Badai Di Gunung Ciremai

Badai Di Gunung Ciremai
Telaga Kerinduan


__ADS_3

Wiratama berlari hampir separuh waktu, dengan kecepatan Menjangan kabutnya, jarak yang sudah di tempuh sangat jauh dari pasukannya. Tanpa disadari, dia berhenti di tepian telaga yang jernih.Telaga itu airnya terlihat bening, pepohonan sekitarnya pun rindang, menambah keindahan telaga itu. Wiratama menjatuhkan badannya yang lelah di rerumputan yang hijau, kemudian menghirup udara yang sangat segar, baru kali ini aku merasakan ketenangan "gumamannya di dalam hati.


Saat pandangannya menatap pepohonan, ia melihat sepasang merpati yang sedang memadu kasih di dahan pohon cemara, berdekatan seperti tak mau dipisahkan,


Karena melihat pemandangan itu, perlahan ketenangan Wiratama berangsur-angsur pergi, di gantikan kesunyian dan kesepian. "Saraswati, apakah kau masih hidup?" bagaimana dengan belahan jiwa kita?" terasa sesak dada Wiratama, mengingat semua peristiwa-peristiwa yang dia alami, kemudian Wiratama mengalihkan pandangannya ke permukaan telaga, wajah istri dan anaknya terlihat nampak sekilas, "Telaga! bersyukurlah kau tak pernah merasakan kesunyian seperti diriku!".

__ADS_1


Air mata Wiratama menetes, sampai membasahi punggung tangannya yang sedang menyangga dagu, "Wahai sang Penguasa Alam Semesta, jika memang istri dan anakku telah kembali pada Mu, berikan kebaikan Mu pada mereka, aku hanya ingin menyampaikan kerinduan".


"Anakku! sampai kapan kau akan seperti ini?" Wiratama terkejut dan berpaling ke belakang, disana telah berdiri Eyang Padasukma yang menatapnya dengan kasih sayang dan kesedihan pula. "Eyang!" Wiratama bangkit berdiri dan memeluknya, "marilah kita duduk anakku!" eyang Padasukma memapah Wiratama untuk duduk dengannya.


Kemudian keduanyapun duduk berhadapan, Eyang Padasukma berusaha tersenyum, "aku tak mengira, muridku yang gagah perkasa masih bisa meneteskan air mata" di mana keperkasaanmu saat ini Wiratama?" suara lembut Eyang Padasukma menyadarkan hati Wiratama.

__ADS_1


"Anakku, berkacalah di air telaga itu! kau kini berbeda jauh, lihat pakaianmu, apakah kau bangga dengan percikan-percikan darah yang mengotori tubuhmu?" apa yang kau peroleh saat ini? kepuasan hati? dendam telah mengotori hatimu!"


"Kesedihanmu adalah kesedihanku Wiratama!, tetapi tidak seharusnya kau berbuat seperti ini!" suara Eyang Padasukma lembut, tetapi membuat hati Wiratama merasa tersayat.


"Maafkan aku eyang, aku telah membuatmu kecewa, tetapi aku tak bisa menghentikan semua ini", Eyang Padasukma menghela nafas, "apakah kau akan melanjutkan tindakan - tindakan kejammu lagi?", "Kau tahu betapa aku menyayangimu seperti anakku sendiri! aku mohon hentikan semua tindakanmu!" eyang Padasukma menatap Wiratama. "benar eyang, aku harus melanjutkan semuanya" hutang darah harus di bayar dengan darah!" kesedihan Wiratama telah hilang wajahnya kembali membesi.

__ADS_1


Eyang Padasukma berdiri, ia sangat hapal betul dengan sikap muridnya dan tidak mungkin dapat mencegah segala tindakan Wiratama hanya dengan nasehat. hanya kesiaan belaka jika dia terus melanjutkan petuah-petuahnya. "Anakku, apakah kau tetap akan melanjutkan semua tindakanmu, meskipun kau harus berhadapan denganku?" Wiratama ikut berdiri, "Eyang, kita mempunyai cara yang berbeda dalam menghilangkan kekejian dan kekejaman dari perbuatan manusia, untuk Adiraja dan Arya Permana aku tidak mempunyai cara lain selain harus membinasakannya. "terpaksa aku harus melumpuhkanmu Wiratama!" Selesai berkata eyang Padasukma dengan cepat berusaha menotok jalan darah Wiratama, gerakannya sangat cepat, desh...desh...dua totokan itu bersarang tepat di jalur kesadaran.Tapi Wiratama tak bergeming, dia tidak roboh , "Eyang aku tak ingin menjadi murid durhaka", Eyang Padasukma sudah memperkirakan, betapa ia akan menempuh kesulitan dalam melumpuhkan Wiratama, tetapi dia telah bertekad, harus membawa muridnya demi kebaikan.


__ADS_2