Badai Di Gunung Ciremai

Badai Di Gunung Ciremai
Kemelut III


__ADS_3

"Ki Sampang dia adalah Wirayudha, putra dari Raden Wiratama!" Ki Wisesa mendekati Ki Sampang, "Nini Sangga geni sepertinya ada kesalah pahaman di antara kita! untuk meluruskannya lebih baik kita bersama ke kediaman Panglima Mandala Putra!".


Nini Sangga geni kemudian menanyakan kepada Wirayudha, "bagaimana Wira?, apakah kau mau ikut ajakan Ki Wisesa?", "Aku akan ikut keputusan Nini saja!", sahut Wirayudha, akhirnya mereka pun bersama-sama menuju ke kediaman Panglima Mandala Putra.


Sementara itu Wiratama beserta Nyai Gendis melakukan perjalanan ke Kotaraja guna mencari Wirayudha dan Nini Sangga geni yang tidak kunjung pulang. "Nyai kita harus cepat sampai di Kotaraja, aku mengkhawatirkan Wirayudha dan Nini Sangga geni." "Tenang saja Kangmas, apa kau meragukan kemampuan mereka? pastinya mereka akan bisa menjaga diri!".


"Itu yang aku khawatirkan Nyai! aku khawatir Wirayudha keliru memakai kemampuannya untuk melawan orang-orang yang seharusnya dia lindungi." kemudian mereka berdua menambah kecepatan larinya untuk mempersingkat waktu perjalanan.


Di Desa Perlak, Dewi Pramudita sedang berhadapan dengan Aswangga dan Ki Wanara, keadaan mereka sekarang sudah berbeda, terlihat dari rumah yang di tinggali saja terlihat sangat bagus di banding rumah-rumah penduduk sekitarnya.


"Aswangga, sudah berapa orang pendekar yang bisa kau kumpulkan untuk bekerja bersama kita?" terdengar suara Dewi Pramudita berbicara kepada Aswangga. Aswangga pun kemudian menyahut "kurang lebih sekitar Tiga puluh orang Nyai Dewi!"


"Tidak terlalu buruk Aswangga! aku rasa sudah cukup", "Apa yang akan kau rencanakan Nyai Dewi?" terdengar Ki Wanara pun ikut serta berbicara. "Aku merasa kekuatanku sudah pulih dengan sempurna Wanara, sudah saatnya mencari kembali Kakang Purbaya! dan memaksanya untuk mendampingiku kembali seperti dulu lagi".

__ADS_1


Aswangga dan Ki wanara tidak berani menanyakan tentang sosok nama Purbaya, tetapi Dewi Pramudita tahu pasti kedua Jagabayanya itu seperti penasaran dengan nama yang dia sebutkan.


"Purbaya adalah kekasihku, kami terpisah karena suatu sebab, dan sekarang aku ingin dia kembali di sisiku, apakah kalian bersedia membantuku?"... Ki Wanara dan Aswangga dengan cepat menjawab "kami bersedia Nyai Dewi, dimanakah kami bisa menemukannya?"


"Kami pernah bertarung di suatu tempat, tetapi sebelumnya kami bertemu di kediaman Panglima Mandala Putra, aku tugaskan kalian menyelidikinya! untuk ciri-ciri Kakang Purbaya, aku akan memberitahukan kepada kalian." Kemudian Aswangga dan Ki Wanara mendengarkan semua arahan dari Dewi Pramudita.


"Nyai Dewi, sepertinya aku juga pernah bertemu dengan orang yang mempunyai ciri seperti yang Nyai Dewi sebutkan, izinkan kami hari ini juga berangkat ke kediaman Panglima Mandala Putra", Dewi Pramudita kemudian berdiri "Baiklah segeralah kalian berangkat! aku akan menyusul kemudian. Keduanya kemudian berpamitan dan langsung berangkat.


Perjalanan Wiratama dengan Nyai Gendis telah sampai di kediaman Panglima Mandala Putra, mereka di sambut oleh Ki Wisesa. Suasana yang sangat berbeda di rasakan oleh Wiratama dan Nyai Gendis, karena mereka merasakan suasana begitu sepi, tidak seperti biasanya terdapat aktifitas para prajurit atau yang lainnya.


"Dimas, bagaimana kau bisa selamat dari marabahaya? dan kembali pulih seperti sekarang?", kemudian Wiratamapun menceritakan kejadian setelah dia di larikan oleh Dewi Pramudita, dan menjalani pertempuran dengannya yang kemudian mengakibatkan dirinya terluka parah. "Sangat mengerikan sekali kekuatan Dewi Pramudita itu Dimas! kemungkinan kalau aku yang menghadapinya aku akan tewas olehnya", sela Ki Wisesa. Kemudian Ki Wisesa pun menceritakan bahwa Nini Sangga geni bersama Wirayudha berada di kediaman Panglima Mandala Putra, Wiratama dan Nyai Gendis terlihat senang setelah mengetahui keadaan keduanya.


Setelah mereka bertukar cerita dan informasi, Ki Wisesa terdiam, di dalam benaknya sedang mencari alasan agar Wiratama sesegera mungkin bisa bertemu dengan Panglima Mandala Putra dan Putri Retno Ningsih tanpa dengan kehadiran Nyai Gendis, karena ia cukup paham dengan perasaan Nyai Gendis terhadap Wiratama, sedangkan Wiratama juga ingin segera menjumpai Nini Sangga geni dan Wirayudha

__ADS_1


"Nyai lebih baik segeralah kau beristirahat! perjalanan membuatmu terlihat lelah!" Wiratama menatap Nyai Gendis yang memang terlihat lelah "Aku ingin menjumpai Nini Sangga geni dan Wirayudha terlebih dahulu Kangmas!, belum tenang rasanya hatiku sebelum bertemu dengan mereka."


Situasi tersebut membuat Ki Wisesa bernafas lega, akhirnya ia menemukan jalan untuk mempertemukan Wiratama dengan Junjungannya terlebih dahulu.


Tetapi sebelum Ki Wisesa mengutarakan niatnya untuk mengajak Wiratama, terdengar suara yang keras dengan di sertai dentuman-dentuman akibat benturan tenaga dalam. "Kakang Wisesa apa yang telah terjadi?" Wiratama berusaha konsentrasi terhadap suara yang terdengar. "Akupun tidak tahu Dimas, mari kita menyelidikinya bersama-sama. kemudian mereka bertiga berlari ke arah sumber suara yang sepertinya tidak jauh dari mereka.


Terdengar bentakan suara yang keras oleh mereka "Perempuan tua! kau terlalu angkuh untuk mengakui kesalahanmu, apa kau berpikir hanya kau seorang yang mempunyai kedigjayaan di Mataram ini?" terlihat dua orang yang saling berhadapan di tanah pelataran kediaman Panglima Mandala Putra, terlihat Raden Gilang Seta sedang berhadapan dengan Nini Sangga geni, sedangkan tidak jauh dari mereka, Wirayudha sedang memperhatikan pertarungan.


"Hik...hik..hik, apa kau kira aku takut denganmu hanya karena kau seorang Panglima Muda?"...Setelah berkata demikian kepada Raden Gilang, Nini Sangga geni berpaling kepada Wirayudha, "Hei Wira! cobalah kau menjajal kesaktian seorang Panglima Muda Mataram ini!" Wirayudha meloncat dan mendarat dengan tepat di hadapan Raden Gilang Seta. "Bocah jangan kau bermain-main dengan situasi saat ini! aku tidak mau salah tangan terhadapmu!" terkejut Raden Gilang Seta, karena Nini Sangga geni menyuruh Wirayudha seorang pemuda tanggung untuk bertempur menghadapinya.


Keterkejutan Raden Gilang berlanjut ketika melihat Wirayudha menghilang dari pandangannya, beruntung dia adalan prajurit yang berpengalaman, nalurinya bermain. Sekejapan mata saat Wirayudha menghilang terasa berdesir angin halus yang terasa di tengkuknya, dengan cepat Raden Gilang Seta maju ke depan dan spontan kaki kirinya melakukan tendangan balik mengarah ke belakang. "Wussh.....Desh"..terjadi benturan tenaga kasar antara tenaga tendangan dan tenaga pukulan. Wirayudha yang memakai tenaga pukulan akhirnya nampak kembali dan terjajar dua tombak ke belakang.


Pertarungan keduanya di lihat oleh beberapa orang yang tersembunyi, termasuk Ki Sampang yang sedari tadi bersembunyi di atas tembok benteng yang dekat dengan gapura belakang.

__ADS_1


Wiratama, Ki Wisesa dan Nyai Gendis setelah mengetahui asal suara, tidak serta merta menghentikan pertarungan keduanya, dalam hati mereka masing-masing ada rasa penasaran dengan kemampuan Wirayudha saat berhadapan dengan lawan yang sesungguhnya, seperti yang terlihat saat ini, Nyai Gendis menoleh kepada Wiratama sambil tersenyum "Kangmas, aku ingin mengetahui kelanjutan pertarungan mereka."


__ADS_2