
Wirayudha telah siaga, ia tidak mau gurunya mendapatkan bahaya dari pihak lain, saat Nini Sangga geni di kelilingi oleh prajurit-prajurit yang siap menyerang, dari belakang dia bergerak, tubuhnya dengan gerakan cepat melompat kian kemari, memukul punggung para prajurit dengan Tapak geni. "Hiaaath.....Degh....Degh...., beberapa prajurit yang terkena pukulan tersungkur jatuh. Sebagian yang tidak terkena pukulan menyerang Nini Sangga geni dan Wirayudha bersama-sama.
Tetapi apalah daya, para prajurit itu bukan tandingan Nini Sangga geni dan Wirayudha, tubuh-tubuh mereka terpelanting jatuh dan yang terkena pukulan oleh Nini Sangga geni terpental jauh sambil muntah darah.
"Nini, ayo kita pergi! aku mendengar serombongan prajurit sedang menuju kesini". Nini Sangga geni dan Wirayudha berlari menyelinap ke rumah-rumah penduduk untuk menghindari kejaran para prajurit.
Akhirnya peristiwa penyerangan kepada sekelompok prajurit yang sedang berpatroli menyebar ke seluruh wilayah Kotaraja.
Semua informasi mengenai Kotaraja bukan hanya sampai ke para petugas saja, tetapi informasi itu menyebar ke Dusun Perlak dan kediaman Panglima Mandala Putra.
__ADS_1
Karena banyak juga para pengawal di ekspedisi milik Ki Bondan Wiratama, akhirnya informasi tersebut pun sampailah di Kawasan gantung Parangtritis.
Di sebuah tempat tersembunyi, terlihat Nini Sangga geni dan Wirayudha yang sedang beristirahat, "Wira! kita harus berhati-hati semua petugas dari kerajaan sepertinya sedang memburu kita!", Nini Sangga geni terlihat mondar-mandir berjalan di depan Wirayudha. "Apa yang harus kita lakukan Nini?" Wirayudha terlihat kebingungan.
"Kau tidak perlu takut Wira!, aku masih bisa mengatasi semuanya, kita harus mencari semua yang terlibat pembunuhan Eyang gurumu Padasukma!".
Akhirnya mereka berduapun mulai menyusun siasat untuk menyerang markas pasukan wilayah barat yang saat ini di pimpin oleh Raden Gilang Seta.
Di kediaman Panglima Mandala Putra, Ki Wisesa dan Ki Sampang sedang menghadap, mereka melaporkan tentang situasi keamanan di Kotaraja, terdengar Ki Sampang yang sedang melaporkan pertama kali, "Mohon ampun Gusti Panglima!, kami sampai dengan saat ini belum mendapatkan kabar tentang Raden Arya Permana, apalagi para pendekar yang dahulu mendukungnya", Panglima Mandala Putra sesaat terdiam, kemudian dia pun mulai menanyakan perihal yang lain "Ki Sampang!, selain pembunuhan- pembunuhan misterius, aku dengar kemarin terjadi penyerangan terhadap prajurit yang sedang melakukan patroli, apakah itu benar?"
__ADS_1
"Benar Gusti! aku mendengar mereka adalah kelompok yang membalaskan dendam terhadap pembunuhan Pangeran Padasukma di lereng Merapi dahulu!", Panglima Mandala Putra mengerenyitkan keningnya "kelompok?" berapa orang yang melakukannya?".
"Menurut keterangan dari para prajurit yang sempat di serang, mereka adalah kelompok yang terlatih dan berjumlah banyak".
"Wisesa! cobalah kau selidiki!" Sepertinya ada keraguan di hati Panglima Mandala Putra terhadap keterangan dari Ki Sampang. Karena ia merasa ada keanehan, jika suatu kelompok berani membuat keonaran di dalam Kotaraja, berarti serangan ini sangat serius dan perlu di tindak lanjuti. "Aku tugaskan kalian berdua untuk koordinasi dengan Raden Gilang Seta dan Raden Sangaji!".
Sementara itu di barak prajurit kawasan barat, terdengar pembicaraan beberapa prajurit yang sedang bercakap berbisik- bisik. "Kang Sumarto kenapa kita harus berbohong melaporkan yang melakukan penyerangan itu sekelompok orang atau pasukan? masalah ini jadi bertambah runyam Kang!", terdengar salah satu prajurit memprotes keterangan dari prajurit lainnya. "Sudiro, apakah kau tidak malu, jika melaporkan kita di serang oleh nenek-nenek buntung dan pemuda ingusan? sedangkan pasukan kita tersisa hanya Empat orang yang hidup! kau pikirlah! lagi pula aku tadi memberikan ciri-ciri penyerang kita adalah ciri-ciri pasukan yang menyerang kita saat di Sragen!"
Kemudian Sumarto dan Sudiro melanjutkan pembicaraan mereka dengan Dua prajurit yang selamat saat di serang oleh Nini Sangga geni, terdengar kembali suara dari Sumarto "yang penting kita satu suara saat di tanyakan siapapun, bahwa yang melakukan penyerangan adalah pasukan yang terlatih, agar kita tidak terlalu kehilangan muka kepada prajurit-prajurit lain! kalian mengerti?", "Kami mengerti Kang!".
__ADS_1