
Rengganis melanjutkan perjalanannya, tanpa di dampingi oleh Dewi Pramudita, karena menurut Dewi Pramudita petualangan adalah salah satu sarana bentuk pelatihan, setiap Rengganis membutuhkan, Dewi Pramudita akan hadir untuk memandu menyelesaikan permasalah yang ada.
Tidak ada penyesalan di hati Rengganis dengan apa yang telah terjadi, kekesalan dan kedongkolan malah semakin sarat mengikutinya.
Di dalam pikirannya berkecamuk kesal dan dendam kepada Raden Wisnu Wardhana, "Dasar laki-laki pembohong, katanya Cinta kepadaku, malah menginginkan aku berubah."
Bagi Rengganis, Cinta adalah identik dengan kepatuhan dan kesetiaan, jika memang Raden Wisnu cinta kepadanya, ia seharusnya memberikan kepatuhan dan kesetiaan kepadanya tanpa syarat. Itulah hakekat cinta menurut Rengganis.
"Huh...desh...Kresk..!" kerikil kecil di tendangnya, hampir saja mengenai Dua orang yang sedang beristirahat di bawah pohon rindang, seorang anak muda dan kakek tua yang sedang menikmati bekalnya.
"Pengemis sialan! kalian mengganggu perjalananku saja!" Rengganis menghardik keduanya.
"Nisanak, kau bukannya meminta maaf malah balik memarahi kami, apa maksudmu?" pemuda yang berwajah tampan dan terlihat gagah menegurnya. Tetapi kakek tua itu berusaha mencegahnya "Sudahlah Wira, duduklah kembali, tak perlu kau meladeni orang sinting yang sedang tersasar!"
"Kurang ajar kau kakek tua!...Hiaath...Desh...Desh...tendangan kaki Rengganis menyambar kepala, "Degh...Degh...kakek tua itu hanya mengibaskan salah satu tangannya dengan perlahan, tetapi kibasannya bukan hanya sekedar menahan tendangan Rengganis, ada angin santar yang membuat Rengganis terdorong ke belakang.
"Haiiikh...Sraaat....kelebat pedang Rengganis menyapu dari samping mengarah ke batang leher. "Heii...Nisanak, perilakumu sangat kasar dan tidak terpuji, sambil berkelit kakek tua memberikan teguran.
"Guru, izinkan aku saja yang meladeninya!"...
"He..he..he, beri pelajaran kepadanya Wira!"
__ADS_1
Kakek tua itu adalah Ki Sawung Galih yang sedang melakukan perjalanan bersama Wirayudha.
Wirayudha menghadang langkah Rengganis yang akan kembali menyerang Ki Sawung Galih. Pedang Rengganis kembali menyerang, kali ini dengan kombinasi sambaran menyilang dan tusukan.
"Plassh!...Plassh!...beberapa kali serangannya mengenai udara kosong, membuatnya semakin kesal dan mengeluarkan segala kemampuan, "Sraaarh....Sraaath!" Tubuh Wirayudha bergerak seperti ular, meliuk-liuk ke kanan dan kiri, di saat menghindari tusukan, tubuhnya bisa melenting ke belakang dengan lentur.
"Keparatttt! jangan hanya bisa menghindar kau!" Pedang Rengganis semakin membabi buta tanpa arah. "Keluarkan seluruh kemampuanmu Nisanak!" dengan tersenyum Wirayudha melayani serangan pedang.
"Hiaaath...Hiaath...Desh...Desh,..pukulan dan tendangan mengarah ke tubuh Wirayudha, tangan kiri Wirayudha menepis hanya dengan gerakan-gerakan ringan.
"Nisanak, apa kau tidak lelah mempergunakan pedangmu?"...Sindir Wirayudha yang membuat semakin panas telinga Rengganis.
"Pedangmu tidak berarti apa-apa Nisanak! aku akan membuktikannya!" Wirayudha tegap berdiri dengan lengan bersidekap di depan dada.
"Sraaath....Sraaath..Traanggg...Traaang!! terdengar benturan keras suara logam beradu.
Pedang Rengganis mengenai kepala dan perut Wirayudha, bukannya pedang itu menancap, malah balik terpental dan terlepas dari genggaman.
Tubuh Wirayudha kemudian menghilang..Plassh....Sraathh....tanpa terlihat kini berada di belakang tubuh Rengganis yang masih condong ke depan setelah ia menyarangkan pedangnya ke tubuh Wirayudha, tanpa terlihat dan terasa oleh Rengganis ikat rambut kepangnya terbuka, membuat rambutnya terlepas berderai.
"Wira! cukup sudah bermain-main dengannya!' Ki Sawung berteriak memanggil Wirayudha, sedangkan Rengganis sendiri karena kesalnya dan kehabisan tenaga, duduk menjeplok di tanah.
__ADS_1
"Baik guru! aku kembali!" Wirayudha kemudian melangkahkan kakinya kembali ke bawah pohon untuk bergabung dengan Ki Sawung Galih dan melanjutkan makan bekal yang tertunda.
Belum juga Wirayudha kembali, terdengar suara tawa perempuan begitu dekat, kemudian munculah wanita cantik yang bersanggul.
"Hik..Hik.Hik...Bocah gagah! kita berjumpa kembali, bagaimana kabar Purbaya Ayahandamu?"
"Rengganis, bangunlah! kemampuanmu tidak sebanding dengannya!"
Wirayudha terperanjat, karena sosok wanita yang berada di depannya adalah Dewi Pramudita, yang selama ini dia benci sampai tulang berkarat. "Nyai Dewi, sangat kebetulan kita bertemu, kita harus lanjutkan pertarungan kita yang dulu tertunda.
Wajah Wirayudha sedari tadi terlihat santai, walaupun sambil menghadapi serangan-serangan dari Rengganis, tetapi saat melihat kembali Dewi Pramudita, wajahnya berubah menjadi bengis, terbayang di pelupuk matanya saat-saat Ayahnya terluka parah, dan tubuh Nyai Gendis yang tertusuk tombak hingga tewas.
"Grakkkh!.....Pekikan Naga Langit terdengar seiring tenaga dalam Wirayudha yang memuncak, sisik-sisik ular mulai melapisi kulit wajah dan tangannya.
Ki Sawung Galih mendekati Wirayudha "tahanlah perasaanmu Wira! Ksatria yang hebat adalah lelaki yang dapat mengalahkan amarah di tubuhnya sendiri!"
"Graaaakh!.... dari mulut Wirayudha menyembur api yang panas, menyambar mengarah Dewi Pramudita.
Dewi Pramudita menghindar sambil mendorong tubuh Rengganis menjauh.
"Blammm.....Blammmh...Bruugh!" gelombang api mengenai bukit rendah yang berada di seberang mereka.
__ADS_1
"Sabarlah Wira! kita harus mencari keterangan dulu darinya, siapa tahu ia mempunyai informasi yang penting untuk kita!" Ki Sawung galih berusah meredakan amarah Wirayudha.
"Hik..Hik...Hik..orang tua yang berada di sampingmu ternyata lebih bijak!"