
Nyai Gendis berlari dengan cepat sambil memondong tubuh seseorang di bahunya, larinya sebat melewati pohon-pohon besar.
Seharian penuh telah ia lewati tanpa kenal lelah, Sang Surya sudah mulai akan tenggelam, akhirnya Nyai Gendis pun menghentikan larinya dengan terengah-engah.
Hutan Pinus Pengger, Pohon-pohon Pinus berjajar dengan ketinggian yang sama, mirip para Prajurit yang sedang berdiri berbanjar bersiap untuk perang, pandangan Nyai Gendis menyapu sekitarnya sebelum membaringkan sosok tubuh yang berada di bahunya.
Dengan penuh kehatian tubuh itu di baringkan, dengan cekatan ia kemudian mencari daun-daun kering untuk alas kepala.
"Nyai, apa yang telah kau lakukan?" tubuh yang di baringkan itu akhirnya berusaha duduk di sampingnya. "Kangmas, maafkan aku melarikan dirimu dari kediaman Panglima Mandala Putra, aku tidak tahan setiap hari melihatmu berdampingan dengan Gusti Putri Retno Ningsih."
"Akh..Nyai! mengapa harus melakukan hal ini? apakah tindakanmu tidak terlalu berlebihan?" Sosok lemah itu ternyata Wiratama, yang baru saja di larikan oleh Nyai Gendis.
__ADS_1
Nyai Gendis memang melarikan Wiratama. Dengan menggunakan Aji Gendam Sukma miliknya, semua prajurit menjadi lengah, dengan cerdik ia pun mengkondisikan kamar Wiratama yang seolah-olah terjadi penculikan dengan posisi berantakan, ia hanya menambahkan percikan-percikan darah hewan yang di sembelihnya. Hal itu ia lakukan karena tidak tahan dengan kemesraan yang di di perlihatkan oleh Putri Retno Ningsih saat merawat Wiratama.
Dengan wajah yang tertunduk Nyai Gendis berkata lirih "Kangmas, aku tahu perbuatanku salah, mohon jangan kau marah padaku!" suaranya semakin tidak terdengar karena terselingi oleh suara isak tangis.
"Simpanlah dahulu tangisanmu Nyai!, kita berada di Hutan Pinus Pengger yang terkenal sangat wingit, karena untuk kembalipun tidak mungkin, lebih baik kita berjalan ke arah Barat menuju lembah, di sana ada mata air kecil, cocok untuk tempat kita beristirahat", "Kau mengetahui wilayah ini Kangmas?" Wiratama menjawab dengan anggukan. Nyai Gendis kembali mengangkat Wiratama di bahunya, dan membawanya berjalan sesuai arah yang di tunjukan Wiratama.
Kita kembali ke perjalanan Wirayudha dan beberapa tokoh yang baru saja tiba di kediaman Panglima Mandala Putra. Dengan perasaan masghul, Mandala Putra menceritakan tentang penculikan terhadap Wiratama dan menghilangnya Nyai Gendis.
Kondisi kamar itu masih seperti semula, belum di rapihkan, karena masih di perlukan untuk melakukan penyelidikan, barang-barang masih berantakan, dan ceceran darah kering masih berada di sana.
Setelah melakukan pemeriksaan, semuanya masih belum dapat menyimpulkan apa saja yang di dapat untuk menemukan titik terang. Apa yang terjadi masih menjadi tanda tanya besar bagi semuanya. tetapi tidak untuk Ki Sampang.
__ADS_1
Ki Sampang berjalan mendekati Wirayudha yang sedang duduk termenung, kemudian ia langsung duduk di sampingnya, "Wira, ada sesuatu hal aneh yang ku temukan mengenai jejak yang ada di kamar perawatan ayahmu!" Wirayudha berpaling menatap Ki Sampang "Apakah itu Ki? apa Aki bisa mengendus siapa pelakunya?"
"Untuk mengetahui siapa pelakunya, aku belum bisa memastikan Wira! hanya saja kau perlu tahu, ceceran darah yang berada di kamar, bukan darah manusia! aku yakin darah ini bukan berasal dari luka tubuh ayahmu! tetapi agar yang lain tidak menyimpulkan sesuatu yang keliru, aku rasa cukup hanya kita berdua saja yang tahu Wira!"
"Hari ini kita beristirahat saja dahulu Wira, besok kita keluar untuk melanjutkan pencarian keberadaan ayahmu!"
Sementara itu di lembah Hutan Pengger, Nyai Gendis sedang memangku kepala Wiratama yang berbaring, mereka beristirahat di bawah curug batu besar yang timbul menjorok, sambil membelai rambut Wiratama, Nyai Gendis berujar pelan, "Aku tahu yang aku lakukan sangat bodoh Kangmas! aku hanya ingin kau berikan aku kesempatan untuk merawatmu hingga sembuh, setelah itu kau boleh meninggalkanku!"
Nyai Gendis menatap ke arah api kecil yang dia buat untuk sekedar penerang, hatinya masih was-was khawatir ada pengejaran yang di lakukan dari para prajurit Panglima Mandala Putra.
Wajah Wiratama mendongak menatap Nyai Gendis "Nyai, aku tidak menilaimu bodoh atau apapun itu, aku mohon maaf telah membuat hatimu terluka dan berpura-pura tidak memahami apa yang telah terjadi",
__ADS_1
Nyai Gendis kemudian mengecup kening Wiratama dengan mesra, "lebih baik kita berbicara dalam diam Kangmas! aku tak ingin ada kata-kata di antara kita yang bisa melukai." akhirnya keduanya tenggelam dalam lamunan dan harapan masing-masing.