Badai Di Gunung Ciremai

Badai Di Gunung Ciremai
Kabut Hitam Nusakambangan XIV


__ADS_3

Di pihak pasukan Mataram, melihat kepiawaian Nyai Seruni memainkan pedang, Raden Sangaji segera memerintahkan pasukan panah, kemudian ia pun berteriak dengan keras "Gandewa Perang!"...Pasukan panah membentuk formasi Gandewa Perang, mereka berdiri bersyaf beberapa lapis, syaf pertama mulai membidikan anak-anak panah mereka ke Nyai Seruni.


Busur terpentang dengan keras ke belakang, kemudian anak-anak panah melesat dengan penuh tenaga dan cepat "Sring...Sring...Traaash!" suara desingan anak panah terdengar memburu calon korban.


Nyai Seruni mengibaskan pedangnya dan kemudian memutar membentuk pertahanan yang kokoh sehingga tidak ada satupun anak panah yang mengenainya.


Tetapi Formasi Gendewa perang yang di peragakan Pasukan pemanah sangatlah hebat, desingan-desingan anak panah mereka tidak pernah habis, karena tiap-tiap syaf secara bergantian membidikan anak panahnya.


Tidak ada waktu bagi Nyai Seruni sedikitpun untuk sekedar menghela nafas apalagi mencoba untuk menyerang.


Setelah rasa lelah menghinggapi Nyai Seruni, "Sriiinggg...Jleeebh!... sebuah anak panah menancap dengan tepat di lengan kanannya, membuat pedangnya terlepas.


"Lingkaran Teratai!"...Raden Sangaji merubah formasi pasukan panah, Pasukan panah mulai membentuk formasi lingkaran teratai, mereka mengelilingi Nyai Seruni, membentuk tiga lapis syaf, dan terus menghujani dengan anak panah. Dari arah belakang Nyai Seruni dua anak panah melesat mengenai punggung dan kakinya, "Jlebh...Jlebh...Aaaakh!"


Nyai Seruni tersungkur ke tanah, anak panah yang lain pun kemudian menyusul menancap di tubuhnya membuatnya tewas tanpa sempat memperagakan Kanuragannya yang tinggi.


Melihat Nyai Seruni terkapar, para prajurit Mataram kembali merangsek ke depan tanpa kendala apapun lagi.


Perompak-perompak terpukul mundur dan tercerai berai karena Pangeran Adiraja sendiri yang tadi melihat tewasnya Nyai Seruni mencoba untuk melarikan diri ke arah Segara Anakan.


Raden Sangaji melihat gelagat yang di lakukan Pangeran Adiraja, membuatnya berlari mengejar, "Sraaaph..sekali lompatan membuat tubuhnya melesat dan menghadang langkah Pangeran Adiraja.


Raden Sangaji hapal benar dengan wajah Pangeran Adiraja, karena dulu saat jaman kejayaan keluarganya, orang ini terkenal bengis, culas dan kejam kepada siapa saja yang di anggap menghalangi keinginannya, apalagi putra-putranya adalah Panglima Muda Wilayah Barat dan Timur, membuat tindakannya semena-mena kepada orang lain.


"Berhenti kau manusia culas! Raden Sangaji menghunus pedangnya yang berlumuran darah.


Adiraja merasa kesal karena tujuannya yang hendak melarikan diri di ketahui oleh Raden Sangaji, Ia pun langsung menyerang dengan ganas, "Hiiiaaarh....Dhummm!" pukulan Lahar Merapi miliknya memburu Raden Sangaji yang kemudian bisa menghindar dengan cara melentingkan tubuhnya ke atas.


"Sraaang!...Sraaang!... kelebatan pedang dari Raden Sangaji berusaha memenggal kepala, tetapi Adiraja bisa mengelak dengan melompat ke belakang.

__ADS_1


"Dasar manusia licik! jurus-jurusmu pun menandakan kau manusia culas!" Raden Sangaji terlihat marah ketika serangan-serangannya gagal di karenakan Adiraja beberapa kali menggunakan tameng dari tubuh para perompak yang di korbankannya.


"Hiaaath...Dheegh...Tendangan Adiraja yang muncul dari balik tubuh perompak yang di jadikan pelindungnya tepat mengenai dada Raden Sangaji yang kemudian terjatuh.


Sebenarnya Raden Sangaji menggunakan taktik ular bersembunyi dalam batu, ia mempunyai kekebalan tubuh karena mempunyai Ajian Tameng Waja, tetapi karena melihat Adiraja yang berkelahi dengan cara licik Raden Sangaji berpura-pura terjatuh.


Adiraja yang tadi menendang dengan Ajian Selaksa Gunung, merasa yakin bahwa Raden Sangaji terluka parah membuatnya meloncat mendekat untuk memukul kepala Raden Sangaji dengan Ajian Selaksa Gunung kembali.


Pada saat tubuh Adiraja melayang untuk menyarangkan pukulannya, Raden Sangaji dengan cepat bangkit dan menebaskan pedangnya ke lengan Adiraja yang terlanjur melaju, "Wuuush...Craaash....Aaaakh!"


Lengan Adiraja terputus sampai dengan siku terkena tebasan pedang, tubuhnya jatuh dan mengerang kesakitan, darah terus mengalir dari bekas luka tebasan.


"Aaarkh...Ampuni aku Sangaji! paling tidak kau harus menghargaiku sebagai sesama bangsawan kerajaan!" sambil menahan sakit Adiraja mencoba mengharapkan ampunan.


"Setelah kau hendak berkalang tanah, baru kau mengakuiku sebagai saudara?" jangan harap aku mengampunimu Adiraja!"


"Ingat Sangaji! kau bukan seorang Ksatria jika membunuhku saat aku dalam keadaan tidak berdaya!"


Kepala Adiraja terpenggal dan terlempar jauh, akhirnya tamatlah riwayat Adiraja, seorang Pangeran dan bangsawan tewas dengan cara yang terhina sebagai pengkhianat kerajaan.


Raden Sangaji membersihkan mata pedangnya yang berlumuran darah, dengan baju Adiraja yang tubuhnya masih terlentang tanpa kepala.


Setelah mengatur nafasnya, kemudian kembali melompat untuk memimpin pasukan merangsek semakin ke dalam Pulau Nusakambangan.


Ki Respati, Candrasih dan Raden Wisnu Wardhana membuntuti arah Raden Sangaji saat berlari ke depan, merekapun sambil menewaskan beberapa perompak yang di temui.


Di balik rimbunnya pepohonan, Dewi Pramudita dan Rengganis sedang mengamati jalannya pertempuran, Dewi Pramudita menahan diri untuk tidak terlibat sengkata dengan pihak Prajurit Mataram, walaupun sebelumnya ia sudah mengikrarkan diri untuk membantu pihak para perompak.


Tetapi melihat Raden Wisnu Wardhana yang sedang bersama Candrasih dan Ki Respati, Kemarahan Rengganis akibat rasa cemburu membuatnya gelap mata, karena ia mengira ada hubungan sesuatu antara Candrasih dan Raden Wisnu Wardhana.

__ADS_1


Tanpa seizin gurunya, Rengganis kemudian menyerang Raden Wisnu Wardhana yang sedang sibuk menghadapi para perompak.


"Hiaaaat....Wuuush...Wussh!, pedangnya menyambar bagian belakang tubuh Raden Wisnu..."Craaash..Aaarkkh!"


"Anak bodoooh! Dewi Pramudita meruntuk sejadi-jadinya melihat kecerobohan Rengganis yang menyerang Raden Wisnu, tetapi dia belum mau keluar dari tempat persembunyiannya.


Melihat Raden Wisnu terluka, Candrasih menyerang Rengganis yang sedang tersenyum merasa puas.


"Hiiiaaat...Sringgg!" pedang Candrasih berkelebat menyerang Rengganis, karena serangan itu sangat cepat membuat Rengganis menangkis sejadi-jadinya.


"Tring...Tring, Pedang mereka berbenturan, karena tidak siap dengan serangan dari Candrasih, pedang Rengganis terpental jatuh.


Candrasih melompat sambil menendangkan kaki kanannya dari bawah keatas dengan keras, "Haiiikh...Wuuush ..Dheeegh."


Tendangan Candrasih tidak dapat di antisipasi oleh Rengganis, "Aaaakh....Brrruk!" Dagunya terkena tendangan dengan keras dan membuatnya terjengkang.


Rengganis walaupun seorang gadis yang keras hati, saat dirinya jatuh terlentang di tengah-tengah musuh yang banyak, membuatnya berteriak "Guruuuu...tolong Aku!" sambil pandangannya di arahkan ke tempat persembunyian Dewi Pramudita.


Teriakan Rengganis memancing perhatian Raden Sangaji beserta yang lain untuk memperhatikan arah pandangan Rengganis yang menuju atas rerimbunan pohon-pohon.


"Bidik arah pepohonan di sana!" Raden Sangajipun memerintahkan Pasukan Panah untuk membidik pepohonan yang dia tunjukan.


Dengan tangkas, beberapa pemanah menarik busur dan membidik ke arah tempat persembunyian Dewi Pramudita. "Srraaaath....Sraaaath....Sraaath!"


Puluhan anak panah melesat bersamaan, membuat Dewi Pramudita mau tidak mau keluar dari tempat persembunyiannya dan merontokan seluruh serangan yang mengarah kepadanya.


Serangkum angin panas menghempaskan anak-anak panah yang meluncur, "Wwwush....Prakh...Praakh...!"


Dewi Pramudita mendarat di tanah dan langsung bersiaga untuk mengantisipasi serangan selanjutnya dari para Prajurit Mataram.

__ADS_1


Setelah melihat Dewi Pramudita Raden Sangaji menghardik ke arahnya "Ternyata kau bersekongkol dengan mereka juga Siluman betina!" Raden Sangaji bersiap untuk menghadapi Dewi Pramudita.


__ADS_2