Badai Di Gunung Ciremai

Badai Di Gunung Ciremai
Air Mata Tubagus Wiraguna


__ADS_3

Salah satu yang ikut serta di dalam rombongan Raden Sangaji adalah Nyai Ambarukmo, pandangannya tidak pernah menyingkir dari Ki Sampang, ia bersama Raden Wisnu Wardhana tidak ikut kembali ke Mataram.


Setelah Kepergian Raden Sangaji beserta Ki Wisesa ke Kotaraja, Ki Sampang beristirahat di tepian pantai, duduk dan menatap permukaan air laut yang biru.


Dari arah belakang kemudian muncul Nyai Ambarukmo mendekat, "Bukan sehari atau dua hari kita telah terpisah, wajahmu tidak menunjukan kerinduan yang mendalam kepadaku Kakang!" Setelah menyapa dengan suara yang lembut ke arah Ki Sampang, Nyai Ambarukmo duduk di samping dan menemani Ki Sampang.


"Tidak semua kerinduan terpancar dari sinar mata Nyai! apalagi cinta kita yang telah bertaut sampai pergantian zaman.


"Kakang, kenapa hanya karena darah kebangsawanan kita berbeda, kita tidak dapat saling memiliki seutuhnya?"


"Nyai, pertanyaan itu bukanlah yang pertama terucap dari mulut kita, ratusan kali pertanyaan itu selalu ada di benak kita, darah Majapahit dan Darah Padjajaran tidak mungkin bisa di satukan, Leluhur kita telah bersumpah mengenai itu.


"Kakang, perkenankanlah aku melihat wajahmu! aku merindukanmu!"...Nyai Ambarukmo merubah posisi duduknya, ia sengaja duduk di depan Ki Sampang.

__ADS_1


Ki Sampang menundukan wajah, kemudian mengusap wajahnya tiga kali, perlahan ia mengangkat wajahnya kembali dan balas menatap mata Nyai Ambarukmo.


Mata yang jernih dengan kedua alis yang tiada terputus, hidung mancung dengan sinar mata yang teduh, membuat wajah Ki Sampang benar-benar tidak ada yang menduga, dari wajah yang terlihat kejam, berubah menjadi wajah yang tampan dan berwibawa.


Nyai Ambarukmo tersenyum melihat wajah Ki Sampang, Sesaat kemudian berubah menjadi kesedihan.


Suasana yang sebelumnya begitu tenang, berubah seketika...Ombak dari arah laut bergulung-gulung menjadi ganas, angin badai terlihat sangat kencang, "Byaaarh...Byaaarh...Dhuuuarh...terdengar suara gemuruh ombak yang menerpa karang.


Terdengar suara tanpa wujud yang menyertai suara ombak di tunjukan kepada Nyai Ambarukmo, "Ambarukmo! ingat janjimu! kau seorang Putri Majapahit, tidak akan melupakan janji yang sudah terucap!"


Suara-suara tanpa wujud membuat mereka berdua menunduk lesu. "Saatnya kita harus menjauh kembali Kakang!" Nyai Ambarukmo berniat akan pergi dari hadapan Ki Sampang.


Keduanya berdiri bersamaan, sepasang mata mereka basah berlinangan.

__ADS_1


"Nyai, jika saja aku di lahirkan kembali di kehidupan yang akan datang, aku lebih baik memilih menjadi seekor merpati yang akan selalu terbang di atas kepalamu setiap saat, atau hinggap di bahumu setiap waktu!"


Nyai Ambarukmo tidak dapat menahan tangisnya mendengar perkataan Ki Sampang, yang dapat ia lakukan hanya secepatnya berbalik dan berlari dari tempat itu.


Kisah Cinta Tubagus Wiraguna dan Ambarukmo adalah kisah susulan tragedi cinta dari perang bubat, peristiwa gugurnya Ksatria-ksatria Padjajaran demi mempertahankan harga diri.


Kisah cinta mereka bertaut setelah kejadian Perang Bubat, tetapi karena dendam leluhur yang tercipta, cinta mereka di anggap tidak layak untuk di satukan. Akhirnya mereka pun terpisah, mengelana dan mengembara terpisah satu sama lain, berharap kasih mereka di persatukan. Kekuatan cinta mereka dan kesetiaan membuat keduanya berusia panjang.


Demak, Djipang,Kedaton Giri, Kalinyamat, Pajang sampai dengan sekarang Mataram yang sedang berkuasa, kisah cinta mereka tidak pernah usai.


Tetapi mereka berdua percaya, kekuatan cinta sejati tidak terbatas, akan terus hidup sampai matahari terbit dari barat.


Tubagus Wiraguna mengusap wajahnya, kembali menjadi wajah Ki Sampang, seorang prajurit bayangan yang siap menjalankan tugas di medan pertempuran manapun.

__ADS_1


Untuk mengurangi kesedihan hatinya, Ki Sampang berlatih olah kanuragan di tepian pantai. Terlihat pukulan dan tendangannya silih berganti, gerakan-gerakan yang sulit dia lakukan, sampai dengan Ajian Lodaya di keluarkannya. Sampai dengan terik matahari yang menyengat, Ki Sampang baru beristirahat, tubuhnya setengah berdiri dengan lutut, matanya menatap laut, nafasnyapun masih memburu, bayang-bayang wajah Ambarukmo selalu berada di kelopak matanya.


__ADS_2