Badai Di Gunung Ciremai

Badai Di Gunung Ciremai
Akhir Pertemuan Rahasia


__ADS_3

Setelah Panglima Mandala Putra beserta para pengawal-pengawalnya pergi, Wiratama beranjak mencari Nyai Gendis, terlihat nyai Gendis sedang duduk bersila, sepertinya sedang melanjutkan penyembuhan cidera yang sedang di alaminya.


Wiratama duduk di samping nyai gendis, ia mendengar nafas nyai Gendis sudah teratur pertanda luka dalamnya sudah tidak mengkhawatirkan lagi. sesaat kemudian nyai Gendispun membuka matanya dan melihat kehadiran Wiratama di sampingnya, "Kangmas terimakasih atas bantuanmu, entah apa yang terjadi jika tidak ada engkau yang mendampingiku untuk menyelesaikan masalah ini". Wiratama menghela nafasnya sambil membetulkan ikat kepalanya "tak mengapa nyai, sudah kewajibanku untuk menolongmu, jangan terlalu merisaukannya. "Nyai, masalahmu dengan Panglima Mandala Putra sudah terselesaikan, apa yang menjadi rencanamu selanjutnya?"

__ADS_1


Sebenarnya ada keinginan Nyai Gendis untuk membalas segala muslihat dari Arya Permana yang telah mencelakainya, tetapi keinginan selalu bersama Wiratama lebih besar dari keinginan itu. "Kangmas, jika engkau tidak keberatan, aku ingin membantumu untuk mencari anak dan istrimu, tetapi jika engkau tak mengijinkan, aku akan melakukan pembalasan kepada Arya Permana yang telah menipuku". Wiratama tersenyum sambil berkata "kau tak memberiku pilihan lain nyai, baiklah aku izinkan kau untuk ikut bersamaku". Senyuman Nyai Gendis terlihat merekah di bibirnya, karena ia merasa puas, sudah berhasil memaksa Wiratama untuk mengizinkannya ikut. Karena Wiratama tak mungkin membiarkannya untuk melakukan penyerangan kepada Arya Permana sendirian.


"Nyai, sudah terlalu lama aku meninggalkan Parangtritis, sebelum berkelana kembali, aku ingin menyambangi ayahku terlebih dahulu", "aku akan ikut kemanapun kau pergi Kangmas!" Nyai Gendis menyahut dengan gembira. Akhirnya mereka berdua pun berdiri dan bersiap meninggalkan kawasan Candi,

__ADS_1


Sementara itu di pelataran gantung tempat Ki Bondan Wiratama dan pasukannya tinggal, terlihat Wirayudha dan Ki Seno Keling sedang berlatih tanding, gerakan-gerakan Wirayudha terlihat semakin kuat, dia sedang menggunakan jurus Sanca Gunung saat menghadapi Ki Seno Keling. Tubuhnya terlihat lentur, meliuk-liuk menghindari serangan-serangan pukulan dari Ki Seno Keling, di sela-sela upaya menghindar, Wirayudha pun berusaha melakukan serangan-serangan, jari-jari tangannya mematuk arah kepala, leher dan pinggang, tetapi semua serangan itu dengan mudah di elakan, "Wira! keluarkan Aji halimunmu!" terdengar suara teriakan Nini Sangga Geni, Wirayudha berputar dengan cepat, kemudian tubuhnya terlihat tidak nampak dari pandangan setiap orang, "Hiaaath....Wush...wush.....Ki Seno Keling pendekar pilih tanding dan berpengalaman, saat tubuh Wirayudha tidak nampak, ia langsung menutup matanya dan hanya mengandalkan pendengarannya yang tajam, semua serangan-serangan dari Wirayudha pun kembali dengan mudah di patahkan. "coba kau pergunakan Selaksa Gunung di setiap pukulan dan kakimu Wira !" Eyang Padasukma ikut memberikan arahan kepada Wirayudha. Kini sosok Wirayudha kembali terlihat, ia melanjutkan serangan, "hiaaath...wush...wush...desh, pukulan-pukulannya menimbulkan angin yang kencang dan kuat, pukulan-pukulan itu di tahan oleh Ki Seno dengan tangkisan lengannya, tetapi saat berbenturan menimbulkan suara ledakan yang lumayan keras....Wirayudha terpelanting ke belakang, tetapi dengan gesit dia berjumpalitan di udara dan kembali berdiri dengan kokoh, kedua kepalan tangannya di buka, perlahan kemudian telapak tangannya terlihat membara, ia mencoba aji tapak geni untuk melanjutkan serangan, "Hiaaath.....dhuarh...dhuaaarh...Ki seno Keling meloncat ke atas sehingga pukulan itu mengenai pohon-pohon Bakau ...pohon-pohon yang tidak tinggi itu akhirnya hangus terbakar. "Cukup Wira! latihan hari ini selesai!"...Ki Bondan Wiratama berteriak dari rumah gantung itu. Widayudhapun menghentikan serangannya "Kau hebat sekali Aki!" Wirayudha memuji Ki Seno Keling yang menjadi lawan tandingnya.


Kemudian mereka berjalan bersama menuju Ki Bondan, sedangkan Eyang Padasukma dan Nini Sangga geni tersenyum 'kau melupakan kami Wira!" Wirayudha berpaling sambil berteriak "Maafkan aku Nini, Eyang Guru...aku lapaaarrr!"

__ADS_1


Nini Sangga geni dan Eyang Padasukma hanya tersenyum mendengar teriakan Wirayudha.


Saat ini Wirayudha di latih kanuragan bukan hanya oleh Nini Sangga geni, Eyang Padasukma pun mengangkat murid kepadanya, selain itu Ki Bondan Wiratama sebagai kakeknya pun tidak mau ketinggalan, menurunkan seluruh jurus-jurus andalannya kepada Wirayudha.

__ADS_1


__ADS_2