Badai Di Gunung Ciremai

Badai Di Gunung Ciremai
Siluman Laut


__ADS_3

Perahu kecil itu melaju menembus gelombang, Candrasih menengok ke belakang melihat daratan telah jauh di tinggalkannya.


Nafas lega di hembuskannya hanya sesaat, karena kini terasa lebih berat setelah melihat kondisi ayahnya yang tertelungkup di dalam perahu.


"Romo!...Romo!...setelah panggilannya di abaikan, Candrasih bergegas meletakan daun dayung yg sedari tadi di pergunakannya.


Sekujur tubuh Ki Respati basah kuyup terkena percikan air laut yang masuk ke dalam perahu, bibirnya terkatup rapat dan berwarna biru, pertanda racun masih menggerogotinya. Wajah Candrasih mulai nampak khawatir, tubuh Ki Respati di dudukan, kedua tangan Candrasih di letakan di punggung Ki Respati, mengalirkan tenaga dalam, berusaha untuk mendorong racun ke luar dalam tubuh.


Setelah beberapa saat "Uuugkk....Ukkkh! darah hitam bergumpal keluar dari mulut membasahi lantai perahu, "Aaarkkh!"....terlihat Ki Respati mulai sadar kembali. "Candrasih, hentikan penyaluran tenaga dalammu!, romo akan berusaha sendiri!"


"Hupph...Candrasih menarik kedua tangannya dari punggung Ki Respati, nampak keringat dari wajahnya yang bercampur dengan percikan ombak yang membasahi rambutnya.


Perasaan takut dan khawatir mulai mendera Candrasih di saat melihat sekelilingnya air laut yang bergelombang. Sebenarnya gelombang laut selatan bukanlah hal yang baru untuknya tetapi saat ini situasi sangat berbeda, perahu kecil tidak di persiapkan untuk menembus gelombang yang tinggi, buih-buih putih terlihat di antara percikan air. menambah perasaan takut kepada Candrasih.


Pandangan Candrasih beralih menatap raut wajah ayahnya, rambut ikal panjang berwarna putih, kerutan usia nampak di dekat mata dan dahinya, dagu yang kokoh dan berhidung sedang, menyisakan ke gagahan ayahnya saat berusia muda.


Kemudian terbayang di pelupuk mata saat-saat kecil duduk di bahu ayahnya, mengembara tak tentu arah, ibunya sendiri telah lama meninggalkan mereka berdua karena mengidap penyakit paru, berkelana tanpa atap, terik matahari dan dinginnya hujan membuat derita sang ibunda semakin parah sampai kemudian ajal menjemput.


Pangeran Respati, meninggalkan Mataram dengan alasan mencari kebebasan, meninggalkan seorang istri dan putra bernama Raden Sangaji. Dalam rentang waktu itu, dia pun mempunyai seorang putri dari istrinya yang lain, yang berasal dari tokoh dunia persilatan.


Seorang Pangeran kemudian berubah menjadi Datuk rimba persilatan itulah Ki Respati.

__ADS_1


Tak terasa air mata Candrasih mengalir deras di saat mengamati wajah ayahnya, Candrasih tidak akan perduli, apapun yang dunia katakan tentang ayahnya, baginya kasih sayang ayahnya tidak akan terbayar oleh apapun.


Ki Respati telah selesai bersemedi, kemudian punggungnya di sandarkan di tepi dinding perahu, "Anakku, kenapa ada kesedihan di wajahmu? telah lama romo tidak melihat air matamu semenjak ibumu tiada!"


"Romo, aku sangat menyayangimu! tolong jangan tinggalkan aku seorang diri!..Hukh...hukh...!"


"Belum saatnya aku meninggalkanmu Candrasih!... tersenyumlah!"...Uugkh...Urkh...batuk kecil mengeluarkan darah menghentikan ucapan Ki Respati.


"Romooo!....Romooo!...Bangunlah!" Candrasih memeluk ayahnya yang masih bernafas pelan.


"Urgkk....Racun Kala Srenggono memang lumayan hebat, tapi aku tidak akan kalah dengan racun ini Candrasih!" Ki Respati meletakan kepalanya di pangkuan Candrasih kemudian dia berbaring.


"Byarrh...Byarrrh...Suara ombak menindih suara panggilan itu, membuat Candrasih hanya mendengar dengan sayup-sayup.


"Byuuurh.....terdengar suara benda jatuh ke dalam air laut.


Tidak lama kemudian terdengar sebuah suara dari ujung perahu "Nisanak apakah kalian baik-baik saja?"


"Aaakh....Candrasih menjerit, merasa terkejut, melihat sebuah kepala muncul dari dalam air menyapanya "Siapaaa kau? ...Siluman laut tolong jangan ganggu kami!"


"Hupphh...Brush!....Air laut memercikan airnya ke atas bersama sosok tubuh yang melejit ke atas permukaan air kemudian berjumpalitan dan mendarat di dalam perahu tanpa suara.

__ADS_1


"Maafkan aku yang telah mengejutkanmu Nisanak!" laki-laki gagah teramat muda terlihat tersenyum kepada Candrasih, "Aku bukan siluman laut, akupun manusia seperti dirimu Nisanak! namaku Wirayudha!"


"Wiraaa!..Kau kah itu? tetapi kenapa wajahmu terlihat sangat muda?" Candrasih mengamati wajah Wirayudha dengan penuh selidik.


Wirayudha mengerenyitkan keningnya dengan heran "apakah kita pernah berjumpa Nisanak?"


Tatapan Wirayudha beralih kepada orang tua di pangkuan Candrasih. Tanpa memperdulikan jawaban Candrasih dari pertanyaannya, Wirayudha mendekati tubuh Ki Respati dan menyentuh bagian lehernya, dan mengambil percikan darah di lantai perahu.


"Siapa dia Nisanak? tubuhnya terkena racun yang sangat ganas!"


"Dia ayahku Wira!" Candrasih masih menatap wajah Wirayudha.


"Dudukan tubuhnya Nisanak! aku akan mengeluarkan sebagian racun di dalam tubuhnya!"


"Hiaaath....Desh...Desh...telapak tangan Wirayudha memukul punggung Ki Respati, "Hoekkkh....Arrrkh!...Ki Respati kembali memuntahkan darah bergumpal-gumpal berwarna hitam, dari atas kepalanya muncul asap tipis berwarna merah.


Wirayudha menarik kedua tangannya kembali, "Nisanak, aku hanya bisa mengeluarkan racun yang menyebar di sekitar jantung, di dalam pembuluh darah ayahmu, masih terdapat racun yang sewaktu-waktu mengganas kembali jika ia memaksakan diri menggunakan tenaga dalam!"


"Untuk sementara waktu, ayahmu tidak di perbolehkan menggunakan tenaga dalam atau tenaga kasar secara berlebihan!"


"Terimakasih atas bantuanmu Wira!" senyum Candrasih muncul di saat melihat wajah ayahnya yang berangsur-angsur merah, yang sebelumnya terlihat pucat pasi.

__ADS_1


__ADS_2