Badai Di Gunung Ciremai

Badai Di Gunung Ciremai
Kabut Hitam Nusakambangan


__ADS_3

Perompak-perompak yang bersiaga di depan Goa Ratu berdecak kagum melihat kemampuan dari Songgo Langit. Mereka belum bisa membayangkan bagaimana kemampuan Moksa Jumena, karena menurut bisik-bisik yang beredar di kalangan Perompak, kesaktian Moksa Jumena jauh di atas Songgo Langit dan Rakyan.


Ki Badra sudah mulai menyiapkan Nusakambangan dari segala serangan dan ancaman pihak luar, karena telik sandi yang mempunyai tugas di pesisir pantai Teluk Penyu, sudah melaporkan bahwa ada konsentrasi pasukan Mataram di wilayah mereka, selain berusaha membebaskan para tokoh-tokoh hitam di dalam pulau, Ki Badra mulai menyusun pertahanan dengan membuat benteng kayu dan parit di sepanjang pulau.


Pada saat Ki Badra mengawasi beberapa anggotanya yang sedang memasang tonggak-tonggak kayu, Adiraja menghadap kepadanya dengan muka kusut, "Ki Badra, aku akan melaporkan situasi yang sedang kita hadapi, apakah kau tidak terlalu sibuk?"


"Apa yang kau ingin utarakan Adiraja?" Ki Badra memalingkan mukanya ke arah Adiraja yang sedang berdiri di sampingnya. "Kita saat ini agak sulit mendapatkan informasi tentang kekuatan prajurit Mataram, dan strategi apa yang akan di lakukan mereka kepada kita, semua informasi dari telik sandi kita saat ini terputus!"


"Apa yang terjadi dengan telik sandi kita?" Ki Badra menatap dengan serius kepada Adiraja.


"Aku tidak tahu Ki, Merpati-merpati pembawa informasi untuk ke kita tidak pernah datang lagi, selain itu anggota-anggota kita yang sedang menjalankan penghadangan kapal-kapal niaga banyak yang terjebak oleh kapal-kapal patroli Prajurit Mataram."


"Huh...Kurang ajar, situasi ini tidak bisa di biarkan! kita akan beri pelajaran kepada mereka! aku akan perintahkan kepada Dimas Rakyan untuk memimpin anggota kita memberikan pelajaran kepada mereka!"

__ADS_1


"Adiraja, siapkan Kapal besar yang akan membawa Rakyan! aku ingin memberikan pukulan ancaman agar mereka tidak sesukanya bertindak!"


"Baiklah Ki Badra, akan ku persiapkan secepatnya!" kemudian dengan tergesa Adiraja segera pergi.


Adiraja meruntuk dalam hati, kenapa harus Rakyan yang di kirim, kenapa tidak Moksa Jumena atau Songgo Langit, sepertinya Ki Badra terlalu meremehkan kemampuan para Prajurit Mataram.


Keesokan harinya sebuah Kapal laut bertiang layar besar telah siap di dermaga, kali ini mereka di persiapkan untuk menjalankan misi menghadang Kapal milik kerajaan yang sedang berpatroli yang akhir-akhir ini banyak menenggelamkan rekan-rekan mereka.


Ki Badra dan Moksa Jumena berada di anjungan untuk memeriksa kesiapan para anggota mereka, "Badra!... selagi mereka berlayar kita harus segera menyebarkan kekuatan anggota kita untuk mengetahui keberadaan Hulubalang Keling yang masih belum kita temukan tempat penahanannya!"


"Lanjutkan semua tugas-tugasmu dulu Badra, sementara aku akan memeriksa ke tempat lainnya!"


"Sraaafh.....shaat..Aksi Moksa Jumena saat turun dari kapal menarik perhatian yang lain, karena ia turun dengan perlahan dan berjalan di atas udara tanpa pijakan, sampai kemudian kakinya menyentuh pasir di pantai. Secara tidak langsung ia memperlihatkan kepada yang lain bahwa ilmu meringankan tubuhnya sangat sempurna.

__ADS_1


Saat kakinya melangkah, butiran-butiran pasir yang akan di laluinya tersibak ke sisi-sisi yang lain, seakan butiran pasirpun merasa takut dengan sosok Moksa Jumena.


Ki Badra dan Rakyan masih menyiapkan segala perlengkapan yang akan di bawa, "Dimas Rakyan, aku percaya kepadamu, berikan peringatan keras kepada kapal-kapal yang mengganggu wilayah kita!"


Rakyan hanya menganggukan kepalanya, memang sifat Rakyan berbeda dengan yang lain, dia adalah tokoh golongan hitam yang rupawan walaupun sudah tidak muda lagi, karakternya tertutup dan pendiam, tetapi dulu dia sangat terkenal karena sangat kejam, tidak segan melakukan pembunuhan baik terhadap lawan maupun kawan yang tidak sepaham dengannya.


Rakyan kemudian memandang Adiraja yang sedang mengatur para anggota perompak yang akan ikut berlayar, "Kakang Badra, aku ingin dia ikut denganku!" sambil tangannya menunjuk Adiraja.


"Baik Dimas, aku akan perintahkan dia ikut denganmu." kemudian Ki Badra berteriak "Adiraja..bersiaplah! hari ini kau ikut berlayar!"


Adiraja dengan wajah masam kemudian menyahut, "Tapi Ki, aku lebih baik berada di sini mempersiapkan benteng-benteng pertahanan dengan yang lain!"..


"Srrraaat....dengan tidak terduga, Rakyan sudah berada di depan Adiraja, tangannya langsung mencengkeram baju Adiraja dan mengangkatnya ke atas, "aku tidak suka dengan kata penolakan! kau ikut!..atau saat ini juga kepalamu ku hancurkan!!!"

__ADS_1


Adiraja tidak sanggup melawan tatapan Rakyan yang terlihat penuh ancaman, akhirnya ia pun dengan terpaksa ikut serta dalam pelayaran.


__ADS_2