
Wiratama tergeletak memuntahkan darah, selain akibat pukulan, luka yang di dapatkannya akibat pertempuran batin dengan pemilik Teluh Kelabang hitam.
"Wisesa segera kau tolong Wiratama! sementara aku akan membawa Putriku ke kamar". Panglima Mandala Putra menggendong Putrinya masuk ke kamar, Ki Wisesa membawa Wiratama ke dalam kamar yang lain.
Setelah pagi tiba, berangsur-angsur kondisi Putri Retno Ningsih mulai sadarkan diri, wajahnya terlihat merah tidak pucat, di sampingnya Panglima Mandala Putra dengan tatapan khawatir dan lelah, tidak pernah lepas memperhatikan putrinya. "Romo, kenapa kau disini?" Putri Retno Ningsih siuman dan bisa duduk tanpa bantuan. "Aakh...anakku..kau telah sadar!....tanpa sadar karena rasa bahagia dan kesedihan yang bercampur, Panglima Mandala Putra memeluk putrinya sambil meneteskan air mata.
"Romo, perasaanku sangat berbeda, tidak ada rasa was-was yang membuat dadaku berdebar lagi, rasa sakit di sekujur tubuhku pun mendadak hilang!" ada senyum di wajah Putri Retno Ningsih walaupun masih terlihat lemah, "Bersyukurlah Nak! Kangmasmu telah berhasil menyembuhkan dirimu!". "Di mana kah dia romo? kenapa kau tak ajak kesini?" Panglima Mandala Putra menunduk pasrah "Ia sedang terluka dan sedang berusaha menyembuhkan diri di kamarnya, berdo'a lah semoga marabahaya menjauh darinya".
Saat tubuh Wiratama di baringkan di tempat tidur, Tujuh Harimau dari Macan lodaya telah hadir, membuat Ki Wisesa beranjak menjauh dan membiarkan Harimau-harimau tersebut duduk mengelilingi Wiratama, Wiratama membuka matanya, dalam kondisi masih berbaring ia pun berkata yang di tujukan kepada Ki Wisesa "Kakang, ku mohon kau keluarlah dahulu, tinggalkan aku bersama saudara-sauadaraku!" , "Baiklah Dimas!" Ki Wisesa bergegas keluar kamar dan menutup pintunya kembali, ia pun duduk bersila sampai pagi, menunggu setia di depan kamar sampai kemudian Panglima Mandala Putra membangunkannya.
"Wisesa, bagaimana keadaan Wiratama?", Ki Wisesa bangun dan kemudian menjawab "hamba belum tahu pasti Gusti, Raden Wiratama masih bersemedi berusaha menyembuhkan lukanya, dan menyuruhku pergi keluar dari kamar." Ki Wisesa berusaha menyembunyikan apa yang terjadi di dalam kamar. "Wisesa marilah ke depan, aku ingin mengetahui tentang Teluh Kelabang Hitam yang mendera putriku!"
__ADS_1
Ki Wisesa berdiri dan mengikuti Panglima Mandala Putra ke depan, merekapun duduk berhadapan. "Ceritakanlah apa yang kau ketahui Wisesa!". "Mohon maaf Gusti, hamba sendiri tidak terlalu paham terhadap ilmu Teluh ini, yang hamba tahu, penganut ilmu ini kebanyakan orang-orang yang tersesat dan memilih jalan bersekutu dengan bangsa lelembut." Panglima Mandala Putra akhirnya hanya terdiam pasrah.
Nun Jauh di Dusun Perlak di sebuah kamar yang mewah, Dewi Pramudita sedang bersandar di dinding, kamar itu berantakan seperti terkena lindu, di depannya terlihat belanga yang pecah berantakan dan air yang tercampur dengan kembang-kembang tujuh rupa yang tercecer.
"Huugh...ternyata dia telah sembuh dengan cepat, Harimau-harimau itu selalu membantunya". Dewi Pramudita merayap menuju pembaringan, kemudian dia bersemedi sambil berbaring. Pertarungan batin saat semalam dengan Wiratama membuatnya terluka dan menjadi lemah. "Dia sepertinya mempunyai hubungan yang istimewa dengan putri Panglima tersebut, aku akan berusaha membunuhnya agar Purbaya kembali ke dalam pelukanku, tak lama kemudian Dewi Pramudita tenggelam dalam semedinya.
Setelah tiga hari berjalan, Putri Retno Ningsih semakin baik kondisinya, dan mulai belajar berjalan serta duduk di taman Keputren. Di Pendopo yang berbeda, Nyai Gendis, Nini Sangga geni dan Wirayudha semakin gelisah karena mengetahui Wiratama yang sedang terluka masih belum keluar dari dalam kamar. "Nini, aku khawatir dengan keadaan romo! lebih baik aku memeriksa keadaannya saja", terlihat wajah cemas dari Wirayudha yang sedari tadi duduk dengan gelisah.
Setelah sampai di dalam kamar ayahnya, terlihat tubuh ayahnya masih terbaring yang sedang di kelilingi oleh Harimau-harimau yang ia pahami sedang berusaha mengobatinya. Ada sebentuk asap hitam yang mengambang di atas kamar itu,
Wirayudha berusaha mengusir asap hitam tersebut, "Haaaikh...kedua tangannya mendorong dengan tenaga dalam, muncul serangkum angin kencang yang mendorong asap hitam itu keluar dari dalam kamar.
__ADS_1
Asap hitam tersebut menggumpal dan terbang menuju keluar, Wirayudha tidak membiarkannya, ia pun dengan cepat melesat menerobos dinding-dinding tembok pembatas ruangan mengikuti arah asap hitam itu melesat keluar.
Di saat sukma Wirayudha pergi, Nini Sangga geni dan Nyai Gendis dengan rasa ke khawatiran yang tinggi berusaha menjaga tubuh Wirayudha.
Tanpa Nini Sangga geni dan Nyai Gendis sadari, ada beberapa orang yang sedang mengincar tubuh Wirayudha yang sedang mereka jaga.
"Hiaaaath.....dhuaaarh...dhuaarh...lantai tempat berpijak meraka hancur terkena hantaman serangan dari luar, beruntung Nini Sangga geni meloncat meloloskan diri sambil menyambar tubuh Wirayudha yang masih dalam kondisi duduk bersila, beberapa orang melesat mengurung Nini Sangga geni dan Nyai Gendis. "Tua bangka! serahkan tubuh itu...Hiaath....wush...wush...salah satu penyerang tersebut meloncat menyerang Nini Sangga geni, kedua tangannya memukul bagian kepala dan melakukan cengkeraman ke arah tengkuk, Nini Sangga geni hanya bisa mengelak karena lengannya ia pakai untuk membawa tubuh Wirayudha, pergeseran dan perubahan kaki- kakinya menyelamatkan dari serangan orang tersebut. Nyai Gendis meloloskan pedangnya dan segera berusaha memotong serangan-serangan yang mengarah ke Nini Sangga geni.
"Sraaath....trang...trang...pedang Nyai Gendis membentur senjata trisula yang memapas dari arah sampingnya, kemudian terdengar suara ejekan "He...he..he, tidak perlu kau ikut campur dengan mereka! kalau kau ingin belajar menari! lebih baik denganku saja". terlihat sosok pria yang berwajah bopeng tertawa menyeringai...
"Setan Alas....Hiaaath....Wugh....Wughh, pedang Nyai Gendis berkelebat dengan cepat, serangan itu membentuk gumpalan-gumpalan cahaya yang menyerang tujuh titik kelemahan lawan...."Breth....bretth....baju pria berwajah bopeng itu sobek melebar karena serangan pedang Nyai Gendis membuatnya meloncat ke belakang dengan wajah tegang.
__ADS_1