Badai Di Gunung Ciremai

Badai Di Gunung Ciremai
Pertemuan Rahasia


__ADS_3

Kemudian mereka bertiga duduk di bawah pohon yang rindang, "Kakang Wisesa, bagaimana kabarmu selama ini?" Wiratama membuka percakapan, berusaha untuk merubah suasana pembicaraan mereka. Tampak wajah Ki Wisesa sekarang berseri-seri, tidak memasang wajah dingin lagi, tidak seperti saat-saat pertemuan pertama kali. "Dimas Wiratama, setelah kepergianmu aku tidak tergabung lagi di kesatuan manapun, karena setelah peristiwa yang menimpamu, akupun ikut mengundurkan diri, tetapi kemudian Gusti Panglima Mandala Putra memintaku untuk bergabung di kesatuan Pasukan bayangan yang bertugas menjalankan misi-misi rahasia". Wiratama menatap Ki Wisesa "aku mempercayai kemampuanmu kakang, selain itu yang lebih penting kau mempunyai kesetiaan yang tinggi terhadap tugas, selanjutnya bagaimana menurut pedapat kakang untuk menyelesaikan permasalahan yang menimpa nyai Gendis?" Wiratama mengajukan pertanyaan kepada Ki Wisesa.


"Dimas, sebagai prajurit kau pasti tahu apa yang harus kulakukan saat ini, tetapi karena memandangmu, aku memberikan sedikit kelonggaran, bagaimana jika engkau ikut bersamaku menghadap Gusti Panglima Mandala Putra?" Nyai Gendis memegang lengan Wiratama, "Jangan Kangmas, aku tak mau ada sesuatu yang buruk terjadi padamu, biarlah aku akan ikut bersama Ki Wisesa menyerahkan diri kepada Gusti Panglima untuk mempertanggung jawabkan perbuatanku". Setelah mendengar perkataan Ki Wisesa dan nyai Gendis, Wiratama terdiam untuk berpikir.


Ki Wisesa seorang Pendekar yang penuh pengalaman, ketika mendengar sesuatu yang menyangkut masalah pribadi antara Wiratama dan Nyai Gendis ia berpamitan untuk beralih ke tempat lain dengan alasan untuk mengambil perbekalan yang tertinggal, "Dimas aku menunggumu membuat keputusan", kemudian beranjak pergi.

__ADS_1


"Kangmas Wira, kau telah banyak membantuku, aku pamit padamu untuk menghadapi semua resiko yang telah aku lakukan, aku tidak takut menghadapi hukuman seberat apapun", kemudian Nyai Gendis menundukan wajahnya "yang aku tidak tahu, apakah aku siap jauh darimu Kangmas, terus terang selama hidupuku baru kali ini aku merasakan kebahagiaan, maafkan aku Kangmas!" , terlihat air mata Nyai Gendis membasahi pipinya, "Nyai, tidak perlu meminta maaf tidak ada yang salah darimu, aku memghargai perasaanmu padaku, tetapi"...Nyai Gendis memotong kata-kata Wiratama "cukup Kangmas, aku tidak memerlukan jawaban tentang perasaanmu padaku, cintaku tidak membutuhkan jawaban, aku tetap akan mencintaimu, walaupun gunung di depanku runtuh, ataupun langit di atas ku rubuh", Nyai Gendis terisak-isak menahan kesedihan hatinya.


"Nyai, apa yang kita akan hadapi kedepan tidak selalu sesuai dengan perkiraan, Aku akan ikut denganmu menghadap Gusti Panglima!" Nyai Gendis menatap Wiratama dengan wajah ke khawatiran "tapi Kangmas, aku tak ingin sesuatu yang buruk menimpamu karena ikut menanggung perbuatanku". "Aku sudah membuat keputusan nyai, kita hadapi bersama, Nyai Gendis mendekap Wiratama dengan erat, "terimakasih atas pengorbananmu Kangmas!".


Mereka bertigapun melanjutkan perjalanan, Wiratama dan Nyai Gendis terpaksa mengalihkan tujuan mereka yang sebelumnya akan ke Parang tritis.

__ADS_1


Di kawasan Candi Prambanan bagian timur Wiratama dan Nyai Gendis menunggu di tempat yang telah di tentukan, Nyai Gendis terlihat tegang saat-saat penantian tersebut, berbagai perkiraan berada di pikirannya, antara khawatir dan takut saat nanti menghadapi Panglima Mandala Putra yang pernah ia coba untuk di bunuhnya, sementara itu Wiratama duduk bersila sambil mengawasi keadaan sekitarnya.


Malam semakin gelap mencekam, udara dingin menusuk tulang. Nyai Gendis mendekati Wiratama yang sedang duduk bersila, "Kangmas kabut yang turun disini terasa tidak wajar, kita harus waspada!" Wiratama memejamkan matanya kemudian ia mempertajam mata bathin, ada beberapa pergerakan yang sangat halus yang dirasakannya, mendadak selarik cahaya kecil meluncur cepat menuju tempat duduknya, "Wuuuth.....blaaarh...Wiratama melompat setelah mendorong tubuh Nyai Gendis ke samping, alas batu yang tadi di dudukinya hancur berkeping - keping, "nyai berhati-hati lah!"...ternyata serangan gelap itu kembali menyerangnya, puluhan cahaya kecil bertaburan meluncur ke arah tempat Wiratama berdiri, Wiratama mencabut tombak pendek di punggungnya dan memutar dengan kencang menciptakan angin yang menggebu menangkis seluruh senjata-senjata gelap, trang...trang...trang.


Teriakan yang menggema memecahkan keheningan malam, "Hiaaaath....wush....wush...sesosok bayangan hitam menyerang dengan tongkat besi mengarah ke atas dan bawah. Wiratama yang mengelak serangan itu kaget luar biasa, karena angin dari senjata itu sangat berat dan menekan dirinya, Tombak pendek yang dia pegang di lintangkan di depan dada mempersiapkan diri untuk menerima serangan-serangan lanjutan. perkiraan Wiratama tepat, sosok yang berdiri di depannya tidak memberikan kesempatan untuk membuka percakapan, kembali serangan-serangan yang berbahaya di lakukannya, "Wuuth...wuth...dhearh.....dheaaarh....ujung tongkat itu berputar berdesing menimbulkan angin yang terasa menusuk tulang, dan kembali mengenai permukaan tanah yang di pijak oleh Wiratama, Wiratamapun membalas menyerang dengan Tombak pendeknya, dengan tenaga dalam penuh tombaknya berusaha menusuk perut lawan, penyerang gelap itu tidak berusaha menghindari serangan Wiratama, ia menyongsong kedepan menangkis sejumlah serangan dari Wiratama, "Dhuaaarh....dhuaaarh...dhuaaarh berkali-kali terjadi benturan senjata yang menimbulkan suara sangat keras dan pijaran-pijaran api yang terang, "Urghhhh....akibat benturan senjata itu tubuh Wiratama terjajar dua tombak ke belakang,

__ADS_1


Wiratama melihat penyerang itu kokoh berdiri, setelah benturan senjata yang terjadi, wiratama menyadari kekuatan tenaga dalamnya kalah satu tingkat dibawah. "Tenaga dalamnya sudah berada di puncak, aku harus menghindari benturan senjata dengannya", gumam Wiratama sambil memperkokoh kuda-kudanya. Nyai Gendis yang melihat posisi Wiratama yang terdesak membantu menyerang, ia melompat membabatkan kedua pedang kembar ke arah kepala dan dada, "Hiaaat.....Dhuaaarh...dhuaaarh....serangan kedua pedang itu di tangkis dan kembali menimbulkan benturan keras, "Aaaarghhhh.....Nyai Gendis jatuh terpelanting dan berguling guling akibat benturan senjata dan adu tenaga dalam dengan penyerang gelap tersebut.


__ADS_2