Badai Di Gunung Ciremai

Badai Di Gunung Ciremai
Tugas Rahasia


__ADS_3

"Romo, apa yang harus aku lakukan? mohon berikan aku nasihat, yang bisa membuat aku sadar". Mandala Putra bingung apa yang harus dia katakan kepada putrinya, jika ia menyarankan untuk melupakan, aah....tak mungkin dia setega itu untuk mengatakannya. "Anakku, jujur aku sendiri tidak tahu, betapa rumitnya permasalahanmu ini", sambil menahan kesedihan hatinya, Retno Ningsih pun merayu ayahnya, "romo, apakah kau ingin membuatku bahagia?", "pasti anakku!" dengan cepat Mandala putra menjawab, "Tolonglah aku romo!, carikan aku kabar tentang keberadaan Kangmas Wiratama", setelah berkata seperti itu Retno Ningsih menatap ayahnya untuk menunggu jawaban. "Baiklah anakku, aku akan mencoba mencari tahu tentangnya", setelah mendengar jawaban dari ayahnya, Retno ningsih baru bisa tersenyum puas, "terimakasih romo".


Sementara itu di pemerintahan kerajaan, Arya Permana telah menduduki kembali jabatannya sebagai Panglima Muda wilayah Barat, Sepeninggal Anggoro Pati, Arya Permana sibuk merekrut beberapa pendekar dari dunia persilatan untuk bergabung dengannya, karena dia sendiri tahu, kemampuan dalam olah kanuragannya sangat kurang, walaupun dia kini telah kembali sebagai Panglima muda, tetapi hatinya selalu merasa was-was, semua peristiwa yang menimpa keluarganya tidak hanya kebetulan, mulai dari dia sendiri yang mendapat masalah besar, Harta simpanan yang hilang karena pencurian, Ayahnya yang lumpuh karena terkena serangan orang yang tak di kenal, sampai kakaknya Anggoro Pati pun tewas dalam pertempuran. Dari beberapa pengawal-pengawalnya yang berasal dari dunia persilatan, terdapat seorang yang berilmu tinggi bernama Nyai gendis, seorang pendekar wanita, ahli dalam berbagai ilmu kanuragan dan ilmu gendam.


Dia berparas cantik, hanya sayang matanya memancarkan kekejaman, sehingga laki-laki yang kagum padanya pun tidak mau berlama-lama menatapnya. Nyai Gendislah pengawal yang sangat Arya Permana percayai saat ini, sehingga segala misi-misi yang di lakukannya, sebagian dia percayakan kepada Nyai Gendis.

__ADS_1


Suatu ketika Nyai Gendis pun di perintahkan menghadap Arya Permana untuk mendapat suatu tugas rahasia, Nyai Gendis di ajak ke sebuah ruangan yang di peruntukan membicarakan hal-hal yang penting.


"Nyai, sengaja engkau aku panggil seorang diri, ada sebuah tugas yang aku ingin hanya kau yang melaksanakannya!, saat berbincang dengan Arya Permana, Nyai Gendis tidak memakai etika antara pimpinan dan bawahan, karena ia sendiri tidak mau terikat dengan sopan santun yang berada di sekitar para bangsawan keraton, karena memang kehidupan di dunia persilatan luar sana, umumnya adalah orang-orang yang mempunyai jiwa bebas. Arya Permana pun tidak mempermasalahkan hal itu, yang penting dia merasa aman di kelilingi para pendekar yang sakti.


"Ha...ha...ha, aku tidak gila Nyai!" Arya Permana tertawa melihat Nyai Gendis terkejut, "apakah kau tak menyanggupinya Nyai?" sayang sekalii, aku kira kesaktianmu bisa menandingi Mandala Putra "Nyai Gendis merasa tersinggung dengan ucapan Arya Permana, "braaakhhhh...meja batu yang berada di tengah-tengah ruangan itu di pukulnya. sampai hancur "tutup mulutmu pangeran! aku tidak pernah takut terhadap siapapun, aku terkejut, karena menilaimu sinting!" mengharapkan pimpinanmu sendiri mati hanya karena kepentingan pribadimu "apakah kau tidak menghitung resiko yang akan kita hadapi nanti seandainya.orang lain tahu, yang kita hadapi nanti langsung Susuhunan Mataram!"

__ADS_1


"Nyai, tadi kau memintaku untuk berbicara singkat saja, kenapa kau sekarang yang banyak bertanya?" aku hanya menginginkan jawabanmu, "sanggup atau tidak, itu saja?"


"Aku sengaja memerintahmu untuk menjalankan tugas ini, karena engkau yang paling aku percayai untuk tugas ini, jika kau berhasil melaksanakannya, apapun yang kau minta akan aku berikan, bagaimana?" jangankan ribuan tail emas, seandainya kau minta untuk menjadi istriku pun akan aku sanggupi...he..he...he".


"Aku tak berminat menjadi Istrimu Pangeran!" aku lebih berminat pada ribuan tail emas yang kau janjikan, Arya Permana berdiri berjalan keluar, sesaat kemudian ia kembali, "ini hanya sebagai tanda jadi, jika kau sanggup menjalankan tugas ini, akan aku berikan berpuluh kali lipat, tangannya melemparkan sekantong penuh koin emas kepada Nyai Gendis, setelah memeriksa kantong itu, Nyai Gendis pun mengangguk, "baik Pangeran, aku akan melaksanakannya, tapi beri aku waktu yang tidak sedikit untuk melaksanakan tugas berat ini, karena yang nanti aku hadapi bukan orang sembarangan". "Baik Nyai...Arya Permana tersenyum puas menatap Nyai Gendis

__ADS_1


__ADS_2