
Nini Sangga Geni dan Wirayudha telah sampai ke Kotaraja, mereka berjalan melihat-lihat keadaan pusat kerajaan Mataram. Ini adalah pengalaman yang pertama bagi Wirayudha bisa melihat keadaan yang berbeda untuknya,
__ADS_1
Nini Sangga tersenyum melihat Wirayudha begitu antusias dan banyak menanyakan segala sesuatu yang di lihatnya kepada Nini Sangga geni. "Nini, mereka orang kota, ku lihat pakaiannya sangat indah-indah, cantik-cantik serta gagah". "Kau pun gagah Wira!, tak perlu merasa rendah diri seperti itu, lagi pula manusia jangan kau lihat dari penampilan saja", Nini Sangga mengelus rambut Wirayudha yang berjalan di sampingnya. "Nini, apakah kita bisa makan disana?" tangan Wirayudha menunjuk sebuah kedai yang sedang ramai pengunjungnya, "ayolah, aku ajak kau makan disana, ku lihat makanannya sedap-sedap Wira!' mereka berdua masuk ke kedai dan memesan berbagai macam makanan. Wirayudha makan sangat lahap, makanan seenak itu belum pernah ditemuinya, Nini Sangga geni sambil makan melihat apa saja yang Wirayudha lakukan, "Mmm...nymm...nymmm saat mulutnya masih penuh dengan makanan, Wirayudha bertanya kepada Nini Sangga geni, "Nini, di meja paling ujung itu mereka sedang minum apa?" terlihat mereka sangat gembira sekali dan tertawa-tertawa". "Mmm...mereka sedang minum tuak Wira, tuak yang paling bagus berasal dari Tuban, nanti setelah kau cukup umur, kau boleh mencicipinya, saat ini kau belum boleh meminumnya".
__ADS_1
Nini Sangga dan Wirayudha tidak menyadari, saat sepasang mata sedang mengawasi mereka dari meja yang agak jauh. Dia adalah salah satu prajurit pengawal yang ikut mendampingi Pangeran Adiraja, prajurit ini sedang lepas tugas dan beristirahat, Keterkejutan menghampirinya saat dia ingat dua orang yang menyerang rombongannya itu ada di dekatnya, kemudian setelah membayar makanannya, dengan tergesa - gesa dia berlari melapor kepada Panglima muda Arya Permana. "Ada apa kau prajurit? apa kau meminta hukuman kerena ketidak mampuanmu menjaga keamanan ayahku?" Wajah Arya Permana penuh dengan kegeraman melihat prajurit ini. beberapa hari yang lalu juga baru dia melapor tentang peristiwa yang menimpa ayahnya. "Ampun Gusti, hamba mau melaporkan sesuatu yang sangat penting!", Arya Permana bertolak pinggang di depannya "Aku sudah mengirimkan beberapa prajurit untuk menyelidiki peristiwa kemarin, kabar apa lagi yang akan kau laporkan?", "Ampun Gusti, tadi hamba lihat di kedai dekat gerbang selatan keraton, hamba melihat dua orang yang menyerang rombongan kami kemarin, seorang wanita yang sepuh dan muridnya". Arya Permana menarik baju prajurit pengawal tersebut, "apakah kabar yang kau bawa ini benar?", dengan menggigil ketakutan ia menjawab dengan gemetar "benar gusti, hamba berani bersumpah". "Kalau begitu kau tunggu disini!" Arya Permana berjalan dengan cepat ke arah ruang pelatihan di kediamannya, dan memanggil salah satu pendekar pengawalnya yang sedang berlatih, "Ki Pralaya, segera kau bawa beberapa orang dari kita untuk menangkap pembunuh ayahku yang sekarang berada di dekat gerbang selatan Keraton, di depan ada prajurit sebagai pemandu tempatnya", Ki Pralaya dengan gesit melompat menghampiri, "baik gusti, mereka tidak akan lolos dari tangan hamba". "Ingat Ki Pralaya, kau selesaikan di tempat yang aman, jangan sampai tindakanmu nanti membuat peristiwa yang menyulitkan kita!", "Baik gusti, hamba segera berangkat", kemudian Ki Pralaya berangkat bersama sepuluh pengawal lainnya, mereka beruntung karena setelah sampai disana Nini Sangga geni dan Wirayudha masih beristirahat di mejanya, dan terlihat masih asik bercakap-cakap.
__ADS_1