Badai Di Gunung Ciremai

Badai Di Gunung Ciremai
Kabut Hitam V


__ADS_3

"Hik...hik...hik, kalian telah mengganggu kesenanganku!" tangan Dewi Pramudita yang mencengkeram rambut Putri Retno Ningsih semakin di naikan ke atas, membuat tubuh itu berdiri dengan wajah yang menatap ke depan dengan mata terpejam, "arrgkh...romo! tolong aku!" dari mulut putri Retno terdengar suara erangan kesakitan, membuat semua yang berada disana merasa tertekan dan marah, apalagi Panglima Mandala Putra sebagai ayahnya.


"Mundur kalian! aku hanya meminjam tubuh ini sementara!" Dewi Pramudita berteriak mengancam, tiba-tiba dari arah yang tidak terduga, sebuah kepalan tangan memukul pergelangan tangan Dewi Pramudita, "Hiaaath....desh...membuat cengkeraman di rambut Putri Retno Ningsih terlepas, bayangan itu langsung menyambar tubuh Putri Retno dan lompat menjauhi arena pertarungan. "Wussh...jleg,.."Gusti tolong amankan Nimas Retno, bawa ke belakang dahulu!". Panglima Mandala Putra dengan cepat meraih tubuh putrinya dan membawa ke belakang.


"Kakang kau terluka parah, cepat pulihkan dirimu!" aku yang akan mencoba menghadapinya!", bayangan itu mengingatkan kondisi tubuh Ki Sampang, kemudian berdiri menatap Dewi Pramudita yang masih marah. Ki Sampang dengan bersusah payah, sedikit demi sedikit mundur ke belakang sambil berteriak "hati-hati Wiratama! dia perempuan Iblis!"


Wiratama memang baru saja datang bersama Ki Wisesa, karena mendengar suara ribut-ribut, mereka berdua langsung meloncati pagar penjagaan dan menolong Putri Retno Ningsih yang sedang tersandera.

__ADS_1


Dengan tatapan yang tajam, Wiratama menegur sosok yang berdiri di depannya "Siapa kau Nisanak yang berani membuat keributan disini?"


Setelah melihat Wiratama, Dewi Pramudita terkejut, kemarahan di wajahnya sedikit demi sedikit berangsur hilang, berubah menjadi tatapan tercengang, "Kakang Purbaya, kau kah itu?"


Wiratama bersiap menyiapkan kuda-kuda serangan ketika melihat Dewi Pramudita mendekatinya, "Kakang Purbaya, apakah waktu yang telah lama berlalu, membuatmu melupakan diriku?"... Wajah Dewi Pramudita kemudian memperlihatkan kesedihan yang sangat mendalam.


"Nisanak, aku bukan Purbaya yang kau kenal!" siapakah dirimu?" Wiratama menatap Dewi Pramudita dengan penuh tanda tanya, semua yang melihat ke arah mereka berdua menjadi tegang, "aku Pramudita Kakang, kekasihmu yang ratusan tahun menjalani hukuman di Gunung Kemukus, maafkan aku yang telah membuat dirimu mengalami hukuman rajam!" terdengar suara isakan tangis dari Dewi Pramudita saat berbicara.

__ADS_1


"Kakang, jangan coba mengecewakanku!, sekalipun kau berubah menjadi debu, dengan cintaku, aku akan tetap mengenalimu di kehidupan manapun!" wajah Dewi Pramudita berangsur-angsur mulai terlihat marah kembali ketika Wiratama tetap menolak bahwa dirinya bukan Purbaya.


"Hiaaath....Dewi Pramudita meloncat dengan kecepatan tinggi mencoba menyambar Wiratama, "Hiaaath....desh...desh...tangan Dewi Pramudita yang mencoba menarik tangan Wiratama tertolak oleh kibasan tangan dari Wiratama.


"Kakang! kau memaksaku berbuat kasar kepadamu, hiaaath...wush...wush...pukulan demi pukulan Dewi Pramudita dapat di elakkan oleh Wiratama, kemudian Wiratama pun balas melakukan serangan, tendangan-tendangan dan pukulan beruntun mulai di lakukannya.


Wiratama melapisi tendangannya dengan Aji Selaksa Gunung, dan melapisi pukulannya dengan Badai gunung Ciremai, karena keduanya masuk dalam ilmu yang tergolong unsur panas, pukulan dan tendangannya berpengaruh kepada Dewi Pramudita.

__ADS_1


Setelah keduanya bertarung berpuluh jurus, Wiratama mempersiapkan diri untuk mengeluarkan Aji Macan Lodayanya, "Graaaaumh.......raungan suara Harimau menggelegar di sekitar kediaman Panglima Mandala Putra. "Slaash.....Dewi Pramudita menghilang dan tiba-tiba muncul di belakang Wiratama dan memukul punggungnya dengan kedua tangan yang berisi sinar awan gelap...Blarrrrh....., tubuh Wiratama tersungkur ke depan.


Sebelum yang lain menyadari apa yang terjadi kepada Wiratama, tubuh Wiratama yang tergeletak di sambar oleh Dewi Pramudita yang kemudian meloncat dan melarikan Wiratama. Ki Wisesa dan Panglima Mandala Putra berusaha mengejar, tetapi kecepatan Dewi Pramudita bukan tandingan mereka, keduanya hanya bisa melihat bayangan yang melesat dengan cepat menerobos kegelapan malam.


__ADS_2