
Terasa panas telinga Arya Permana mendengar ejekan dan hinaan dari Wiratama, akhirnya ia pun berlari menghampiri, "Siapa kau yang berani menghadang Pasukan Mataram yang sedang melaksanakan tugas kerajaan?", Arya Permana melintangkan pedangnya di depan dada, kaki nya ia pentangkan selebar bahu.
Wiratama menatapnya tak berkedip, kemudian dilihatnya sekeliling, pasukan topan gunung dan pasukan badai sudah menguasai keadaan.
__ADS_1
"Tugas kerajaan mana yang kau laksanakan Permana?" sampai hari ini kau selalu membawa-bawa tugas kerajaan sebagaibalasan untuk mencapai kepentingan pribadimu!"
Berkelebat bayangan hitam mendekati Wiratama, jleghhh....berdiri di sampingnya, ternyata Ki Seno Keling yang berdiri disampingnya, "jangan kau kotori tanganmu dengan darah orang ini Raden", izinkan aku mencoba kepandaiannya", Wiratama menganggukan kepalanya seraya berbisik "lumpuhkan dia Ki, tapi jangan kau bunuh!" Ki Seno Keling membuka serangannya dengan sebuah tendangan berantai dari atas, "Wugh...wugh...wugh....tiga tendangan dia lakukan, Arya Permana tersurut mundur menghindari tendangan-tendangan tersebut, saat tendangannya luput, Ki Seno keling menyerang dengan kibasan-kibasan tangan, kibasan tangannya menyerupai sayap burung Alap-alap, kuat dan menimbulkan angin tekanan terhadap lawan. Arya Permana memapaki kibasan tangan itu dengan pedang, karena dalam perhitungannya tak mungkin tangan bisa mengalahkan kekuatan pedang,... Trang....trang...benturan itu menimbulkan percikan api, dan membuat pegangan pedang Arya permana menjadi goyah. "He...he...he, kau kira pedangmu lebih tajam dari tanganku?"...Ki Seno Keling mengekeh, ... "Lihat seranganku!"....jari-jari Ki Seno Keling terpentang , kemudian menusuk ke arah tenggorokan Arya Permana, Arya Permana lagi-lagi menangkis dengan pedangnya, tapi kali ini Ki Seno Keling tidak berusaha untuk menangkis kembali dengan tangannya, pentangan jari yang menuju tenggorokan, merubah arah, balik mencengkeram pedang Arya Permana....Kreekkkh....trakkkh...., Arya Permana melepas pegangan pedangnya, karena ia tak menyangka pedang yang di pakainya hancur terkena cengkeraman jari-jari Ki Seno Keling. Patahan pedang yang masih tercengkeram ia sabitkan ke arah kaki Arya Permana yang sedang berusaha mundur...sabitan pertama dapat ia hindari, tetapi sabitan yang kedua tepat menancap di pahanya....Crappph.....Akh..ada darah yang mengucur dan membasahi celananya, membuat Arya Permana jatuh terduduk sambil mendesis kesakitan.
__ADS_1
Ki Seno Keling tak mendiamkan begitu saja, ia melompat berusaha menendang kepala Arya permana. Arya Permana berguling menghindar sampai berhenti membentur sepasang kaki Ki Pandawa. Kaki itu dengan reflek mendorong punggungnya, karena itu mau tidak mau Arya Permana kembali mendekati Ki Seno Keling.
"Serahkan kembali kepadaku Ki!", aku akan memberikan kenangan padanya, Wiratama mendekat sambil menghunus salah satu pedang yang dia ambil dari prajurit yang sudah tewas, pedang itu di putar-putarnya di atas kepala Arya Permana, Claph.....claph....di putusnya kedua telinga Arya Permana, "Aaaakh.......jeritan kesakitan terdengar keras dari mulutnya, darah mengucur dari bekas luka tebasan pedang tersebut.
__ADS_1
"Arya Permana, kau membuatku kecewa, kemampuanmu ternyata di bawah prajurit biasa, kau tak tahu malu, menyandang jabatan yang tak sesuai dengan kemampuanmu"
"Hayoo kita tinggalkan dia Ki!"....kita berikan dia waktu buat berpikir, membuat alasan saat pulang...ha...ha....ha..." Wiratama berjalan santai meninggalkan kalangan pertempuran yang sudah dia menangkan.
__ADS_1