Badai Di Gunung Ciremai

Badai Di Gunung Ciremai
Pertempuran III


__ADS_3

"Macan Lodaya!!!" Ki Jamparing tersurut mundur. "Aku tak mengira, dengan jarak yang sangat jauh, aku menemukan macan lodaya di bumi Mataram ini".


Dari mulut Wiratama terdengar suara geraman, "Grhhhhh, lakukanlah apa yang kau mampu Ki jamparing!!!", "graaaakhhhh, berkelebat tubuh Wiratama menerjang, wush....wush...cakar-cakar Harimaunya mulai berusaha merobek-robek tubuh Ki jamparing. Ki Jamparing berusaha mengelak menghindar, sambil tangannya berusaha mengambil Kudjang yang dia lempar untuk menahan tombak Wiratama saat akan menusuk Anggoro Pati. "Ambillah Kudjangmu!" Wiratama menghentikan serangannya, Ki Jamparing memungut Kudjangnya sambil berkata "aku tahu, aku bukan tandinganmu pendekar!" tapi akupun tahu Macan Lodaya tak pernah mengampuni korbannya", jadi percuma saja aku memohon ampunanmu". Kudjang yang berada di genggamannya mulai di tusukan dengan kecepatan membentuk cahaya, cahaya itu bergulung-gulung menyerang Wiratama yang masih berdiri, Wiratamapun tak kalah cepat, dia mempergunakan jurus menjangan kabut untuk mengimbangi kecepatan Ki jamparing, keduanya saling serang, yang terlihat hanya kedua bayangan mereka.

__ADS_1


Pasukan Anggoro Pati yang melihat merasa cemas, dari kekuatan yang ada, mereka memang menang dalam jumlah, tapi posisi mereka terancam dan terdesak, karena kepandaian bertempur musuh jauh di atas mereka, Pasukan Guntur, pasukan Topan Gunung dan Laut walaupun menghentikan serangan, tetapi posisi mereka masih mengepung. Sedangkan pasukan badai masih belum turun di kancah pertempuran, mereka masih bersiaga menunggu perintah. Ki Seno Keling dan Ki Pandawa selain mengawasi jalannya pertarungan antara Wiratama dan Ki Jamparing, keduanyapun mengawasi tubuh Anggoro Pati yang masih terbaring di tanah karena luka.


"Graaaumh, terdengar suara Wiratama mengaum di lanjutkan dengan serangan - serangan cakar hariamaunya, cakar itu menepis serangan Kudjang dari Ki Jamparing dan melanjutkan ke arah wajah, breeth.., aaarkkh, Ki Jamparing melompat mundur sambil memegangi wajahnya yang terkena sayatan cakar Wiratama. Serangan itu mengakibatkan luka yang menganga dan mengeluarkan darah dari wajahnya. "pertahankan nyawamu kisanak!", sambil berkata demikian, Wiratama meloncat melanjutkan serangan, kuku - kuku jarinya yang tajam merobek perut Ki Jamparing yang masih berusaha berdiri karena menahan nyeri luka diwajahnya....Breeeth....."aaaakh.....perut itu robek mengucurkan darah yang menetes ke tanah, membuat Ki Jamparing jatuh terduduk, kemudian ia pun roboh, Wiratama melompat dan membungkuk di atas tubuhnya, dia melanjutkan serangannya mencabik-cabik tubuh Ki Jamparing, teriakan - teriakan Ki jamparing saat menahan cabikan Wiratama terdengar keras, membuat yang berada disekitar pertempuran begidik, merasa ngeri, jangankan pihak musuh, Ki Seno Keling dan Ki Pandawa sekalipun menutup matanya. Perlahan teriakan Ki Jamparing semakin hilang, Wiratama berdiri dan melangkah menjauh, sekujur tubuhnya penuh percikan darah.

__ADS_1


Wiratama meloloskan Tombak pendeknya, ia berjalan mendekat ke arah Anggoro Pati yang masih terlentang, "Ini balasan kedzaliman yang selama ini kau lakukan!" Bressssh....mata tombak itu terhujam di jantung Anggoro Pati, darahpun menyembur ke atas membasahi tombak yang masih tertancap, Anggoro Pati memghembuskan nafas terakhir.


Wiratama kembali menatap prajurit-prajurit Mataram, "kembalilah kalian, lakukan tugas kalian dengan baik, berikan kesetiaan kalian untuk kepentingan rakyat!!! bukan untuk kepentingan pemimpin kalian yang dzalim, Ia pun melesat pergi, berlari di atas pucuk-pucuk pepohonan. Kemudian semua pasukannya mengikuti meninggalkan medan pertempuran.

__ADS_1


__ADS_2