
Wiratama sedang berdiri di tepi pantai Parang tritis, memandang deburan ombak yang datang silih berganti. Dia menatap surya yang mulai tenggelam, permukaan air semakin naik ke atas menyentuh kakinya yang sedang menikmati halusnya pasir-pasir pantai.
"Raden, mohon maaf aku mengganggumu", terlihat Ki Pandawa berjalan mendekat dan berhenti di sampingnya. "Tidak mengapa Ki, aku tak merasa terganggu, ada apakah kau mencariku?", "Aku ingin melaporkan perkembangan Arya Permana, ada informasi dari telik sandi kita, bahwa Arya Permana membawa pasukan sejumlah seratus orang mencari keberadaan pasukan kita ke arah Gunung Kidul". "Kapan mereka berangkat Ki?, ini kesempatan kita untuk menyerang, tetapi aku rasa kita serang mereka jangan terlalu dekat dengan markas, Gunung Kidul terlalu dekat dengan kita". Bagaimana dengan pendapatmu Ki?", "Mereka berangkat besok pagi, saranku kita jangan melakukan penyerangan raden, biarkan saja mereka bergerak mencari, kita hanya mengawasi saja". Aku rasa Arya Permana membawa pasukan liar, karena ia sekarang bukan Panglima muda lagi, jabatannya sudah di lepas dan tidak punya kewenangan membawa pasukan", ini hanya misi pribadinya". "Hmm....saranmu sangat bagus Ki Pandawa, aku akan biarkan mereka, sementara itu kita tinggalkan markas, kita bergerak menjarah harta keluarga Arya Permana, Ki Pandawa aku mohon bantuanmu hubungi pimpinan pasukan Topan Gunung Ki Seno Keling, supaya segera bersiap diri di Desa gelang-gelang dan menunggu perintahku selanjutnya", "Baik Raden!", Ki Pandawa undur diri.
Saat pasukan Arya permana sudah bergerak menjauhi Kotaraja atau Kotagede, Pasukan Badai mendekat ke arah Kotaraja, mereka mengawasi Istana keluarga Arya Permana dan Pangeran Adiraja. Hanya 10 pasukan badai yang di bawa Wiratama, selebihnya menunggu pasukan topan gunung di Desa Gelang-gelang.
__ADS_1
Di malam yang gelap gulita, beberapa orang meloncat dengan gesit ke atap istana kediaman Arya Permana, tanpa kesulitan yang berarti, mereka menerobos masuk dan menjarah harta benda keluarga Arya Permana, batangan emas dan koin-koin emas mereka ambil sampai habis, dan dengan cepat mereka pergi, tetapi saat mereka bergerak pergi, mereka di kejar oleh seseorang dengan kecepatan tinggi. Wiratama yang sedang mengawasi pergerakan pasukannya memberi tanda agar semuanya bergerak melarikan diri, menjauh dari Kotaraja, terjadilah kejar mengejar pada malam buta itu. gerakan orang itu sangat cepat, melampaui kecepatan anggota pasukan badai, sehingga baru saja sampai tepian kotaraja mereka sudah terkejar, orang tersebut langsung melakukan penyerangan, " Siapa kau perampok-perampok gila?", "jangan kau harap bisa melarikan diri sebelum jadi mayat!", pukulan - pukulannya langsung menyerang dengan ganas, tetapi anggota pasukan badai semuanya adalah orang-orang yang terlatih, mereka bisa mengelakan serangan-serangan itu, mereka balas melakukan serangan-serangan dengan serentak dengan membentuk Formasi pedang, serangan pedang 10 orang tersebut seperti ombak yang terus menerus, bergantian, sebagian melakukan serangan, sedangkan bagian yang lain melakukan pertahanan.
"Hentikan serangan!".... Suara Wiratama menghentikan serangan-serangan Formasi pedang pasukan badai, dan juga menghentikan gerakan orang tersebut.
Pangeran Adiraja kaget, karena ada yang mengenalinya, "Siapa kau perampok gila, berani sekali kau melakukan pencurian di kediaman kami?", "Aku tak perlu menjawab pertanyaanmu, tokh harta yang kau dan anakmu dapatkan hasil merampok juga dari rakyat" Wiratama sambil memberikan serangan tendangan Selaksa gunung, "hiaaat...dessh tendangan itu berbenturan dengan tangkisan tangan dari Pangeran Adiraja, tetapi Wiratama tak menghentikan serangan,
__ADS_1
Serangan pukulan kembal ia lontarkan, "wush...mengarah ke pinggang, Adiraja mengelak ke samping dan membalas dengan sebuah pukulan ke arah dada, tetapi ia tertipu, ternyata pukulan ke arah pinggangnya hanya sekedar tipuan, Wiratama melanjutkan tendangan yang di aliri ajian selaksa gunungnya mengarah punggung Adiraja, Desh......bugh, tendangan itu tepat mengenai punggung Pangeran Adiraja....Hoeekh....ia terjatuh dan memuntahkan darah segar, "Siapa kau sebenarnya? Ajian Selaksa gunung ini tidak sembarang orang yang mempunyainya?"...ia bangkit kembali sambil mengatur nafasnya.
"He...he...he, katakan saja kalau kau pun menguasai jurus ini Adiraja!".. kau kaget?" karena aku yang lebih muda, bisa menguasai jurus ini dengan lebih sempurna?" Pangeran Adiraja meloncat seperti terbang, lalu ia menukik, jari - jari tangannya mengarah kepala dan leher Wiratama. Wiratama membanting dirinya sehingga terlentang, dan mengarahkan kakinya ke atas menyambut serangan dari Pangeran Adiraja, desh....kembali terjadi benturan antara tendangan kaki Wiratama dengan pukulan Adiraja, pangeran Adiraja melompat ke belakang untuk meredam tenaga tendangan dari Wiratama.
Mereka terus saling bergantian serangan sampai beberapa puluh jurus. Sampai suatu ketika pukulan wiratama yang mengandung tenaga dalam tinggi menggedor dada Pangeran Adiraja dengan telak, "Dughhhh.....Aaakh......Pangeran Adiraja jatuh terlentang, "Hmmm.....hanya itu kemampuanmu bangsawan tua?" Wiratama melompat lalu menginjak kedua lutut Adiraja dengan keras, Kragh....kragh....."aaakh....terdengar jeritan kesakitan. "cukup sampai disini perkenalan kita, untuk pertemuan selanjutnya jangan harap kau kubiarkan hidup!" Wiratama berkelebat pergi, diikuti pasukan badai di belakangnya.
__ADS_1