
"Wiraaaa!!!....Candrasih berlari menghampiri Wiratama yang sedang terkapar di tanah, sedangkan Ki Respati dengan penuh amarah langsung menyerbu ke arah Arungga, "Kurang ajarrr! kau lancang!!!....Grrrrh!...Dada Arungga di cengkeramnya, jari tangan lain menusuk kedua mata Arungga dengan cepat...Croookh...Crasshhh....:Aaaakhr! Arungga menjerit, bergulingan di tanah sambil menutup matanya yang berlumuran darah.
Ki Respati mengedarkan pandangannya, batinnya mengatakan ada bahaya yang lebih besar sedang mengintai mereka.
"Graaaumh....Graaaumh! terdengar suara auman Harimau yang sedang mendekat.
"Anakku selamatkan dia, bawa lari ke lembah Nirbaya!...suara Ki Respati terdengar bergetar saat memerintahkan Candrasih, sepasang matanya sambil memperhatikan Tujuh ekor Harimau besar yang sedang mendekati pendekar-pendekar yang tadi bersama Arungga.
Kilatan cahaya memancar dari mata Macan-macan Lodaya, "Graaaaummh....Graaaaummh!!!...auman suaranya menimbulkan getaran, membuat mereka yang melihat tersurut mundur.
Ke Tujuh Harimau melompat bersamaan menyerbu kelompok para pendekar yang masih terpana, Kuku-kuku tajam menghunjam tubuh mereka, menimbulkan suara teriakan-teriakan yang merobek udara, "Graaaaaumh.....Aaaaaaarkh....percikan darah terpencar ke segala arah di iringi dengan tumbangnya tubuh kelompok pendekar satu persatu. Bentuk tubuh mereka tidak beraturan tercabik-cabik oleh keganasan Lodaya.
Ki Respati akhirnya memutuskan untuk menghindar, berlari ke arah Candrasih yang membawa Wiratama melarikan diri.
Sementara itu Brajanata, Somantara dan kedua adik seperguruannya masih berdiri terpana melihat semua pemandangan yang terlampau sadis.
__ADS_1
Candrasih terus berlari memasuki lorong-lorong bawah tanah yang menghubungkan dengan Lembah Nirbaya, tubuh Wiratama yang terluka berada di bahunya. Setelah sampai tepi lembah di turunkannya tubuh Wiratama yang berlumuran darah.
"Wira!...Wira!...Sadarlah!" jari-jari Candrasih berusaha menotok jalan darah sekitar luka untuk menghentikan pendarahan. baju Wiratama di robeknya dan di jadikan bebat untuk menutup luka akibat tusukan. Akhirnya mata Wiratamapun terbuka perlahan dan ia mulai siuman "berikan aku air Candrasih...Uggh...Uggkh!" dengan terbata-bata Wiratama meminta air.
Setelah meletakan kepala Wiratama ke rerumputan tebal, Candrasih perpaling ke kanan dan kiri mencari air, "Wira, bersabarlah...tunggulah kau di sini!" tubuhnya kemudian berlari untuk mencari air.
Tidak lama setelah Candrasih pergi, dari gundukan ilalang liar muncul Maha guru dari rompak teluk parigi menghampiri Wiratama.
"Ha..ha...ha..belum lama kau menanyakan kepadaku bagaimana caraku menginginkan kematian, ternyata kau yang harus lebih dahulu ku kirim ke akhirat, Hiaaaath....Desssh....tendangan keras melanda tubuh Wiratama yang terbaring, membuat tubuh itu mencelat dan melayang jatuh ke Lembah Nirbaya.
"Keparattttt!....Hiaaath....berkiblat keris berluk Sembilan milik Ki Respati, ujungnya dengan ganas menancap di bagian jantung Maha guru rompak Parigi. "Arrrkh....Kau..Kau...menikamku Respati!!!....Uurkh...brugh! tubuh itu akhirnya rubuh. Ki Respati murka...Kerisnya di tusukan berkali kali ke tubuh yang sudah terbujur di tanah.
"Romooo!...Apa yang terjadi?" Candrasih menghentikan larinya dan membawa sebuah wadah air.
"Ketiwasan Candrasih! Ksatria pilihanmu terjatuh ke dalam lembah di tendang Bangsattt ini!" dengan gemas Ki Respati menendangnya. "Bughhhh....!
__ADS_1
"Prakhhh...wadah air yang di pegang Candrasih terjatuh dan pecah, matanya berlinang dan tidak bisa mengatakan apapun. Candrasih tidak tahu, mengapa hatinya terasa perih.
Ki Respati tidak terbiasa melihat putrinya menangis, saat putrinya menangis ia tidak tahu apa yang harus dia lakukan.
"Anakku...apa kau telah jatuh cinta kepadanya?"
Candrasih tidak menjawab, karena ia pun tidak mengetahui apa yang dia rasakan. "Hatiku seperti terluka Romo! terasa perih!"
"Sudahlah anakku, kau harus belajar merelakannya! mudah-mudahan kau akan mendapatkan ksatria pengganti yang lainnya.
Candrasih tidak menjawab, terduduk dan merenung, perkenalan yang singkat, ada rasa sesal saat teringat Wiratama tidak jadi membunuh guru dari rompak teluk Parigi, dan kejadian itu terjadi karena dia datang dan mengajak Wiratama pergi. Andai Wiratama membunuhnya, Candrasih tidak akan merasakan arti kehilangan.
"Aaarkh...cinta selalu membawa penderitaan di saat ada perasaan kehilangan.
Cinta datang dan pergi sesukanya, tanpa pernah perduli kepada yang di hinggapinya.
__ADS_1
"Cinta" terbanglah...jangan kau pernah hinggap kepada insan-insan yang tidak tahan terhadap penderitaan.