo!" siapa yang memberikan hadiah padamu?" Wirayudha tersenyum sambil melirik Nyai Gendis, "Sama dengan yang memberikan hadiah padamu romo!", "mungkin Nyai Gendis ingin menarik hatimu romo, karena kau tak ada, akhirnya aku yang di berikan hadiah terlebih dahulu!" kata-kata Wirayudha membuat wajah Nyai Gendis semburat merah menahan malu.

__ADS_1


"Hik...hik..hik, kau ternyata pandai menggoda juga Wira!", Nini Sangga geni dari belakang tertawa melihat Nyai Gendis menahan malu. "Hei Wira, kaupun tidak seharusnya memanggil dengan panggilan "Nyai" kepada nya, kau tak pantas melakukan itu!" Wirayudha menatap heran kepada Nini Sangga geni, "Aku harusnya memanggil apa Nini?" Nini Sangga geni tertawa makin keras, "Hik...hik...hi, kau tanyalah kepadanya Wira?"


Nyai Gendis makin tersipu malu, "sudahlah Nini!, kaupun malah ikut menggodaku, coba kau tanyakan kepada ayahmu Wira!seharusnya kau memanggil apa padaku!" akhirnya Wirayudha bertanya kepada ayahnya yang sedang tersenyum, "romo, aku harus memanggil apa kepada Nyai Gendis?" kali ini Wiratama yang tergagap untuk menjawabnya..."Eeeh..., eeeh...


__ADS_2