Badai Di Gunung Ciremai

Badai Di Gunung Ciremai
Kabut Hitam Nusakambangan XI


__ADS_3

Ombak besar yang bergulung tiada hentinya menghantam Kapal yang di tumpangi Wiratama, membuatnya terombang ambing seperti akan karam.


Wiratama berpindah berdiri di anjungan untuk melihat ombak yang semakin lama tidak terkendali. Dengan kemampuannya Wiratama mengendalikan Kapal dengan tenang, tidak terpengaruh dengan badai yang mulai datang.


"Hiaaath...Kraaaaakh...!, suara teriakan dan tenaga dalam yang tinggi terdengar oleh Wiratama, kemudian di susul dengan Ombak yang sangat tinggi melewati ketinggian Kapal, "Blaaaarhhh!... hantaman dasyhat menghancurkan kapalnya sampai berkeping-keping.


Enam orang yang berada di anjungan Kapal memperhatikan tenggelamnya Kapal yang di tumpangi Wiratama, salah satu orang yang terlihat sepuh dan masih gagah memdekati pemuda yang tadi menggunakan Ajian Naga Langit untuk mengendalikan Ombak.


"Cukup Wira! Kapal itu telah tenggelam! jika saja tidak memerlukan tenaga dalam yang tinggi untuk mengeluarkan Ajian Naga Langit, kami percayakan kepadamu untuk menenggelamkan Kapal-kapal perompak itu seluruhnya!"


Memanglah benar, pengawak kapal yang menyerang Wiratama adalah Ki Bondan Wiratama, Wirayudha dan bersama yang lainnya, karena mereka tidak mengetahui dengan benar siapa yang menumpangi Kapal tersebut.


Saat yang lain merasa pertempuran itu selesai, mata awas Wirayudha melihat seseorang dengan rambut yang meriap-riap melayang di atas permukaan air laut dan memandangi mereka.


"Eyang, tugas kita belum selesai, lihat di sana!" Wirayudha menunjukan sosok yang sedang melayang seakan-akan menanti kehadiran mereka untuk mendekat.


Wirayudha meloloskan Tombak bermata duanya, dan kemudian melompat ke atas permukaan laut.


Air laut yang di pijak Wirayudha sepertinya mengerti dengan keinginannya, permukaan air naik ke atas membawa tubuh Wirayudha untuk mendekat.


Wiratama sengaja menjauhkan dirinya agar tidak terlalu nampak oleh Wirayudha, tubuhnya melayang menjauh untuk menjaga jarak.


"Wirayudha mengacungkan tombaknya dan kemudian mengayunkan dari belakang ke permukaan air laut, "Hiiaaaath...Sraaath....Sraaash...Ujung tombaknya mengeluarkan sinar hitam yang melesat membelah air laut menuju tubuh Wiratama yang sedang melayang.


Sinar hitam yang datang di sambut dengan kedua tangannya yang kemudian mendorong ke depan, "Hiaaath....Dhuaaarh...Dhuuaarh...!"

__ADS_1


Melihat gelombang serangannya patah dengan mudah, Wirayudha menceburkan dirinya ke dalam laut yang sedang bergolak, "Sraaath....tubuhnya meluncur dengan deras dari dalam permukaan laut, kemudian muncul di bawah Wiratama yang sedang melayang di permukaan.


"Sraaaath....Tombak bermata dua dari Wirayudha menerobos dari bawah, di iringi buncahan air laut ke atas, Wiratama tak kalah akal menghadapinya, Tombak pendek yang berada di punggungnya sudah tergenggam di tangan.


Saat Tombak Wirayudha itu meluncur menuju tubuhnya, tombaknya berputar menangkis beberapa kali "Traaang....Traaang!"... menimbulkan pijaran api yang terlihat dari jauh.


Wiratama tidak hanya sekedar menangkis, tubuhnya melesat ke atas kemudian menukik ke bawah bagaikan burung Srigunting mematuk mangsa, "Sraaang...Dheaaarh...Dheaaar.


Tubuh Wirayudha berkelit lincah, bagaikan seekor Naga yang sedang membelit tombak, sambil mengelak, Tombak Cidro menebas dari atas dengan kekuatan dua lengannya "Sraaaang.....Dhuaaarh....beberapa kali benturan akhirnya mereka mengambil jarak sambil mengambil nafas.


Wajah Wirayudha begitu terkejut ketika melihat penampakan orang yang menjadi lawannya yang masih menggenggam Tombak pendek.


"Haaash....Romo kaukah itu?"


"Ha..Ha..Ha, kau sangat hebat anakku! romo sepertinya tidak dapat mengimbangi kemampuanmu!" Wiratama memandang Wirayudha sambil tersenyum bangga.


"Akan ku ceritakan seluruhnya kepadamu Wira!, kapalku hancur karena seranganmu! ajak romo untuk menumpang di kapalmu sekarang!"


Dengan gembira, Wirayudha kemudian mengajak ayahnya ke kapal yang dia tumpangi bersama yang lain, keduanyapun melesat menuju kapal mereka.


Betapa bahagianya Ki Bondan Wiratama bertemu dengan Putranya, lengkap sudah Ksatria yang dia miliki, bersama Cucu yang sangat dia sayangi.


"Ki Pandawa, Ki Seno Keling, Ki Sawung Galih dan Nini Sangga geni berada satu kapal bersama mereka.


Kemudian merekapun larut dalam bertukar kisah-kisah yang telah di jalani, baik kisah dari Wiratama maupun kisah dari yang lainnya.

__ADS_1


Ki Bondan pun menceritakan keadaan mereka yang sekarang sedang bersiap untuk melenyapkan kekuatan para Perompak yang berada di Nusakambangan yang sudah sangat meresahkan perairan di bawah kepemimpinan Kerajaan Mataram.


Pasukan-pasukan sudah terbagi di beberapa Kapal yang sekarang sudah mulai bersiaga di atas laut, dan para pasukan binaan mereka yaitu, Pasukan Badai, Topan dan Guntur sudah bersiaga untuk menunjang pasukan Mataram di bawah pimpinan Raden Sangaji yang kini berada di posisi tengah, di apit oleh kapal-kapal lainnya.


"Romo, tahan dulu seluruh Kapal untuk tidak segera mendarat di Nusakambangan, kita harus memggunakan strategi yang jitu untuk menyerang mereka, karena pertahanan mereka disana sangatlah kuat!"


Ki Bondan Wiratama kemudian melepas anak panah tanda berhenti berlayar untuk seluruh pasukan, kemudian mereka berdua pergi dengan berperahu kecil untuk menghadap Raden Sangaji sebagai pemimpin tertinggi pasukan Mataram.


Raden Sangaji yang sekarang di dampingi oleh Ki Respati dan Candrasih menemui keduanya. Sebelumnya mereka merasa aneh dengan penampilan Wiratama yang sekarang, beruntung dia datang bersama Ki Bondan Wiratama yang kemudian menjelaskannya, sehingga tidak ada kesalah pahaman yang terjadi.


Kemudian di kirimkanlah beberapa Caraka untuk menjemput pemimpin-pemimpin di Kapal masing-masing.


Akhirnya berkumpulah Ki Sampang, Nyai Ambarukmo, dan beberapa yang lainnya untuk mendengar strategi baru yang akan di laksanakan


Kesepakatanpun akhirnya tercipta, bahwa untuk penyerangan tidak akan di lakukan secara serentak untuk menekan jumlah korban di pihak mereka. Kapal-kapal akan berlego jangkar Lima ratus tombak dari garis pantai.


Wiratama dan Wirayudha di bantu dengan Ki Pandawa akan memimpin Regu Pandu tempur yang berjumlah sedikit yang akan melakukan pendaratan dengan berenang sampai daratan sebelum fajar, merekalah yang akan melakukan infiltrasi ke sarang musuh dan bertugas membuka pertahanan lawan di darat.


Setelah mereka berhasil, ada tanda khusus yang akan di berikan, itulah pertanda bahwa pasukan yang lain siap di terjunkan.


Untuk peranan Regu Pandu Tempur, Pasukan Badailah yang akan memegang kendali, karena pasukan ini tidak berjumlah banyak tetapi sangat efisien untuk pergerakan pasukan yang bersifat cepat dan singkat.


Lapis kedua akan di isi oleh pasukan topan sebagai pelontar senjata jarak jauh, yang bertugas menyerang lawan yang berada di luar jangkauan pertempuran senjata jarak pendek.


Setelah Fajar mulai menyingsing, seluruh pasukan gabungan melakukan pendaratan, dan menempati posisi masing-masing formasi pertempuran, untuk menunggu Komando penyerangan dari Raden Sangaji.

__ADS_1


Formasi-formasi pasukan telah di bentuk dengan bantuan informasi dari Ki Respati dan Candrasih yang sangat hapal daerah tersebut.


Pertemuan itupun berakhir dengan kesepakatan bahwa penyerangan akan di laksanakan dua hari lagi, agar seluruh Prajurit mengetahui tugas dan tanggung jawab masing-masing.


__ADS_2