
Punggung Wiratama masih tersandar di dinding goa, ia merelakan bahunya menjadi sandaran Nyai Gendis, "nyai, perjalananku panjang, dan memakan waktu yang tidak tahu sampai kapan, aku sedang dalam pencarian, Nyai Gendis memeluk lengan Wiratama dengan erat "Bayu, apa yang sedang kau cari?"... Wiratama bergeser mendekat ke arah api unggun untuk menghangatkan badannya, "terus terang Nyai, sebenarnya namaku bukan Bayu Wira, setiap orang yang tidak punya kedekatan denganku, nama itu yang aku pakai agar keberadaanku tidak tercium oleh Arya Permana". Nyai Gendis melepaskan pelukan di lengan Wiratama, "Akh...apakah kau pun punya permasalahan dengan dia Bayu?"
"Nyai, berhentilah kau memanggilku dengan nama Bayu, namaku Wiratama" Nyai Gendis terkejut kemudian beringsut mundur menjaga jarak, "kau....kau Wiratama, bekas seorang Senopati Mataram yang memberontak?" Wiratama memotong kata-kata Nyai Gendis, "aku Wiratama tidak pernah melakukan pemberontakan, mengarungi seluruh pertempuran demi kejayaan Mataram, tetapi karena kelicikan bekas junjunganmu aku di cap sebagai seorang pemberontak", kemudian Wiratama duduk bersila, "untuk menghindari pertumpahan darah di antara prajurit kami, aku mengundurkan diri dan pergi menjauh ke Tatar sunda, di sana aku mendapatkan ketenangan dan kedamaian, setelah itu semuanya musnah, Arya Permana membunuh anak dan istriku". Saat ini aku dalam pencarian, jika memang benar anak dan istriku terbunuh, aku ingin menemukan jasad mereka".
__ADS_1
Nyai Gendis terdiam, kemudian ia mendekati Wiratama, "Maaf, tidak seharusnya aku bersikap seperti ini, siapapun dirimu aku tak peduli, bagiku kau adalah Dewa penolongku. dan akupun tak mempermasalahkan mengenai namamu, Bayu Wira ataupun Wiratama, mulai sekarang aku akan memanggilmu "Kangmas Wira".... Wiratama melihat senyuman di wajah Nyai gendis. Wiratama membalas senyuman itu "terimakasih Nyai".
Sepekan kemudian Wiratama dan Nyai Gendis meninggalkan goa itu, Nyai Gendis telah sehat kembali berkat perawatan yang di lakukan Wiratama. Nyai Gendis terlihat memakai caping bambu yang di buatkan oleh Wiratama untuk menghindari para pengejarnya, pakaiannya pun kini lebih sederhana.
__ADS_1
"Kangmas, Apakah di Parangtritis adalah tempat tinggalmu?", "benar nyai, dan sementara demi keamananmu, kau boleh tinggal disana". kemudian mereka berjalan berdampingan.
"Ada apa kang mas, kenapa kita berhenti?" pandangan Nyai Gendis menatap ke depan, melihat di depannya ada beberapa orang yang berpakaian pendekar menghadang jalan mereka. "berhati hatilah nyai, sepertinya mereka dengan sengaja menghalangi jalan kita".
__ADS_1
"Berhenti kau Gendis! kau pikir setelah kepalamu tertutup caping, kami tidak mengenalimu?" Nyai Gendis kemudian maju ke depan "hik...hik..hik...Pralaya, baru saja kaki dan tangan mu sembuh, kau banyak tingkah di depanku!" selesai mengejek Ki Pralaya, Nyai Gendis mengayunkan tangan kanan nya dari bawah ke depan dada, ternyata ayunan tangan itu sebuah serangan jarak jauh yang berisi tenaga dalam yang kuat, "wusssh.....desh...tubuh Ki Pralaya terdorong mundur tiga tombak terkena serangan itu, "Hik...hiik...Aku pikir kau semakin kuat! bagaimana kau akan menghentikanku dengan kemampuan seperti ini?" beberapa orang yang berada di samping Ki Pralaya meloloskan senjatanya dan langsung menyerang ke arah tubuh nyai Gendis, tetapi sebelum pedang-pedang itu sampai, sebuah tombak pendek merontokan pedang-pedang itu, Trang....trang...trang....pedang-pedang itu patah dan berjatuhan di tanah, satu serangan dari Wiratama merontokan tujuh senjata sekaligus.
Nyai Gendis melihatnya, kemudian ia tertawa "ha..ha...ha, kau hebat Kangmas, Tujuh Harimau dari Tidar menjadi Tujuh Kucing yang mengeong di hadapanmu". karena kemarahannya tujuh harimau dari tidar langsung meloncat berbarengan mengarahkan pukulannya ke arah Wiratama, Wush....dearh...dhearh....dhearh....pukulan-pukulan itu di sambut oleh Wiratama dengan bentuk pukulan lagi, setelah kepalan mereka berbenturan terdengar suara teriak kesakitan dari ketujuh penyerang itu, "Aaarh....akh....arghhh...."jari - jari mereka serasa memukul batu yang sangat keras membuat jari-jari mereka patah, "Selaksa Gunung!!!, siapa kau anak muda?" sambil sempoyongan dan memegang tangannya mereka tercekat kaget.
__ADS_1