Badai Di Gunung Ciremai

Badai Di Gunung Ciremai
Rengganis


__ADS_3

"Apa maksudmu Kangmas?" Wanita itu mendekat. "Nimas kau mendengar sendiri apa yang di ucapkan Nini Sampur, dan aku membenarkannya."


"Aku akan tetap mendampingimu! tapi kau harus berjanji untuk merubah sifat egoismu, apakah kau bersedia Nimas?"


Wanita itu menghentakan kakinya dengan keras ke tanah, kemarahannya makin nampak di wajah, "Apa yang ada pada diriku tidak akan aku rubah Kangmas! aku akan katakan kepada guru, kalau kau mengingkari janji!" kemudian dengan cepat ia pun pergi.


"Terserah kau sajalah Rengganis! apapun yang kau suka, aku tidak akan melarangnya!" Pria itu menarik nafas dalam-dalam.


"Anak muda, sepertinya kau terlalu banyak mengalah! dari mana asal kalian berdua?" masih dalam keadaan duduk di bawah, Nini Sampur mengajaknya bicara.


"Dia kekasihku Nini! namanya Rengganis berasal dari Gunung Sumbing, ia murid seorang petapa sakti Nyai Ambarukmo sekaligus guruku juga nini!".


"Hmm....tapi aku lihat, kau bukan seorang dari dunia persilatan, anak muda! kau lebih mirip putra seorang Bangsawan daripada seorang pendekar! siapa orang tuamu?"


"Aku Wisnu Wardhana, putra Raden Sangaji!"


"Aakh...ternyata kau putra seorang Panglima Muda!"....setelah berkata seperti itu Nini Sampur merasa menyesal karena menebak Ayah dari Wisnu Wardhana dengan jelas.


Raden Wisnu merasa terkejut, ternyata Nini Sampur mengenal ayahnya, "dari mana kau mengenal Romoku Nini?"


Tetapi nini Sampur segera menutupi ke khilapannya "Hik...hik..hik..apakah kau lupa anak muda! aku seorang ahli nujum?"

__ADS_1


Raden Wisnu pun tersenyum, "aku berterimakasih padamu Nini, telah lama aku ingin mengatakan seperti itu kepada Rengganis, tetapi aku merasa sungkan kepada guru, karena Rengganis adalah murid terkasih dari Nyai Ambarukmo."


"Pulanglah anak muda! aku tidak akan menanyakan kepadamu, bagaimana kau bisa menjadi murid dari Nyai Ambarukmo? tetapi aku mengingatkan kepadamu, berhati-hatilah!" Nini Sampur berdiri dan mempersilahkan Raden Wisnu untuk keluar.


"Terimakasih Nini, ini ada sedikit rejeki untukmu membeli kebutuhan" Raden wisnu menaruh Lima keping uang emas di tangan Nini Sampur, kemudian ia pun pergi.


Setelah Raden Wisnu pergi, Nini Sampur beranjak ke dalam dan merebahkan badannya ke dipan kayu reyot, saat tubuhnya terbaring dipan itu berbunyi bergemericit.


Tatapan nya menerawang menatap ke atap. "Akh...Kangmas Wiratama, kemana aku harus mencarimu?" kemudian Nini Sampur melamunkan kebersamaan dirinya dengan Wiratama, lamunan bersama Wiratama membuatnya kadang tersenyum dan sesaat kemudian menangis terisak.


Lamunan Nini Sampur tidak bertahan lama, terdengar suara keras dari pintu yang di tendang "Braaakh...! terlihat dengan congkaknya Rengganis berdiri di depan pintu gubuknya.


"Akkh...Nisanak, apa salahku padamu?" tubuh Nini Sampur terlentang di tengah-tengah halaman, "Plakh...plakh....tangan Rengganis menampar beberapa kali wajah Nini Sampur sehingga membuatnya terpelanting di tanah dengan sudut bibir yang berdarah.


"Kurang ajar! kau masih berkilah tua bangka! kau telah menghancurkan hubunganku dengan Kakang Wisnu! karena ramalanmu sekarang Kakang Wisnu pergi dariku!"


Nini Sampur menyeka darah di sudut bibirnya, "Hmm...aku tidak mengira perangaimu begitu buruk Nisanak! harusnya kau segera memperbaiki sikapmu! ternyata kau sangat bodoh dan picik!"


Mendengar hardikan Nini Sampur, kemarahan Rengganis makin meluap, ia pun melompat berniat akan menendang wajah Nini Sampur.


"Hiaaath....prakh...prakh! sesaat sebelum tendangan itu mendarat di wajah, kaki Rengganis terkena lemparan dahan kayu kecil, membuatnya mundur dan menahan rasa sakit di kakinya.

__ADS_1


"******* culas! siapa yang berani mencampuri urusanku?" Rengganis menatap seorang laki-laki tua yang berjalan mendekatinya.


"Aku Seno Keling! yang tidak bisa melihat kekejaman berlangsung di depan mataku!


Kakek Tua itu masih berdiri dengan gagah sambil bersidekap, tidak lama kemudian terdengar suara sepasang burung Alap-alap yang terbang di atasnya "Kraaakh....kraaakh!"


"Wajahmu cantik, tapi mulutmu busuk seperti kotoran! Ki Seno Keling menatap tajam Rengganis. Ki Seno Keling mengangkat tubuh Nini Sampur dan mendudukannya di bawah pohon. "Duduklah Nisanak, aku akan memberi pelajaran kepada anak ingusan ini!"


Rengganis yang sudah tidak sabar, seketika melompat dan berusaha menyarangkan pukulannya di wajah Ki Seno Keling.


Saat tubuh Rengganis melayang, tiba-tiba dia merasakan sambaran keras menerpa wajahnya. "Kraakh...kraaakh...plak...plak...!" sayap-sayap burung Alap-alap itu menampar wajahnya. membuat Rengganis mundur ke belakang.


"He...he..he..Alap-alapku sepertinya juga tidak suka kepadamu Nisanak!"


Tetapi Rengganis adalah perempuan yang keras hati, ia segera menghunus pedang dan melompat menerjang ke arah Ki Seno Keling.


"Hiaaath....Traakh...trakh..., Sambaran pedang dengan mudah di tangkis oleh tangan, "Wussh....Dessh..., tangan Ki Seno Keling tidak berhenti hanya menangkis, tangan itu mengayun dengan telapak ke arah bahu, membuat pedang Rengganis terlempar.


Di saat rengganis masih belum bisa menerima pedangnya terlempar dengan mudah, telapak tangan itu menampar beberapa kali di wajahnya..."Plak...plakh...plakh...! Aaaaakh! ia pun tersungkur di tanah dengan pipi yang memerah.


"Kau anak bau kencur!, baru mempunyai ilmu seujung kuku tetapi kesombonganmu sundul ke langit! apa kau mau melanjutkan pertarungan ini?"

__ADS_1


__ADS_2