Badai Di Gunung Ciremai

Badai Di Gunung Ciremai
Saraswati dan Wirayudha


__ADS_3

Sudah dua hari ini Saraswati berdiam di gua Hutan Dadap yang berada di ujung kampung Sampurna, pelarian yang ia lakukan bersama putranya belum berakhir. Saat-saat terjadi perampokan, ia sedang mengambil tanaman untuk obat yang berada di seberang sungai.


Tak di sangkanya Wirayudha yang terbiasa sudah tidur saat mentari mulai redup, Wirayudha merengek untuk ikut dengannya mengambil tanaman. Kedua orang tua Saraswatipun memaksa untuk mengajak Wirayudha ikut dengannya, saat itu dengan terpaksa Saraswati mengajak anaknya ikut.

__ADS_1


Sekembalinya dari mengambil tanaman obat, Saraswati melihat perampok-perampok itu datang, dan mengganas di kampungnya. membunuhi setiap orang yang lewat dan membakar rumah-rumah, serta menjarah barang-barang yang ada. Saraswati saat itu langsung membawa anaknya lari menyelamatkan diri setelah mendengar bahwa orang tuanya ikut tewas terbakar dari warga kampungnya yang berlari keluar dari pedukuhan tersebut. Berdua bersama anaknya ia berlari tak tentu arah, terpisah dari warga kampungnya yang ikut menyelamatkan diri. Sampai hari ini, dua hari setelah perampokan, Saraswati belum berani keluar dari gua tempat persembunyiannya. Saraswati tak menyadari Kampung Sampurna sangat jauh dari Jalaksana. Wirayudha mulai menangis kembali, menyadarkan Saraswati bahwa selama dua hari ini, ia hanya memberi Wirayudha putranya dengan minuman yang berada dekat di depan gua.


Di depan gua tersebut berada, terdapat sungai yang mengalir deras. Sepertinya aliran sungai itu berasal dari sumber mata air Grojokan Sewu yang berada di kaki Ciremai. Saraswati adalah perempuan kampung yang sederhana dan tak mengerti pengetahuan apapun, yang ia tahu sebagai perempuan tugas dan tanggung jawabnya adalah berbakti kepada suami dan merawat sang buah hati. Ia di persunting oleh Wiratama tujuh tahun yang lalu.

__ADS_1


Hari ini baru ia merasakan sesak, kebahagian terenggut darinya.Tangisan Wirayudha belum berhenti, tangan Saraswati membelai kepala putranya untuk menenangkan. "Diamlah nak, Ibu akan mencarikan makanan untukmu keluar, kau harus menunggu disini!", tangis Wirayudha berhenti, ia merangkul leher ibunya, "aku tak mau kau tinggalkan disini bu, aku ikut". Akhirnya Saraswati membawa anaknya keluar dari gua tersebut. Sesampai di depan gua, Saraswati kebingungan, apa yang harus ia lakukan?, selama ini ia tak pernah sedikitpun belajar mengenai Olah yudha dari suaminya, pengetahuannya selain memasak dan mencuci, ia hanya bisa meracik obat-obatan yang ia jual kepada para penduduk di pasar. Kepalanya berpaling ke kiri dan ke kanan, sesekali ia menatap ke kerimbunan pohon, dengan harapan menemukan buah-buahan yang dapat ia makan bersama anaknya. Disana ia melihat buah-buahan yang bergelantungan, Mangga, Rambutan, Pepaya yang sudah matang, kemudian ia berusaha naik, dengan susah payah akhirnya ia dapat mengambil buah-buahan tersebut, dan memakan bersama anaknya Wirayudha.


Saraswati tak menyadari dari kerimbunan pohon-pohon, ada sepasang mata yang sedang menatapnya. Melihat semua apa yang dia lakukan. Sosok perempuan tua yang berambut putih dengan wajah yang menyeramkan dan mata yang bersinar tajam, berdiri bungkuk dengan di topang tongkat kayu sebagai penompang tubuhnya yang renta.

__ADS_1


__ADS_2