Badai Di Gunung Ciremai

Badai Di Gunung Ciremai
Jejak Wiratama


__ADS_3

Wiratama memandangi puluhan pusara di depannya, pagi itu dia bersama pengawal dan warga yang di temukan selamat dari pembantaian perampok, menguburkan puluhan mayat-mayat warga kampung Jalaksana yang terbunuh.


Berkecamuk beberapa permasalahan di dalam pikirannya, kesedihan, kekhawatiran, dan tanda tanya besar yang meliputi di kepalanya. Kesedihan yang ia rasakan melihat pusara kedua mertuanya yang selama ini baik dan selalu menasehati tentang kebaikan kepadanya dan yang membuat hatinya tentram selama ini, walaupun jauh dari tempat kelahirannya sendiri.


Kesedihan Wiratamapun bertambah karena warga yang baru dikuburkan, banyak yang ia kenal dengan dekat. Kekhawatiran yang muncul di kepalanya karena sampai dengan saat ini Ia belum menemukan istri dan anaknya, entah mereka masih hidup atau sudah tewas.

__ADS_1


Beberapa pertanyaan yang menghinggapinya sampai dengan saat ini, "kenapa kampungnya sampai bisa terjatuh hanya karena delapan perampok yang ia temukan?" padahal kemampuan kanuragan dari perampok-perampok tersebut tidaklah terlalu tinggi jika di bandingkan dengan penjaga-penjaga kampung yang ia tugaskan untuk menjaga selama dia pergi ke Luragung, "aku baru ingat, salah satu perampok itu sempat menyebutkan namaku dalam pengancaman untuk pembalasan", siapa junjungan yang mereka maksudkan?" Wiratama duduk di sebongkah tanah yang menonjol ke atas depan pusara-pusara yang masih baru, renungannya kembali ke masa lalu yang sudah terlewat.


Wiratama adalah seorang pria yang gagah dan perkasa, matanya seperti mata elang tajam dan menusuk siapapun yang memandang, tingginya lebih daripada ukuran satu tombak saat di berdirikan, tubuhnya tegap dan berotot, kedua rahangnya kokoh, hidungnya mancung, dan alisnya hitam mencorong, rambutnya panjang sebahu, ia ikat dengan kain selendang bercorak mega mendung yang ia peroleh dari selendang kesukaan istrinya.


Sepuluh tahun yang lalu ia masih menjadi salah satu Senopati di Mataram, tak pernah terkalahkan dalam pertempuran manapun, olah kanuragan dan olah batinnya tinggi. Jika dalam medan laga pasukan Mataram terdesak, ia akan menghadapi langsung Panglima musuh, dan selama ini, dengan kemampuannya, tak ada musuh yang tak terkalahkan.

__ADS_1


Wiratama muda meninggalkan semua yang dia raih saat itu. Dari nasehat gurunya Eyang Padasukma di lereng Merapi, ia di sarankan untuk berkelana ke Tatar Sunda. Hingga akhirnya Wiratama menjadi seorang Akuwu di Jalaksana. Ketentraman dan kedamaian lebih ia utamakan daripada pangkat dan kedudukan.


Tapi saat ini ketentraman dan kedamaian itu sirna. kehilangan orang-orang yang ia cintai dan sayangi, dengan tekad yang bulat Wiratama akan kembali berkelana untuk mencari Istri dan anaknya.


Pembangunan kampung dan kedudukan Akuwu ia serahkan kepada Brodin, sekaligus untuk melaporkan peristiwa yang terjadi di Jalaksana ke Adipati Luragung. Karena peristliwa-peristiwa pahit yang dialaminya, mulai sekarang ia bertekad akan membuang jauh-jauh segala yang berhubungan dengan kepangkatan ataupun kedudukan sekecil apapun. Ia hanya ingin kehidupan yang normal, menjadi seorang petani ataupun tabib, asalkan bersama orang-orang yang dia cintai.

__ADS_1


Keesokan harinya tanpa pamit kepada Brodin dan yang lain, ia mulai berkelana untuk mencari istri dan anaknya Wirayudha.


__ADS_2