
Saat mendengar seseorang yang menyapanya, Putri Reto Ningsih membalikan badan, terkejut dan terpana menghiasi wajahnya, mulutnya hanya bisa menganga dan tidak mengatakan apapun.
"Nimas, apakah kau baik-baik saja?", Putri Retno memandang Wiratama tanpa berkedip, "benarkah ini kau Kangmas?", Putri Retno mendekat, mengusap wajah Wiratama dan membelai rambutnya, Wiratama terdiam sambil memandang dengan penuh iba. "KangMas, katakan sesuatu lagi, agar aku yakin kalau kau adalah Kangmas Wiratama!" , Wiratama memandang Putri Retno dengan welas asih, "ini aku Nimas!" berkunjung ingin mengetahui kabarmu".
Putri Retno memeluk dan membenamkan wajahnya di dada Wiratama, tangisnya memecah dan terdengar suara yang mengharu, "Kangmas".... hanya itu yang bisa di ucapkannya.
__ADS_1
"Tak usah berusaha mengatakan apapun Nimas, kau terlihat sangat kurus", kemudian Wiratama menggandeng Putri Retno berjalan dan duduk di bawah pohon yang rindang. tidak ada kata yang di ucapkan mereka. Sepasang mata Panglima Mandala Putra yang melihat dari kejauhanpun terasa pedih, menggenang airmatanya, "anakku, aku tidak tahu apakah yang kulakukan ini benar atau keliru? aku hanya ingin membahagiakanmu", terlihat tangan Putri Retno masih memeluk erat lengan Wiratama sepertinya tak akan mau melepaskan pelukannya kembali.
Kita tinggalkan terlebih dahulu Wiratama, saat malam semakin larut dan bulan menyinari dengan temaram, di padepokan lereng Merapi milik eyang Padasukma terang benderang, kobaran api melahap semua isi Padepokan yang terbuat dari kayu-kayu Pinus, tak jauh dari kobaran-kobaran api, terlihat Eyang Padasukma dan Nini Sangga geni sedang berlompatan menghindari hujan panah yang datang dari sekelilingnya, " menyerahlah kau Padasukma!"...rumahmu sudah kami kepung dan tak mungkin kau bisa melarikan diri!"..Sambil tangannya berputar merontokan anak panah yang datang Eyang Padasukma berulang kali menjejakan kakinya ke permukaan tanah, lereng Merapi seperti terkena gempa bergerak merobohkan prajurit-prajurit yang sedang melemparkan tombak ke arahnya, "Arya Permana kau memang manusia culas sekolong langit!" suara Eyang Padasukma menggedek terdengar keras. "Ha...ha...ha, berteriaklah sepuasmu Padasukma!, hari ini kau harus jadi mayat yang akan terkubur di lereng Merapi!".
"Padepokan lereng Merapi mendapat serangan dadakan dari pasukan Arya Permana, ia menyerang bersama pasukan dan pendekar-pendekar pengawalnya dengan alasan membasmi pemberontak yang pernah menyerang pasukan Anggoro Pati.
__ADS_1
"Jarum-jarum beracun sudah bertebaran meluncur dari tangannya, membuat beberapa prajurit yang terkena langsung tewas terkena racunnya. "Hiaaath...slap...slap...majulah kau para pecundang", Nini Sangga geni akhirnya terpisah sekitar sepuluh tombak dari kedudukan Eyang Padasukma.
"Hiaaath....dhuaaarh....., tubuh Nini Sanggageni terlempar beberapa tombak, semakin jauh dari Eyang Padasukma, tubuhnya mengeliat merasakan sakit yang tak terkira, beberapa prajurit yang mengepungnya mundur dalam posisi tetap mengawasi, "Hoaaakh.....Argkh.....gumpalan darah keluar dari mulutnya, "siapa kau Kisanak yang berani membongkongku?" terlihat sosok pria yang tadi mendobrak pertahanan Nini Sangga geni sedang berdiri di depannya, "berdirilah, Danang Seta ingin memcoba kelihaianmu!".
Tiba - tiba dari arah belakang terdengar teriakan mengguntur, "Hiaaaath....Wush...wush...Danang Seta membalik mengangkat kedua tangannya untuk menahan serangan, Blaaarh.....Blarh....."Argkh......ia jatuh berlutut menahan sesak di bagian dadanya.."Hmm kau pikir hanya dirimu yang bisa menyerang dari belakang?"... Eyang Padasukma berdiri kokoh di depan Nini Sanggageni yang sedang berusaha untuk berdiri. "Pandanwangi, segera kau tinggalkan tempat ini, cepaaat!! Eyang Padasukma berkelebat menyerang ke arah Ki Danang Seta, sebelum serangan itu sampai, tangan Ki Danang Seta menyebarkan serbuk racun...Wusssh...."Arkh....Eyang Padasukma menarik serangan pukulannya, tetapi terlambat menahan nafasnya, "Akkkh.....Eyang Padasukma mundur beberapa tombak mendekat ke arah Nini Sanggageni, kedua matanya seperti terbakar, lehernya tercekik dan memuntahkan buih-buih hitam, akhirnya terduduk di samping Nini Sanggageni, "Hugh...hugh..Pandanwangi!, kau harus bisa meloloskan diri!" , "Kakang...kau tak boleh meninggalkanku!" air mata Nini Sanggageni berlinang melihat Eyang Padasukma yang semakin lama terlihat semakin lemah.
__ADS_1
"Saat aku mengerahkan Lahar Merapiku yang terakhir, itu saatnya kau harus segera lari! Eyang Padasukma berbisik kepadanya,.
"Haigh, seluruh tenaga dalam yang tersisa di kerahkannya, di salurkan di kedua lengannya, "Pandanwangi inilah saatnya!" "Hiaaaarth....Blam....blam....bergulung sinar biru melibas ke depan...menerjang berpuluh-puluh prajurit yang kemudian terbakar, Ki Danang Seta sekalipun ikut terserempet sebagian tubuhnya terbakar. "Hiaaath...Nini Sanggageni melombat sebat, berkelebat berusaha melarikan diri setelah menutup wajah Eyang Padasukma yang terbaring kaku ia berlari sambil menangis penuh penyesalan karena hanya berusaha membawa jenazahpun ia kesulitan dan tidak mampu. Teriakan-teriakan dari prajurit-prajurit yang terbakar tidak dia hiraukan.