
"Nisanak, Sampanmu tidak layak di pergunakan untuk berlayar di lautan, kemanakah arah tujuanmu?"
"Kami hanya ingin menyelamatkan diri Wira! di Pulau itu sangat membahayakan, selain menjadi markas para perompak, menurut ayahku pimpinan para perompak itu sangat sakti, tidak banyak orang yang bisa mengatasinya."
"Namaku Candrasih, dan ini ayahku bernama Ki Respati, wajahmu sangat tidak asing bagiku Wira, karena itulah aku merasa kau bukan orang lain bagi kami, kau sangat mirip seseorang yang kami jumpai di pulau Nusakambangan!"
Wirayudha menanggapi serius pernyataan dari Candrasih "Siapa yang kau maksudkan Nisanak? apakah aku mirip seseorang yang pernah berjumpa denganmu?"
"Bukan hanya mirip, kau seperti pinang di belah dua dengannya! namanya Wiratama, ya...Raden Wiratama, seorang Senopati Mataram!" Saat menyebutkan nama Wiratama Candrasih manarik nafas dalam-dalam, kemudian pandangannya beralih ke lautan lepas "Aku menaruh hati kepadanya walaupun perjumpaan kami hanya sesaat! sayang sekali aku harus mengubur perasaanku kepadanya!"
Wirayudha tertegun sesaat, sambil menahan gejolak hatinya, Wirayudha berkata dengan suara bergetar "Kemudian apa yang terjadi selanjutnya Nisanak?"
"Dia jatuh ke dalam Lembah Nirbaya, yang aku sendiri tidak tahu seberapa dalamnya lembah itu!"
"Ayahku membunuh dua orang yang telah mengakibatkan Wiratama terjatuh, Arungga si Pedang Kilat dan Maha guru dari Rompak Teluk Parigi...
Terlihat oleh Wirayudha, kepala Candrasih di tengadahkan ke atas langit saat bercerita tentang ayahnya, tetapi air mata yang menetes dari sisi matanya tidak membuatnya berhasil menyembunyikan kesedihan.
Seberapapun tangguhnya batin Wirayudha, cerita itu berdampak besar terhadapnya, perubahan terjadi pada bola matanya, mata itu menjadi sepasang mata ular yang hanya menyisakan setitik cahaya.
__ADS_1
"Byaaarh...Byaaarh...! suara deru ombak terdengar keras, menandakan ada dua buah kapal besar yang menghampiri mereka. "Nisanak sepertinya kita kedatangan tamu yang tak di undang! lindungi ayahmu!"
"Huaa...Ha...Ha...ternyata perahu mereka hanyut sampai disini! terdengar suara dari atas geladak kapal yang mendekat ke arah perahu, "Respatiiii....ternyata kau belum ****** di telan ombak!"
"Tenggelamkan perahu mereka!" terdengar perintah dari salah satu pimpinan Perompak.
Puluhan tombak berhamburan dari atas kapal menuju perahu yang di tunggangi Ki Respati dan Candrasih "Wuush...Wusshhh...Wuuushhh...!
"Blaaarhhh...Blaaarh...puluhan tombak terpental, tersapu gelombang air yang di kendalikan oleh Wirayudha.
Setelah Wirayudha mendengarkan cerita Candrasih, batinnya tergoncang...Kesedihan dan amarah melanda hatinya, menimbulkan kekuatan yang tidak dapat lagi di kendalikan.
Selain Candrasih, penghuni kapal perompak melihat gelombang besar datang dari arah selatan, "Blaaarh...Blaaarh...! Wirayudha melompat tinggi menaiki gelombang yang sebentar lagi terlihat seperti mengamuk.
"Keparatttt....Aku akan menghabisi kalian tanpa tersisa!!!....suara Wirayudha menggema mengalahkan suara gelombang air laut, terdengar menyeramkan dan membuat bulu kuduk berdiri.
"Habisi mereka!.....
Candrasih terpana melihat pemandangan di depannya, Ombak laut seperti mengerti perintah Wirayudha, dengan suara yang menimbulkan gemuruh, ombak berkekuatan besar menghantam Kapal para perompak.."Blaaarh...Blaaarhhh!
__ADS_1
Dinding kapal mulai jebol terhantam ombak, membuat sebagian penumpangnya jatuh ke dalam laut "Byuurh...Byuurh...tolong!...tolong!..terdengar teriakan mereka yang tergulung ombak.
Dari atas ombak yang paling tinggi, terlihat Wirayudha mengembangkan kedua tangannya ke atas, "Kraaaakh...Blaaarh...Blaarh...meluncur dua buah gelombang api yang besar dari kedua tangannya menghantam kapal yang hampir tenggelam.
"Kraaakh...Braaash...Brasshhh...Bara api yang besar dari mulut Wirayudha menyapu para perompak yang terapung di permukaan air laut.
Perlahan dan pasti kedua kapal yang sebelumnya terlihat megah, porak poranda terbakar kemudian terbelah dan tenggelam ke dasar laut. Puluhan mayat-mayat yang hangus dan gosong mengapung di sekitarnya.
Dari atas ombak Wirayudha memandangi akibat amukannya, ia melihat perahu kecil yang di tumpangi Candrasih dan Ki Respatipun hancur berkeping-keping.
"Byuurh...Wirayudha melompat ke dalam laut dan mulai menyelam, tidak lama kemudian ia pun melihat sosok Candrasih yang sedang berenang dan menyeret ayahnya di permukaan air laut.
"Wuush...tubuh Wirayudha meluncur dengan cepat seperti seekor ular yang akan menangkap mangsanya, meraih tubuh Candrasih dan Ki Respati secara bersamaan dengan kedua tangannya.
Kemudian dia berlari di atas air menuju kapal yang sedang berlayar.
Setelah itu mereka pun mendarat di geladak Kapal yang sedang di kemudikan oleh Ki Sawung Galih.
Setelah mendarat di geladak, Candrasih beringsut mundur saat dia melihat wajah Wirayudha yang di lapisi sisik ular, apalagi ketika melihat matanya berkilat, ada perasaan takut yang tidak terkira menghinggapi Candrasih.
__ADS_1