
Satu pekan telah terlewati, andai saja Wiratama tidak mempunyai janji dengan Panglima Mandala Putra, ia masih menginginkan waktu lebih lama lagi untuk mengobati kerinduannya dengan Wirayudha. Akhirnya Wiratama pamit meninggalkan Parangtritis menuju ke padepokan Ki Wisesa, tidak lama kemudian Eyang Padasukma bersama Nini Sangga geni ikut meninggalkan Parangtritis, mereka berdua menuju lereng Merapi.
Nyai Gendis tetap tinggal di Parangtritis, sebenarnya jika saja dia di perbolehkan memilih, dia pasti akan lebih memilih untuk mengikuti Wiratama walaupun harus menghadapi seluruh bahaya yang akan datang. Sayang Wiratama tidak mengizinkannya untuk ikut. Untuk menghibur hatinya Nyai Gendis ikut melatih Wirayudha.
Setelah menempuh perjalanan selama satu hari, Wiratama menemui Ki Wisesa di padepokannya, karena waktu untuk berkunjung belum tiba, akhirnya Wiratama menggunakan waktu tersebut untuk berkeliling di Kotaraja untuk mencari informasi tentang Arya Permana.
Suasana masih pagi dan cerah saat Wiratama memasuki sebuah kedai, belum banyak tamu yang bekunjung disana, Kopi dan rebusan pisang telah di pesan, Wiratama memilih tempat duduk yang berada di dekat jendela dan menghadap ke arah pintu masuk.
tidak menunggu waktu lama, pesananpun telah tiba, "Silahkan Nden, mumpung masih hangat! seorang pelayan merapihkan meja Wiratama dan menaruh gelas bambu yang berisi kopi, dan beberapa pisang rebus di depannya. Sruuf....."akh...nikmatnya kopi ini mengingatkanku kepada Saraswati, kenangan-kenangan bersama Saraswati terlihat di pelupuk matanya, membuat Wiratama tenggelam dalam lamunan masa lalu.
__ADS_1
Tanpa sempat terlihat oleh Wiratama, sosok laki-laki yang berpakaian hitam dengan ikat kepala kulit ular pun masuk ke dalam kedai itu dan memesan minuman serta makanan yang sama, kegugupan terlihat di wajah pak tua pelayan saat melihat bola mata pengunjung itu sampai-sampai menjatuhkan gelas bambu yang dia bawa, "Ha...ha...ha, kenapa kau kakek tua?" suara serak dan berat terdengar menegur. Dengan terburu-buru pelayan itu membereskan kembali gelas yang tadi terjatuh "maaf Aden, tadi kakiku terpeleset.
Suara dentang gelas jatuh dan percakapan, membuat Wiratama tersadar dari lamunannya, dia pun melirik ke arah laki-laki yang sedang duduk dan minum kopi di meja sebelahnya.
'Tubagus Wiraguna'... yaa... dialah pria yang sekarang duduk di meja sebelah Wiratama, senyum seringgai saat tatapannya beradu dengan Wiratama.
"Anak muda, siapakah kau?" Tubagus Wiraguna mendahului melemparkan pertanyaan. Sebelum menjawab Wiratama mendekat dan berdiri di sampingnya, menjura memberikan penghormatan "aku Wiratama Kisanak, mohon maaf jika aku tak memberikan penghormatan kepada saudara tua yang berada di sekitar sini". "Hmm...dari namamu kau bukan dari golongan darah kami, anak muda!" mari kita pergi ke tepi barat Kotaraja ini, aku ingin mengenalmu lebih jauh".
Setelah menghabiskan makanan dan minuman, kemudian keduanya berkelebat pergi bersama-sama menggunakan Menjangan kabut, dengan singkat keduanyapun sampai di pedataran rumput yang luas tanpa ada orang lain yang hadir.
__ADS_1
"Wiratama, dari tanda-tanda yang ada padamu, kau satu rumpun dengan kami!, tetapi aku harus memastikan terlebih dahulu!"
"Graaaaumh"...suara auman terdengar dari Tubagus Wiraguna, suara itu keras menggema membuat tanah yang di pijak bergetar dan membuat kerikil-kerikil beterbangan, Wiratamapun menunjukan hal yang sama membuat sekeliling mereka menjadi berdebu seperti terkena badai topan yang besar. Terlihat bola mata Wiratamapun sekarang menjadi putih tanpa tanda hitam.
Jika saja ada yang menyaksikan penampakan keduanya, terlihat keduanya seperti Harimau yang sedang berhadapan, wajah-wajah mereka tumbuh bulu-bulu loreng, kuku-kuku jari merekapun mencuat tajam, saat keduanya saling menyeringaipun terlihat taring-taring di giginya.
"Hiaaath....Wush...wush....brakh....brakh....keduanya meloncat ke depan saling serang, lengan-lengan kuat beradu membuat suara yang menggidikan, "Graaaaumh......Tubagus Wiraguna meloncat menerkam ke arah Wiratama dengan kuku-kuku yang tajamnya, kali ini Wiratama menunjukan kemampuannya dengan sungguh-sungguh, tangan-tangan yang mencoba menerkamnya di tepis dengan kedua tangannya pula, "Brakh...brakh...terdengar benturan kembali dari kedua lengan mereka. Kali ini Wiratma yang mencoba menerjang dengan kedua tangannya ia mencakar secara menyilang, "Graaaumh.....Wuush...wush....cakaran itu tidak di elakan atau di hindari oleh Tubagus Wiraguna, "Shet....shuth.....cakaran Wiratama membeset tubuh, tetapi hanya membeset angin. "Graaakh.....graaaumh....Tubagus Wiraguna mengaum seakan-akan menertawai serangan Wiratama. Ia pun bersiap kembali menyerang Wiratama yang baru saja memperkokoh kuda-kudanya, kali ini Tubagus Wiraguna yang menerkam, mencabik...dan mencakar, ternyata tubuh Wiratamapun kali ini tak dapat di sentuh, serangan-serangan itu menerpa udara-udara kosong.
" Grrrhk....ternyata kau pun memiliki Macan Lodaya tingkat menengah" terdengar gerengan suara dari Tubagus Wiraguna. Keduanya bersiap kembali akan saling menyerang.
__ADS_1