Badai Di Gunung Ciremai

Badai Di Gunung Ciremai
Pertarungan Macan Lodaya


__ADS_3

Cring....cring...Tubagus Wiraguna memejamkan matanya, dari sepasang tangannya mencuat kuku yang memanjang dan berwarna hitam legam, lebih tajam dari yang tadi, "Haiiikh, tangan kanannya menusuk dengan kuku-kuku yang memanjang, "Breth....breth..baju Wiratama tergores oleh serangan itu, sedikit kulitnya pun ikut tergores, dengan rasa perih yang tertahan, Wiratama mundur untuk menyiapkan serangan lanjutan, terlihat dari goresan lukanya menetes darah membasahi bajunya.


Wiratama meraba luka akibat goresan itu, tak lama kemudian tetesan darah itu berhenti dan lukanya menutup kembali, "Graaaumh, wush...trang..trang, kuku-kuku panjang mereka yang mencuat beradu, terdengar suara detingan seperti suara logam beradu, puluhan jurus berlalu, belum ada yang terlihat siapa di antara mereka yang terdesak, luka-luka akibat goresan yang mereka alamipun sama-sama dapat menutup sendiri.


Tubagus Wiraguna melenting ke belakang, kemudian ia berdiri menatap Wiratama, "ternyata kau mampu menandingiku sampai sejauh ini" , "Hadapi Aji pamungkas Macan Lodayaku! "Graaauuuum,...Tubagus Wiraguna menarik kedua tangannya ke samping, wajahnya mendongak ke atas, aumannya terdengar keras susul menyusul, setelah teriakannya selesai, terdengar balasan auman Harimau dari beberapa penjuru. "Graaumh....graaumh...terlihat di belakang dirinya, bayangan Tujuh ekor Harimau besar yang siap menerkam Wiratama, "Ha...ha...ha, ini ilmu pamungkasku Wiratama, apakah kau akan tetap mencoba menghadapiku?" Wiratama memundurkan badannya, kemudian berjongkok, tangan kanan dan kiri berada di samping badannya, "Graaauumh....Kraaaakh, suara aumannya terdengar lebih keras, kemudian muncul di belakang tubuhnya Tujuh ekor Harimau yang siap menerkam juga.

__ADS_1


Tujuh ekor harimau itu mengelilingi Wiratama, dan kemudian serempak mendekat, menjilati tubuh Wiratama.


Setelah melihat pemandangan yang berada di depannya, wajah Tubagus Wiraguna yang tadi terlihat angkuh, perlahan mulai menampakan keterkejutannya "Arkh...tidak ku sangka, ternyata kau memiliki Macan lodaya dengan sempurna" saat mengatakan demikian sedikit-sedikit bayangan Harimau yang berada di belakangnya menghilang seperti terbawa angin, begitupun dengan Wiratama, hanya saja perbedaannya, harimau yang berada di belakang Wiratama lebih nyata, mereka perlahan berjalan menjauh meninggalkan arena pertarungan


"Aku Tubagus Wiraguna, mengakui ilmu yang kau miliki lebih sempurna daripada yang kumiliki, "Wiratama, kemarilah! aku tak mengira dengan kemampuanmu", kemudian mereka berdua duduk berhadapan.

__ADS_1


"Pantas saja kau begitu sempurna saat menggunakan ilmu itu, lalu apa yang kau lakukan di Mataram ini?" , Wiratama tidak menjelaskan secara jujur apa yang sedang di lakukannya, "aku hanya sedang menimba pengalaman saja Kakang" seperti biasa Wiratama tidak banyak bicara, "kalau begitu bagaimana jika kau ikut bergabung denganku? aku yakin dengan kemampuanmu kau bisa mendapatkan kedudukan yang mudah di Mataram ini", Tubagus Wiraguna menawarkan bantuannya.


"Jika kau mau, kau ku ajak bergabung di Pasukan Bayangan di bawah pimpinan Panglima Utama Mandala Putra, kau pasti akan di terima dengan senang hati oleh beliau!" bagaimana Wira?", " terimakasih atas tawaranmu Kakang, saat ini aku belum siap untuk di perintah siapapun, aku masih ingin berkelana, menikmati teduhnya langit dan dinginnya air sungai", Wiratama menolak secara halus. "Hua...ha...ha, Kau memang pendekar sejati saudaraku! menyukai kebebasan di alam terbuka", Tubagus Wiraguna tertawa terbahak - bahak,


"Wiratama aku sedang menjalankan tugas, menyusup di dalam pasukan yang beroperasi di wilayah barat, karena pasukan ini sedang menyusun rencana, untuk menggulingkan Mandala Putra sebagai Panglima Utama, Kenapa aku ingin kau bergabung?, karena sekarang ia sudah merekrut pendekar-pendekar golongan hitam untuk menjadi sekutunya. Wiratama mendengarkan dengan serius apa yang di bicarakan oleh Tubagus Wiraguna, "apa yang kakang maksud pasukan Arya Permana?", "Benar Wira, apakah kau mengetahuinya?" Tubagus Wiraguna menatap dengan penuh selidikan kepada Wiratama, "akh..kau tak perlu mencurigaiku kakang, apa yang ku tahu hanya sekilas saja, yang menjadi obrolan-obrolan di kedai saja". "Aku mempercayaimu Wira! mungkin nanti aku sepertinya akan membutuhkan bantuanmu, karena para pendekar yang berada di belakang Arya Permana, tidak seperti yang terlihat saat ini di rumahnya, saat ini aku sedang menyelidiki, sebenarnya seberapa kuat ia menyusun pasukan dari kalangan pendekar".

__ADS_1


"Aku akan membantumu kakang, tetapi tidak harus bergabung dengan pasukan, aku akan membantumu menyelidikinya". "Terimakasih Wira", sementara ini aku ingin menyadarkan Ki Danang, agar ia tidak terjerumus tipu daya dari Arya Permana.


__ADS_2