Badai Di Gunung Ciremai

Badai Di Gunung Ciremai
Kabut Hitam Nusakambangan XVI


__ADS_3

Melihat pertarungan antara Rakyan dan Wirayudha telah berakhir, sedikit mengganggu konsentrasi dari Moksa Jumena yang sedang menghadapi Wiratama.


Pertarungan Moksa Jumena dengan Wiratama tidak seperti pertarungan pendekar biasa, karena mereka sama-sama telah mencapai tahap akhir dari olah kanuragannya masing-masing. Sedikit saja kelengahan, akan berakibat fatal dan membahayakan jiwa mereka.


Puluhan Jurus telah berlalu, saat ini keduanya sudah mempergunakan senjata andalannya masing-masing, Di tangan Moksa Jumena terlihat Jaring-jaring besi yang merah membara, Jaring-jaring besi tersebut adalah sebuah benda pusaka yang terkenal di zamannya dengan sebutan Jaring Neraka, sama dengan ilmu yang di miliki oleh Moksa Jumena yang berintikan panas api.


Tubuh keduanya melayang di atas, lebih tinggi daripada kayu-kayu yang di pergunakan benteng pertahanan di Gapura utama.


"Hiiiaaath...teriakan Moksa Jumena terdengar manakala menebarkan jaring-jaring besinya, Jaring-jaring besi itu melesat dan mengembang mengejar tubuh Wiratama yang akan mencoba menyerangnya, "Srriiing!"...


"Sraaaph!... Tubuh Wiratama terhentak ke belakang seiring dengan Jaring-jaring besi milik Moksa Jumena yang melingkupi tubuhnya.


Semakin keras Wiratama berusaha untuk keluar dari Jaring itu, Jaring-jaring neraka semakin ketat mengekang tubuhnya.


Baju Surjan Wiratama mulai terbakar, membuat tubuhnya bertelanjang dada. Tanpa menunggu waktu yang lama, Tombak pendek miliknya di lepaskan melewati celah-celah jaring, meluncur menyerang Moksa Jumena.


Tombak Kyai Plered yang tergabung dengan Pedang Jasinga, mulai menyerang dengan tebasan-tebasan dan tusukan-tusukan yang mematikan, Membuat Moksa Jumena seperti menghadapi musuh yang lihai memainkan tombak dan pedang dalam waktu bersamaan.


"Graaaaumh...Tubuh kekar Wiratama terlihat menonjolkan otot-otot yang kencang di saat dia mengaum dan mengeluarkan tenaga dalam yang tinggi, membuat kekencangan Jaring-jaring Neraka yang melingkupi tubuhnya semakin longgar. Pada saat merasakan jaring-jaring semakin longgar, dengan cepat Wiratama menebaskan jari runcingnya ke sekitar Jaring-jaring Neraka.

__ADS_1


"Praaang!...Prangggg!" Jaring neraka terputus menjadi beberapa bagian dan terlepas, sementara itu Moksa Jumena masih sibuk mengelak dan memghindar dari tusukan-tusukan dan tebasan tombak Wiratama.


"Graaaummh..Pukulan Roh Lodaya!" Jari-jari tangan Wiratama mengembang dan lengannya meluncur menerjang tubuh Moksa Jumena yang tidak waspada karena sibuk menghindari serangan senjata, "Sraaaakh!... Dhuuuarh!" Pukulan Roh Lodaya membentur tubuh Moksa Jumena "Aaaarkkk!...Uuukg..!


Tubuhnya terlempar ke belakang hampir sepuluh tombak. "Wuuush..Craaash.., Tombak Kyai Plered tidak mau ketinggalan, ujungnya hampir saja menembus jantung Moksa Jumena.


Dengan sisa-sisa kelincahan tubuhnya, Moksa Jumena berusaha menghindar walaupun tidak urung ujung tombak Wiratama menggores dadanya.


Seumur hidupnya baru kali ini Moksa Jumena merasakan ketakutan yang luar biasa di saat menghadapi lawan, terlihat Wajah Wiratama semakin buas seakan-akan ingin menerkam dan mencabik-cabik tubuhnya.


Dalam ketakutan, di dalam hatinya muncul sumpah serapah "Keparat, Hulubalang Keling ternyata benar-benar tidak perduli dengan situasi sulit ini, terpaksa aku harus mencari jalan meloloskan diri!"


Gumpalan cahaya akibat amukan Aji Badai Gunung Ciremai mengenai puing-puing bangunan yang telah rusak sebelumnya. "Blllaaarh!..Blaaarh!" membakar habis semua benda-benda yang terlewati.


Kobaran api kemudian merambat ke segala arah, membakar pepohonan yang melintang menghalangi gerakan pasukan Prajurit-prajurit sekaligus merusak semua jebakan-jebakan maut yang sebelumnya sudah terpasang.


Moksa Jumena tidak menyia-nyiakan kesempatan, selagi kobaran api itu membesar, tubuhnya melesat melarikan diri.


Wiratama menyadari kekeliruannya, kobaran api telah menghalangi pandangannya ke arah Moksa Jumena yang kabur meninggalkan pertarungan, "Bayu Saketi....Wuuush...Angin besar keluar dari kedua tangan Wiratama ketika mengeluarkan Aji Bayu Saketi, hanya sekejapan mata kobaran api kemudian padam.

__ADS_1


Lesatan bayangan Moksa Jumena masih terlihat walaupun hanya terlihat setitik hitam yang sedang menjauh. Dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh Menjangan kabut, tubuh Wiratama melesat berusaha mengejar "Hiiaaath...Sraaath..!"


Di kawasan tepi barat pantai, pasukan Mataram hampir dapat menguasai segala medan, kendala yang masih di hadapinya adalah Dewi Pramudita yang masih tangguh ketika berhadapan dengan Raden Sangaji.


Pertarungan antara Raden Sangaji dengan Dewi Pramudita telah berlangsung lama, andai Dewi Pramudita hanya sebatas manusia biasa mungkin pertarungan ini bisa di menangkan oleh Raden Sangaji, tetapi Dewi Pramudita adalah sebangsa lelembut yang mempunyai ilmu-ilmu aneh yang seharusnya di hadapi oleh Pendekar yang digjaya, sedangkan Raden Sangaji adalah ahli Strategi perang yang terbiasa dengan pertempuran terbuka.


"Hiiath...Wussh...Wush, beberapa kali tebasan pedang Raden Sangaji hanya mengenai udara kosong, sehingga membuatnya frustasi dengan cara bertempur seperti ini.


Tiba-tiba dari arah sisi kanan terdengar teriakan Ki Respati "Hiiaaat...Garuda Murka!" Wuussh...pukulan mengandung api melesat menghantam tubuh Dewi Pramudita yang memang mempunyai dampak kepada tubuhnya, "Buuugh!".. membuat tubuh Dewi Pramudita terpental.


Tetapi bukan hanya Dewi Pramudita yang terpental, Ki Respati melihat putranya yang terdesak dia melupakan luka yang berada di tubuhnya sendiri. Di saat mengeluarkan Garuda Murka, Ki Respati mengeluarkan tenaga dalam berjumlah besar yang membuatnya muntah darah dan terjerambab.


"Romoo!"... Raden Sangaji meloncat dan menyambar tubuh ayahnya yang akan terjatuh.


Melihat penyerangnyaa roboh, Dewi Pramudita menahan diri karena memang dia tidak berniat untuk bertarung lagi dengan pihak Mataram.


"Kisanak, bukan aku yang menyebabkan ayahmu terluka, kau lihat sendiri dia yang menyerang diriku!" Dewi Pramudita berharap bisa menghentikan kekacauan yang di akibatkan muridnya.


Rengganis mengetahui kalau gurunya tidak berniat lagi melanjutkan pertarungan menjadi kesal, tanpa di duga oleh siapapun dia meloncat dan menyabitkan pedangnya ke arah Ki Respati, "Hiiaaaath...Crassh! ujung pedang tajam itu menembus dari punggung sampai depan dada Ki Respati, "Aaaarkh...!"

__ADS_1


Raden Sangaji terpana dengan kejadian yang berlangsung, ayahnya menghembuskan nafas terakhir dalam pelukannya.


__ADS_2