Badai Di Gunung Ciremai

Badai Di Gunung Ciremai
Kemelut II


__ADS_3

"Lihat Wira!, mereka masih dalam keadaan tertidur!", di atas tembok benteng terlihat Nini Sangga geni dan Wirayudha sedang mengawasi keadaan barak prajurit.


"Apa yang harus kita lakukan Nini?" Wirayudha ikut memandang barak prajurit yang di tunjukan oleh Nini Sangga geni. "Hmm...Wira! sepertinya kita harus menunda penyerangan ini, ada seseorang yang sedang mengawasi kita!", Nini Sangga geni kemudian mengajak Wirayudha meloncat ke pepohonan yang berada di seberang benteng.


Kemudian keduanya lari dengan cepat, tetapi seseorang yang di anggap sedang mengawasi itu tidak membiarkan keduanya melarikan diri, bayangan itu mengejar dengan cepat pula, "Hei berhenti! apa yang kalian lakukan disini?"


Nini Sangga geni dan Wirayudha tidak mendengarkan teriakan tersebut, keduanya tetap berlari. Setelah jauh dari benteng barak prajurit, keduanya sengaja menghadang.


Nini Sangga geni tidak memberikan waktu kepada penguntitnya untuk bertanya, ia langsung menyerang dengan serangan-serangan ganas, "Hiaaath....wugh...wugh...tangan tunggalnya menyerang dengan di aliri Tapak geni, ternyata sosok yang mengikutinya dengan gesit dapat menghindar dengan mudah, membuat pukulan itu mengenai pohon yang berada di belakangnya..."Blarh...blarh....!


Serangan Nini Sangga geni tidak mengenai sasaran, kemudian ia pun melanjutkan dengan tendangan- tendangan yang di aliri Selaksa gunung, angin serangannya membuat sosok itu terdesak dan terpaksa menahan tendangan tersebut..."Blarh...."Arrrkh!...tubuhnya terjengkang tertahan oleh batang pohon.


"Jalasena, menyingkirlah!...tiba-tiba berkelebat seseorang yang berpakaian hitam membantu Jalasena yang masih berdiri menyandar di batang pohon, ternyata Ki Sampang yang menolongnya "Graaaumh.....terdengar pekikan auman yang keras, membuat posisi berdiri Nini Sangga geni menjadi goyah.


Wirayudha yang melihat keadaan Nini Sangga geni terpengaruh suara penyerang tersebut, meloncat sambil ikut berteriak...."Kraaaaakh....

__ADS_1


Suara pekikan dari Wirayudha menghilangkan pengaruh getaran auman dari Ki Sampang, Wirayudha menyerang Ki Sampang dari berbagai arah, tubuhnya memecah menjadi tujuh, pukulan dan tendangannya menimbulkan suara-suara angin berat, "Hiaaaath....Wush....wush..., dua pukulan dari arah depan dapat di elakan oleh Ki Sampang, "Hiaaath....Desh....Desh..!.....Brugh....tetapi dari arah samping kanan dan kiri tendangan dari Wirayudha tidak bisa di elakan, membuat tubuh Ki Sampang terjengkang.


Betapa kagetnya Ki Sampang, hanya dengan waktu yang singkat dia bisa terkena serangan. "Siapa kau bocah ingusan?"


Wirayudha tidak menjawab sedikitpun, karena ia sendiri sedang sibuk berpikir, Ajian yang di pergunakan oleh Ki Sampang mirip dengan Ajian yang di pergunakan ayahnya.


Karena melihat Wirayudha tidak berniat menjawab pertanyaannya, Ki Sampang akhirnya mencoba melumpuhkan Wirayudha dengan serangan totokan jari, "Hiaaath...plash...plash...serangannya menerpa angin, dan Ki Sampang tidak melihat sosok Wirayudha. "Hmm...halimunan!...anak ini penuh kejutan!"...


Ki Sampang dan Jalasena, setelah tidak melihat sosok Wirayudha, kaki-kaki mereka seperti ada yang menarik ke bawah Permukaan tanah yang mereka pijak seakan-akan sedang menghisap....terdengar teriakan dari Ki Sampang dan Jalasena, "Aaaakh....Aaakh..tubuh mereka terbenam sebatas leher..


"Nini, apakah perlu ku penggal kepala dua orang ini?" terdengar suara Wirayudha bertanya kepada Nini Sangga geni. "Tunggu Wira!, sepertinya aku pernah mendengar dari ayahmu tentang orang ini".


Ki Sampang sendiri masih bertahan di dalam tanah sambil memperhatikan Nini Sangga geni.


Cahaya sambaran pedang dari Jalasena terlihat menebas tubuh Widayudha beberapa kali, "Hiaaath....Trang!....Traaaang!.... tebasan itu mengarah dari bahu ke bawah,...tetapi saat mengenai tubuh Wirayudha, pedang itu terpental dan membuat tangan Jalasena bergetar.

__ADS_1


Jalasena memasang kuda-kuda untuk melakukan penyerangan, tatapan matanya mengawasi Wirayudha yang masih santai, tiba-tiba dari sampingnya berkelebat Wirayudha yang lain memcengkeram pedangnya dan membetot merampas pedang itu, tatapan Jalasena terpana, kini ia melihat Wirayudha yang masih berada di depan, dan yang satu adalah sosok Wirayudha yang telah merebut pedangnya.


"Pedangmu tidak begitu kuat Tuan pendekar!"... Rrrrth.....Praaakh.... pedang milik Jalasena di cengkeramnya sampai hancur oleh Wirayudha.


Nini Sangga geni meloncat menghampiri Wirayudha, "Wira! aku baru ingat sosok yang kau benamkan itu saudara seperguruan ayahmu!", "Benarkah Nini?" Wirayudha agak terkejut mendengarnya.


"Benar Wira, aku pernah di ceritakan oleh ayahmu, dia bernama Tubagus Wiraguna dari tanah Banten, memiliki Ajian Macan Lodaya juga seperti ayahmu!".


"Haiiit....Dugh....Dugh....Wirayudha menghentakan kakinya ke tanah sebanyak Dua kali, Ki Sampang merasa tubuhnya terlontar ke atas permukaan tanah, dan kemudian berdiri tegak kembali.


"Bocah! siapakah kau?" Ki Sampang masih mencoba bertanya dengan penasaran, tetapi yang menjawab adalah Nini Sangga geni "Kisanak, kami adalah pengelana, anak itu muridku! mungkin kau mengenali ayahnya?"


"Benar Ki Sampang, kau pasti mengenali orang tuanya!" dari balik kerimbunan pohon muncul Ki Wisesa. "Selamat Datang Nini Sangga geni! Nini Sangga geni kemudian membalas penghormatan Ki Wisesa.


Wirayudha ikut menjura saat dirinya melihat Ki Wisesa, seseorang yang pernah dia ganggu di pantai Parangtritis.

__ADS_1


***


Mohon maaf para Raider, minggu-minggu ini kemungkinan agak terganggu untuk apload chapter-chapter berikutnya, karena kami sedang dalam perjalanan tugas, yang melewati perjalanan laut dan mengalami kendala sinyal. Semoga saja perjalanan kami cepat sampai dan dapat menghibur para raider semua kembali, Aamiin...Aamiin...yaa..Rabbal'alamiin...


__ADS_2