
Rengganis berdiri kembali dan memgambil pedangnya "Tua bangka! rasakan ini!" Hiaaath....Swuuutth...swush...mata pedang Rengganis mengarah leher Ki Seno Keling, "Trakh....trakh...!" Mata pedang membalik karena leher Ki Seno Keling ternyata kebal dan sekeras batu.
"Bocah! kau tidak tahu diri, tidak cukup hanya dengan keangkuhan, kau menjadi yang terhebat!"
Karena kesal kepada Rengganis yang berkepala batu dan tidak menyadari kemampuan sendiri, Ki Seno Keling melompat dan merebut pedang, hanya dengan sedikit gerakan, Ki Seno Keling dapat mengambil alih pedang Rengganis.
"Hrrr.....trak...trak...pedang itu di patahkannya hanya dengan jari. "Swuuth...Clap..clap patahan pedang di lemparkannya tepat di depan Rengganis.
Nini Sampur mendekati Ki Seno Keling, "Sudahlah Ki! ia hanya anak-anak yang tidak tahu sopan santun, maafkanlah dia!"
"Kau dengar bocah! pergilah sebelum aku berubah pikiran!"
Melihat kemampuan lawannya yang jauh di atas jangkauan, dengan terpaksa Rengganis segera beranjak pergi.
"Nisanak, aku sengaja mencarimu, untuk mendapatkan petunjuk darimu!" Ki Seno Keling menatap Nini Sampur dengan wajah serius.
"Sebelumnya aku mengucapkan terimakasih kepadamu Ki, telah membantuku dari bocah nakal tadi!" Nini Sampur kemudian mengajak Ki Seno Keling masuk ke gubuknya.
Setelah keduanya berhadapan Ki Seno Keling mengutarakan tujuannya "Aku sedang mencari Junjunganku Ni! semoga dengan kemampuan meramalmu, aku bisa mendapatkan petunjuk!"
__ADS_1
"Hik...hik..hik, kemampuanku sebenarnya tidak seberapa Ki! tetapi...baiklah, katakan kepadaku siapa yang kau cari?"
"Aku sedang mencari Junjunganku Ni, ia bernama Wiratama!"
Nini Sampur terkejut dengan apa yang di ucapkan Ki Seno, ia terdiam seribu bahasa.
"Junjunganku seorang Senopati Mataram yang gagah perkasa, tetapi karena sesuatu hal, kejadian buruk menimpa kepadanya, hingga sampai dengan saat ini... hilang tidak tentu rimbanya, tolonglah Ni..bantu aku untuk menemukannya!"
Nini Sampur dan Ki Seno Keling Keduanya kemudian berdiam diri.
"Katakan kepadaku Ki! apa hubunganmu dengan Wiratama hanya sekedar seorang bawahan, apakah ada hubungan yang lain?"
Setelah lama mengamati Ki Seno Keling dan dirinya merasa yakin, akhirnya Nini Sampurpun berterus terang tentang dirinya. bercerita tentang dirinya dan Wiratama, sampai ia melarikan diri untuk mencari tambatan hatinya. Untuk meyakinkan Ki Seno Keling, Nini Sampur membuka penyamarannya. "Begitulah Ki jalan ceritanya sampai kami terpisah!"
"Gusti Putri, kisah hidupmu menggugah hatiku, bagaimana jika kau ikut dengan kami ke Parangtritis, untuk menunggu sampai dengan berjumpa kembali dengan Raden Wiratama? apakah kau bersedia?"
Akhirnya Nini Sampur menyetujui usulan Ki Seno Keling, setelah berkemas keduanya pergi menuju Parangtritis.
*Parangtritis**
__ADS_1
Debur ombak di Pantai Parangtritis terlihat sedang kencang, ujung ombak seperti kepala Naga-naga yang meliuk dari bawah ke atas dan saling berkejaran.
Ada pemandangan yang sangat aneh terlihat di permukaan ombak, sosok pemuda yang berwarna kulit agak gelap sedang berloncatan di atas permukaan air, ujung-ujung kakinya menyentuh gulungan ombak, tetapi tidak membuatnya tenggelam.
"Grhaaaaa.....Blarh...Blarrrh!!!, kedua tangannya berputar-putar, kemudian di angkatnya dari bawah ke atas dengan mengeluarkan suara mirip gaung yang keras, air laut yang tadi bergelombang, kini berputar mengikuti putaran tangannya, membentuk pusaran air yang kemudian naik ke atas udara. bergulung-gulung membentuk Pusaran Ombak tornado.
"Wirayudha, hentikan latihanmu!" terdengar suara teriakan yang bergema sampai terdengar di sekitaran pantai, mengalahkan suara deburan ombak yang sedang menggila.
Pemuda yang di panggil dengan Wirayudha tersebut, melompat ke atas...kemudian terjun ke dalam air, terlihat luncuran tubuhnya dengan cepat menuju tepian pantai. Setelah sampai di tepian kemudian Wirayudha meloncat berjumpalitan dan medarat di hamparan pasir pantai.
Di hadapan Wirayudha berdiri Empat sepuh yang masih terlihat gagah, Ki Bondan Wiratama, Ki Pandawa, Nini Sangga geni, dan Ki Sawung.
Ki Bondan Wiratama tersenyum menyambut Wirayudha dengan penuh semangat "Wira, Ilmu Kanuragan yang kau peragakan tadi sangat memukau, membuat Eyang semakin takjub kepadamu!"
"Terimakasih Eyang, ini berkat pelatihan yang Eyang berikan kepadaku!"... kemudian Wirayudha berpaling kepada ke 3 gurunya yang lain, "Aki dan Nini terimakasih berkat kalian 'aku menjadi semakin kuat.
Di saat wajahnya berpaling kepada Nini Sangga geni, terlihat permukaan kulit Wirayudha bersisik dari wajah sampai ke kaki-kakinya, tetapi sisik yang menyerupai sisik ular itu kini berwarna bening transparan, pertanda ilmu Naga Langit yang di kuasainya sudah mencapai kesempurnaan. "Nini aku telah menyelesaikan dan menguasai seluruh isi dari Kitab "Candra Surya" dan ilmu dari Kitab "Sasra Sahasra" tanpa harus dengan kehilangan anggota tubuhku! lihatlah!"
"Zzzz....zzzz..zzzh, Kraaakh!"....Wirayudha mendesis dan berteriak, tidak lama kemudian, dari arah laut terlihat ular-ular melata bergerak menyusuri permukaan air dan berhenti mengelilingi Wirayudha dengan sikap bersiaga seperti menunggu perintah.
__ADS_1
Dari daratanpun kemudian bergerak ular-ular besar begabung mengelilingi Wirayudha, mereka bukan hanya mengelilingi, ada beberapa yang terlihat paling besar kini melingkar dan bergelayut di tubuh Wirayudha.