Badai Di Gunung Ciremai

Badai Di Gunung Ciremai
Jiwa Yang Merana


__ADS_3

"Bocah gagah aku lupa siapa namamu, mau kah kau menyebutkan namamu untukku?" Dewi Pramudita mendekati Wirayudha yang berangsur-angsur kemarahannya mereda.


"Namaku Wirayudha Nyai Dewi, aku harap kau tidak perlu berpikir lagi untuk bersiasat, pertemuan-pertemuan kita yang terdahulu meyakinkan aku jika posisi kita memang berbeda."


"Hik..Hikk..Hik..Cah Bagus! kekerasan hatimu mirip sekali dengan ayahmu, tetapi kau tidak bisa egois, aku tahu Purbaya telah menghilang semenjak pertarungan kita yang lalu, dan kau memerlukan informasi mengenai ayahmu."


"Huh!...aku bisa mencari sendiri keberadaan ayahku Nyai Dewi!" Wirayudha masih menjawab dengan ketus.


Dewi Pramudita kemudian duduk di batang pohon yang rubuh, "Duduklah Wira! beri kesempatan aku mengutarakan sesuatu yang tidak kau ketahui! setelah itu, terserah kepadamu, apakah melanjutkan pertarungan kita atau tidak."


Ki Sawung Galih mendekat sambil bertanya "apa yang kau ketahui tentang Raden Wiratama Nyai Dewi?"


"Dari wangsit yang aku terima, dan informasi dari Kalong-kalong hitamku yang berkelana, Purbaya saat ini dalam keadaan tidak berdaya, ia dalam keadaan terluka parah."


Kemudian Dewi Pramudita berdiri dengan memasang wajah masghul, "Aku tidak perduli siapapun yang mati! tetapi aku tidak mau kehilangan Purbayaku, apapun akan aku lakukan agar Purbayaku selamat dan kembali dalam pelukanku!"

__ADS_1


"Satu-satunya yang bisa menyelamatkan Purbaya saat ini adalah Kembang Wijaya Kusuma, bunga misteri yang hanya 100 tahun sekali berbunga dengan warna bunga hitam".


"Apakah kau mengetahui tentang itu 'Cah Bagus?" Dewi Pramudita melirik ke arah Wirayudha. "Aku tidak mengetahuinya Nyai Dewi!" dengan jujur Wirayudha menjawabnya.


"Wirayudha!!.. Ksatria di medan perang!.. ayahmu memberi nama yang sangat gagah, sangat di sayangkan nasibmu terlunta-lunta di rimba persilatan, seharusnya kau terlahir dari rahimku, menjadi seorang Pangeran di sebuah kerajaan besar.


Dewi Pramudita memandang Wirayudha dengan sayu, ada linangan air mata yang nampak di bola matanya, "Kau tidak akan mengetahui, kenapa aku bisa sampai seperti ini! kau hanya mengenalku sebagai penyebar teror dan kematian! karena kau belum pernah merasakan jatuh cinta!"


"Dahulu kala aku adalah seorang Tuan Putri yang selalu di sanjung, di hormati dan di puja, hanya karena aku jatuh cinta kepada Purbaya, duniaa menghukumku!...tetapi karena kecintaanku pada Purbaya, aku rela hidup dalam penjara, nestapa dan merana, dan selalu berharap suatu saat nanti cinta kami akan abadi!!!....


Ki Sawung Galih, Wirayudha dan Rangganis mendengarkan keluh kesah Dewi Pramudita dengan diam seribu bahasa.


Di saat Wirayudha dan Ki Sawung Galih merenungkan setiap ucapan dari Dewi Pramudita, Dewi Pramudita sendiri bergerak cepat menyambar Rengganis dan membawanya pergi berlari.


Wirayudha bermaksud akan mengejar ke arah pelariannya, tetapi Ki Sawung Galih mencegah, "Wira, benar apa yang di ucapkan Dewi Pramudita, kita secepat mungkin harus sampai di Pulau Nusakambangan untuk menyelamatkan ayahmu. Setelah berkemas keduanya melanjutkan perjalan kembali menuju Pulau Nusakambangan.

__ADS_1


**Nusakambangan**


Pangeran Adiraja terlihat sedang mengumpulkan beberapa pendekar yang telah di taklukan Ki Respati, di hadapannya berdiri pendekar aliran hitam yang sebelumnya adalah tokoh-tokoh yang di jebloskan sebagai orang buangan oleh pihak Kerajaan Mataram, mereka adalah penjahat-penjahat kawakan yang dulu pernah berbuat keonaran.


"Pendekar-pendekar yang gagah perkasa, bukan maksud hatiku untuk memerintah kalian, aku hanya sekedar mengingatkan kalian saja, Ki Respati kini bukan lagi pimpinan yang cocok untuk kalian, salah satu dari kita yang sudah mengabdi kepadanya, tewas oleh Ki Respati hanya dengan alasan-alasan yang ringan."


"Lihat! apakah kalian ingin merasakan nasib yang sama seperti Arungga si Pedang Kilat, yang berakhir dengan kebutaan oleh kekejaman Pimpinannya sendiri?"


Tokoh-tokoh aliran hitam saling berpandangan, mereka mulai terhasut oleh olah kata Pangeran Adiraja.


"Ha...Ha..Ha...aku merasakan kalian mulai menyadari kekeliruan! aku yakin dengan kemampuan kalian saat ini, semuanya akan teratasi, Kapal-kapal tangguh kita miliki, kemampuan kalian yang gagah perkasa akan membuat kalian merasakan kebebasan dunia luar kembali, apakah kalian tidak menginginkan kebebasan di daratan?" apa artinya pulau kecil ini buat kita?... dengan kemampuan kita...semuanya akan mudah kita dapatkan!"


Salah satu pendekar ahli racun mulai tertarik dengan pembicaraan Pangeran Adiraja, "Menurutmu apa yang harus kita lakukan saat ini!"


"Hmmm....kita tidak perlu terburu-buru untuk menggapai harapan, pertama yang harus kita lakukan saat ini adalah membebaskan kalian dari tekanan dan aturan, apakah kalian memahami maksudku?"

__ADS_1


"Gempar Bumi", salah satu pendekar yang mempunyai kanuragan tinggi kemudian maju "Hei Adiraja! aturan yang menaungi kita saat ini adalah perintah dari Ki Respati, apakah menurutmu kita harus melenyapkan Ki Respati dan Putrinya?"


Pangeran Adiraja tersenyum culas, "kalian jabarkan sendiri apa yang aku jelaskan! aku tidak memaksa kalian untuk bertindak, hanya menjelaskan jalan terbaik yang harus di lakukan."


__ADS_2