
Langkah kaki Wiratama gontai, lemah tak bertenaga, raut wajahnyapun kusut, isi dadanya bercampur baur, antara marah, sedih dan mencoba tetap tegar. Ia sudah memasuki kawasan Alas Roban, kedatangannya di sambut oleh beberapa orang. wajah sedihnya ia coba untuk di sembunyikan, dan membalas sapaan - sapaan penghuni Alas Roban.
Penghuni Alas Robanlah yang saat ini bisa membuatnya tegar dan menaruh harapan, tak ada lagi keluarganya yang tersisa sekarang selain mereka.
Suatu hari di tengah pasukan - pasukan yang sedang berlatih, Wiratama berdiri bersama Ayahnya di atas ketinggian, kemudian ia memberi tanda agar semua berkumpul di depannya untuk memberi mereka semangat.
"Saudara-saudaraku, aku meminta kalian lebih giat lagi berlatih!, sebentar lagi jika telah tiba waktunya kita akan menyerang, dan menghapus kedzaliman-kedzaliman para penguasa. kita akan mengingatkan kepada mereka, keangkuhan, kesewenang-wenangan akan membuat mereka terbakar hangus oleh tangan-tangan kita yang akan menciptakan badai api buat mereka. Pasukan khusus 50 aku berikan nama pasukan "Badai"..Pasukan 100 pedang dan pasukan panah aku sematkan sebagai pasukan "Topan gunung dan Topan laut" , dan pasukan berkuda aku panggil pasukan "Guntur" ingat saudara-saudaraku! , kita kuat karena kita bersatu, kita bisa bersatu karena kita adalah saudaraaa...!!!!
__ADS_1
terdengar pekikan - pekikan para prajurit, menyambut Sang Senopati Alas Roban yang perkasa.
Kembali Wiratama memamerkan kekuatan kanuragan nya agar para prajurit bersemangat dan menaruh kepercayaan yang tinggi padanya, kedua tangan nya di rentangkan, kaki di tekuk ke bawah seluruh tenaga dalamnya ia kerahkan secara penuh, kedua kaki nya ia tolakan ke bawah dan meluncur ke atas sambil berteriak "Badai gunung ciremai" saat kedua tangannya di dorong ke arah langit terdengar suara ledakan-ledakan keras, "Dhuaarrrrh...dhuarhhhh..kedua tangan nya di putar, langit menjadi gelap gulita di sertai gelegar guntur, entah bagaimana tiba-tiba turun hujan deras.
Ki Bondan sendiri terkaget-kaget saat melihat kesaktian anaknya Wiratama, demontrasi kekuatan di lanjutkan oleh Wiratama dengan ajian puncak Macan lodaya yang tertinggi, auman Harimau Wiratama terdengar keras menggelegar kemudian dari segala penjuru Alas Roban terdengar auman Harimau bersahut-sahutan.
Malam hari nya para pimpinan - pimpinan pasukan di kumpulkan di pendopo, mulailah mereka bersiasat.
__ADS_1
"Ki Sawung Galih, kau pimpinan telik sandi kita, kumpulkan informasi mengenai jumlah pasukan yang di bawah pimpinan Panglima muda Arya Permana, lalu aku juga menginginkan informasi posisi-posisi pasukan tersebut saat ini. Yang terakhir, seluruh misi yang sedang di emban pasukan itu aku harus tahu". "Baik Raden, tugas akan hamba laksanakan" Ki Sawung galih tidak menunggu perintah yang lain, ia langsung menemui pimpinan-pimpinan kecil Telik Sandinya dan langsung memberikan perintah.
"Ki Pandawa, aku bersamamu memimpin pasukan Badai, untuk menggagalkan semua misi pasukan di bawah pimpinan Arya Permana, kita buat pandangan dan penilaian Panglima utama Mataram terhadap pasukan di bawah pimpinan Arya Permana menurun dan tidak baik. Agar kepercayaan panglima utama terhadap Arya permana semakin hari, semakin buruk".
"Romo aku mohon bantuanmu memberi petunjuk, untuk sebagian pasukan telik sandi kita membuat suatu kondisi, menjatuhkan nama baik pasukan yang di pimpin Arya permana di mata rakyat". dengungkan kepada masyarakat, bahwa pasukan itu ganas dan brutal". Ki Bondan mengangguk, tanda menyetujui.
Wiratama menggumam dalam hati, "tunggu kau Arya Permana, aku sendiri yang akan menterormu secara kejiwaan, tak akan ku biarkan kau tertidur pulas di pendopomu".
__ADS_1